BANDA ACEH –  Cut Raisa Prillya, alumni Tarbiyah Ten Unmuha, memiliki motivasi terbesar pada setiap wanita. Gadis cantik ini selalu menanamkan mindset; “wanita itu harus pintar”. Sejak SMP, Raisa sudah mulai berguru. Ketika SMP, Raisa dan kawan-kawan membuka sekolah bagi anak-anak pemulung.

Saat duduk di bangku SMA, ia menjabat sebagai wakil ketua OSIS, ketika menduduki SMA di Medan, Raisa mulai mengajar kursus bahasa Inggris, masa SMA-nya tersebut yang membangkitkan semangatnya menjadi pengajar, Raisa mulai memainkan passion-nya sebagai MC sejak SMA.

“Sering jadi MC pada acara band-band lokal di kota Medan,” ujarnya.

Berhubung penugasan pekerjaan orang tuanya, Raisa ikut keluarga kembali ke tanah Aceh. Raisa melanjutkan studinya sebagai mahasiswi Tarbiyah Ten Unmuha dan Sosiologi FISIP Unsyiah, setahun Raisa mengayomi kedua jurusan tersebut, dan menjadi penyiar OZ Radio sejak 2012 hingga saat ini.

Selain penyiar, Raisa aktif sebagai jurnalis/wartawati Atjeh Post pada 2013-2014. Dengan mampu memanage waktu, katanya, maka kita mampu menghandle apa pun yang ingin kita lakukan.  

Pada 2015, banyak keinginan Raisa yang dapat dicapai sesuai target, di antaranya, mampu lulus dengan predikat cumlaude, IPK cumloude, menjadi presenter pada TVRI, “dan marketing BANK BNI di Batoh,” katanya.

“Saya bisa mendapatkan semua ini karena usaha dan do’a, dan terus belajar dari kesalahan hingga menjadi benar, karena kita gak akan pernah benar, kalau kita ga pernah salah,” kata Raisa, panggilan akrabnya, anak dari pasangan T. Hamid. TA. Dan Raihan Putri.

Dara kelahiran Banda Aceh, 17 April 1993 ini selalu punya keinginan besar untuk terus bersekolah, ia masih sangat berharap dapat terus belajar.

“Wanita itu harus cerdas, sekolah setingginya-tingginya, karena wanita yang cerdas juga akan melahirkan anak yang cerdas, dan keunggulan wanita cerdas itu akan terlihat melalui kecantikan batinnya, wanita tidak butuh kecantikan, tapi wanita butuh kecerdasan,” jelas Raisa.

“Ingin kuliah di Amerika, di manapun kampusnya, namun baru-baru ini timbul ketertarikan pada Australia, dan berhubung saat ini sedang bekerja, jadi inginnya kuliah di dalam negeri, bagi Raisa S2 itu wajib, fardu ai’n. Prioritas di 2016 S2,” ujar Raisa.

Saat ini ia memiliki bisnis, Rumoh Florist yang beralamat di Lamnyong, Darussalam, Banda Aceh.

“Malam saat pulang ke rumah harus mengontrol dulu, berapa pemasukan, bagaimanapun berkarir di luar, saya tetap melanjutkan bisnis orangtua yang diamanahkan untuk Raisa,” katanya.

Selain penyiar di radio OZ Banda Aceh, Raisa juga mengajar sebagai asisten dosen di Universitas U’budiyah.

“Beberapa hari sebelum mengajar, mempersiapkan bahan ajar, dan mengatur apa-apa yang akan dikerjakan untuk hari ini, jadi semuanya menjadi prioritas tanpa ada yang ditinggalkan,” ujarnya.

Si cantik yang hobi browsing ini tetap meniatkan melanjutkan S2 pada 2016 ini, meskipun tidak keluar negeri.

“Soalnya keterlambatan S2 dapat menunda pernikahan. Saya menargetkan, seperti kuliah harus tamat cumlaude, begitu pula dengan kuliah S2.”

Penggila cokelat panas ini menyatakan, dirinya sering ke warkop, tak perlu ditemani teman-teman, sendiri pun jadi untuk menjalani hobi browsing. Keinginan satu lagi bermain biola, tapi belum ada waktu.

Ia menceritakan pengalamanya saat mengajar di kursus waktu masih SMA. Ia harus berdandan setua mungkin agar tidak terlihat seperti anak SMA.

“Soalnya di situ kan ada mahasiswa juga, jadi tidak mungkin mengajar abang leting,” katanya.

Raisa yang mencintai kegiatannya sebagai pengajar dan tetap konsisten menekuni karirnya sebagai asisten dosen, meskipun sudah bekerja sebagai marketing. Ia pun terus mempertahankan passionnya dan hobinya dalam mengajar dan menyiar.

“Saya berhenti sebagai jurnalistik lantaran aktivitas yang begitu padat, namun saya tetap akan menulis, hanya saja tidak menjadi seorang wartawati, menulis tetap menulis, karena tulisan kita itu akan tetap dikenang,” ujar Cut Raisa Prillya, yang diwawancarai di Tanabata Cafe, Banda Aceh.[](tyb)