LHOKSUKON – LSM Centre for Information of Samudra Pasai Heritage (Cisah) bersama prajurit Detasemen Perhubungan Korem (Denhubrem)-011/Lilawangsa dan sejumlah warga menggelar meuseuraya di kompleks makam mu’allim (navigator kapal) era Samudra Pasai, di Gampong Glong, Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara, Senin, 15 November 2021.
Meuseuraya (gotong-royong) untuk memotong rumput liar dan belukar, menimbun dan merapikan tanah makam serta memasang pagar kompleks pemakaman tersebut.
Kegiatan diawali dengan doa bersama dipimpin Tgk. Muhammad Nisam dari Cisah, dilanjutkan peusijuek para peserta meuseuraya oleh Tgk. Idris, tokoh agama di Kecamatan Syamtalira Bayu.
Wakil Ketua CISAH, Sukarna Putra, dalam sambutannya mengatakan potensi budaya dalam bidang sejarah di Aceh Utara sungguh luar biasa.
“Seperti yang berada di kompleks pemakaman zaman Samudra Pasai ini. Dari sembilan makam yang bersemayam di sini, tujuh di antaranya memuat epitaf (keterangan pemilik makam) yang merupakan keturunan dari tokoh yang bernama Barjan Al Hadashtan Khatib Husein. Makam pusara beliau berada di posisi bagian paling barat dari seluruh makam-makam lainnya,” ujar Sukarna Putra.
Hasil bacaan inskripsi oleh Peneliti Sejarah Islam (Epigraf), Taqiyuddin Muhammad, pada tahun 2014 diketahui bahwa pemakaman itu adalah pusara dari mu’allim zaman Samudra Pasai dari abad ke-14 sampai 15 masehi.
“Nama-nama tokoh yang telah berhasil diidentifasi selain Khatib Husein adalah Isma’il bin Barjan, Bab ibnu Paduka Mu’allim Thahud ibnu Barjan, Malik Thahud bin Barjan, Mu’allim Husein bin Barjan, Khatib Zainuddin ibnu Pangeran Ahmad bin Barjan, dan Nafisah bin Barjan,” ungkapnya.

Dandenhubrem-011/Lilawangsa, Letkol Chb. Dr. Subur Wahono, S.Sos., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan pemugaran nisan dan makam merupakan upaya yang sangat bagus untuk pelestarian dan menghubungkan puzzle yang terpisah sebagai gambaran besar tentang Kerajaan Samudra Pasai.
“Saya berharap pemugaran nisan keluarga aulia Barjan Al Hadashtan Khatib Husein menjadi langkah awal dalam memberi makna satu per satu puzzle keemasan Samudra Pasai, sehingga dapat kita ceritakan secara utuh dengan bukti kenyataan,” tutur Subur Wahono.
Subur berharap ke depan katalogisasi dalam bentuk kumpulan kompleks nisan bisa dilakukan. “Untuk apa, untuk pembelajaran lanjutan bagi peneliti bidang sejarah dan masyarakat luas bisa mengenalnya secara utuh, nyata, dan mendatangi lokasi sesuai isi buku. Saya siap tergabung untuk upaya katalogisasi tersebut,” ujarnya.
“Dan sebuah penghormatan bagi prajurit TNI AD yang berada di wilayah Korem-011 Lilawangsa bisa turut serta melakukan pelestarian bersama LSM Cisah dan masyarakat. Ini merupakan hal positif di mana bentuk pengabdian kita kepada pahlawan dan ulama terdahulu,” tambah Subur.
Subur merasa puas dan bangga bisa melihat dan mendengar secara langsung dibacakan inskripsi tinggalan Samudra Pasai yang telah berkalang abad itu.
“Ini merupakan data primer dalam penulisan sejarah. Kami harapkan ke depan giat (kegiatan) ini bisa kembali dilakukan di lokasi lainnya,” ucap Subur.

Cisah mengetahui keberadaan nisan atau kompleks makam tersebut setelah menerima laporan dari Tgk. Nasir akrab disapa Apa Syin, warga Glong sebagai informan Cisah, pada tahun 2014 silam. Ia menargetkan akan melakukan penimbunan, peninggian batu nisan serta memagarinya.
Apa Syin yang merupakan adik dari pemilik lahan sangat berharap kepada dinas terkait di Pemkab Aceh Utara segera melakukan pemugaran kompleks pemakaman itu sebagai warisan sejarah. Keluarganya telah menghibahkan lahan itu untuk Pemkab Aceh Utara demi kepentingan pelestarian, karena ia menilai para navigator inilah yang diutus Sultan Samudra Pasai untuk memperluas Islam ke seluruh Asia Tenggara.
Sementara itu, selepas istirahat siang, tim meuseuraya dikunjungi Terpiadi A. Majid, anggota DPRK Aceh Utara, yang merasa penasaran dengan tokoh Samudra Pasai tersebut yang belum banyak diketahui publik.[](*)







