Salah satu fenomena yang sering dilakuan oleh masyarakat dan juga kalangan dayah (pesantren) berupa tabarruk (ambil berkah/cok bereukat).
Tabarruk secara harfiah, berkah, bermakna bertambah atau berkembang. Sedangkan dalam terminologi bahasa bermakna bertambahnya kebaikan. Dalm hal ini cok beurkat atau tabarruk adalah mengharap tambahan kebaikan dari Allah Swt dengan perantara ruang, waktu, makhluk hidup dan bahkan benda mati.
Dalil Tabarruk
Perbuatan tabarruk bisa dilakukan dengan perantara tempat-tempat yang mulia, hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Swt berikut:
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia” (Q.S. ali Imran : 96)
Dalam sebuah hadits Rasulullah sawa bersabda : “Sesungguhnya Tuhan kalian di hari-hari kalian memiliki anugerah-anugerah, maka carilah augerah itu, mungkin kiranya salah satu diantara kalian mendapatkannya, maka tidak akan celaka selamanya.” (H.R Thabrani)
Tabarruk saat Nabi Masih Hidup
Dalam beberapa riwayat sebagai bukti bahwa para sahabat mulia Nabi yang tergolong salaf saleh mereka telah mengambil berkah dari Nabi Muhammad dengan menyentuh tubuh (jasad) Rasul, mencium tangan beliau, meminum sisa minuman beliau, mengambil sisa air wudu, memunguti rambut beliau, meminta berkah dari Rasul untuk bayi-bayi mereka dan lain sebagainya.
Imam al-Muslim dalam kitab Shahih al-Muslim jilid 1 halaman 164, bab Hukmu Bauli at-Thifl ar-Rodhi’ atau pada jilid 6 halaman 176, bab Istihbab Tahnik al-Maulud menjelaskan secara gamblang tentang prilaku para salaf saleh dalam mengambil berkah Rasul untuk anak-anak mereka.
Atas dasar itu, Ibnu Hajar dalam kitab al-Ishabah jilid 3 halaman 638 menjelaskan: “Setiap bayi pada masa hidup Rasulullah dihukumi sebagai pribadi yang telah melihat Rasul. Hal itu karena syarat-syarat terlaksananya kaum Anshar dalam mendatangkan anak-anak mereka kepada Rasul agar dipeluk dan diberi berkah (tabarruk) telah terpenuhi”. Hingga dikatakan: “Sewaktu Makkah ditaklukkan (fath), para penghuni Makkah pun berdatangan kepada Nabi dengan membawa anak-anak mereka supaya dapat dibelai (diusap) kepalanya oleh beliau yang lantas beliau doakan”.
Sementara itu dalam sebuah hadis dari Ummu Qais berbunyi: “Suatu saat beliau mendatangi Rasululah dengan membawa serta anaknya yang masih kecil, yang masih belum memakan makanan. Lantas Rasulullah meletakkanya di pangkuannya. Tiba-tiba anak itu kencing di pakaian beliau. Kemudian beliau meminta air dan menyiramkannya (pada pakaian) dan tidak mencucinya”. (Kitab Shahih al-Bukhari jilid 1:62 kitab al-Ghasl, Kitab Sunan an-Nasa?i jilid 1 halaman 93 ).
Dalam hal ini Syekh Ibnu Hajar berkata: “Dari hadis di atas memberikan beberapa pengertian; Penekanan akan pergaulan secara baik, rendah diri (tawadhu?), memeluk anak bayi dan pemberian berkah dari pribadi yang memiliki kemuliaan, dan membawa anak kecil pra dan pascalahir.” (Lihat Kitab Fathul-Bari jilid 1:326 k).
Sementara itu dari Ummul Mukminin Aisyah: “Dulu, Rasulullah selalu didatangkan bayi (kepadanya) yang kemudian beliau peluk mereka untuk diberi berkah“ ( Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal:7 :303 ).[]





