Rabu, Juli 24, 2024

Tinjau Venue PON XII,...

SIGLI - Pemerintah Kabupaten Pidie meminta rekanan terus memacu pekerjaan tiga venue yang...

Wali Nanggroe dan Mualem...

JAKARTA – Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haythar...

Balai Syura: Perempuan Aceh...

BANDA ACEH - Balai Syura Ureung Inong Aceh dan seluruh elemen gerakan perempuan...

Pemko Subulussalam dan Pemkab...

SUBULUSSALAM - Pemerintah Kota (Pemko) Subulussalam menjalin kerja sama atau MoU dengan Pemerintah...
BerandaDampak Banjir Produktivitas...

Dampak Banjir Produktivitas Sawit Aceh Selatan Menurun

TAPAKTUAN – Dampak bencana banjir yang melanda Kabupaten Aceh Selatan khususnya wilayah Kecamatan Trumon Raya beberapa waktu lalu mengakibatkan menurunnya produktivitas sawit di daerah tersebut. Kondisi ini sangat merugikan petani setempat karena kenaikan harga Tandan Buah Segar (TBS) yang mencapai Rp 1.700/Kg tidak didukung dengan hasil produksi yang maksimal.

“Banjir besar yang melanda wilayah Trumon Raya beberapa waktu lalu mengakibatkan kelapa sawit yang sudah berproduksi terendam air selama 3 hingga 4 hari sehingga mengakibatkan TBS membusuk. Kondisi ini secara otomatis mengakibatkan menurunnya produktivitas sawit,” kata Camat Trumon Timur T Masrizar di Tapaktuan, Senin, 16 Januari 2017.

Mengingat sangat luas lahan perkebunan sawit yang terendam banjir, kata dia, maka penurunan hasil produksi komoditas tersebut sekarang ini mencapai 50 persen dari kondisi normal.

Untuk kembali lagi seperti kondisi normal, sambung Masrizar, petani setempat harus menunggu selama 7 bulan ke depan. Itupun jika bencana banjir luapan tidak terulang lagi. Rentang waktu selama 7 bulan tersebut, bukanlah waktu yang singkat bagi petani setempat. Sehingga untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari mereka terpaksa mencari pekerjaan sampingan.

“Khususnya di wilayah Kecamatan Trumon Timur mayoritas lahan yang tersedia sudah ditanami sawit sehingga sangat sulit dijumpai lahan persawahan. Artinya bahwa mayoritas masyarakat sudah menggantungkan mata pencahariannya di sektor perkebunan sawit. Maka ketika dihadapkan pada persoalan bencana banjir yang mengakibatkan hasil produksi sawit mereka menurun drastis, maka secara otomatis juga berdampak terhadap perekonomian, apalagi harus menunggu selama 7 bulan ke depan untuk kembali ke kondisi normal,” katanya.

Karena itu, pihaknya mengharapkan kepada Pemkab Aceh Selatan dan Pemerintah Aceh segera mencari solusi untuk menyelesaikan persoalan banjir luapan yang saban tahun selalu menimpa masyarakat di wilayah Trumon Raya. Sebab bencana banjir di wilayah tersebut selain diakibatkan tingginya intensitas curah hujan sehingga meluapnya daerah aliran sungai juga disebabkan banjir kiriman dari kabupaten tetangga seperti Aceh Tenggara, Subulussalam dan Aceh Singkil.

“Dalam menanggulangi bencana banjir di Trumon Raya tersebut, Pemerintah Aceh harus menjalin koordinasi secara maksimal dengan beberapa pemerintah daerah terkait sehingga penanganannya dapat dilakukan secara komprehensif. Dengan penanggulangan secara menyeluruh tersebut diyakini akan mampu mengatasi banjir kiriman yang sering terjadi selama ini,” pintanya.

Di bagian lain, T Masrizar menyatakan kenaikan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit sebesar Rp 400/Kg yakni dari Rp 1.300/Kg menjadi Rp 1.700/Kg sejak beberapa pekan terakhir, telah memacu para petani di Aceh Selatan lebih giat lagi menggarap lahan perkebunannya. Namun warga setempat tetap masih berharap kenaikan ini terus berlanjut hingga tembus Rp 2.000/Kg.

“Kenaikan harga TBS sawit ditingkat petani mencapai Rp 1.700/Kg disambut gembira oleh masyarakat Aceh Selatan khususnya Kecamatan Trumon Timur. Kenaikan ini di samping memacu semangat mereka untuk lebih serius lagi menggarap lahan perkebunannya juga mampu meningkatkan daya beli seiring mulai membaiknya tingkat perekonomian mereka,” kata T Masrizar.

Sebab, sambung Masrizar, di saat harga TBS sawit anjlok ke level Rp 900 /Kg para petani di Kecamatan Trumon Timur yang mayoritas mata pencahariannya bekerja sebagai petani sawit sempat frustasi. Mereka kehilangan semangat mengurus lahan karena antara biaya yang dikeluarkan untuk perawatan dengan pemasukan yang diterima tidak seimbang bahkan cenderung rugi.

Namun dengan naiknya harga TBS, semangat mengurus kebun sawit oleh para petani kembali tumbuh karena hasil produksi yang diterima mampu membawa keuntungan bagi mereka.   

“Meskipun demikian, para petani di Kecamatan Trumon Timur tetap berharap agar harga TBS sawit tidak lagi mengalami penurunan seperti sebelumnya. Bahkan mereka berharap harganya bisa tembus Rp 2.000/Kg. Harga sebesar itu sangat memungkinkan akan terwujud karena beberapa tahun lalu harga sawit sempat tembus sebesar Rp 1.900/Kg,” ujar T Masrizar.

Karena itu, pihaknya mendukung penuh langkah masyarakat setempat menggarap lahan yang ada menjadi perkebunan sawit agar ketersediaan lahan tidak didominasi penguasaannya oleh pihak perusahaan tertentu.

“Kami pikir langkah masyarakat terus menggarap lahan menjadi kebun sawit sebuah langkah tepat. Kami mengharapkan setiap kepala keluarga harus memiliki lahan sawit minimal 2 hektar. Namun demikian, khusus terhadap kawasan gunung atau dataran tinggi, kami tetap meminta agar dipertahankan penanaman tanaman keras (agroproristi) seperti pala, durian, jengkol, petai, yang memiliki multi fungsi yakni selain menghasilkan pendapatan bagi petani juga sekaligus bisa berfungsi sebagai pengatur tata air,” katanya.[]

Laporan Hendrik Meukek

Baca juga: