Oleh: Taufik Sentana
Bergiat di Nuruttaufiq Islamic Consulting Aceh (NICA).
Banyak menulis prosa dan esai sosial. Bergabung di JSIT Aceh.
Banjir di Aceh telah meninggalkan luka yang mendalam, tidak hanya pada jiwa dan raga warga terdampak (baik langsung atau tidak), tetapi musibah ini juga menggedor kesadaran kita akan pentingnya manajemen informasi kebencanaan dan kesigapan para pemangku amanah.
Ketika akses listrik dan sinyal hilang, kita diingatkan bahwa kemajuan teknologi kita masih rentan terhadap kekuatan alam. Kita mesti berfikir lebih cerdas.
Dalam kesibukan kita menghadapi bencana, dan kepungan banjir dari berbagai sudut, kita sering lupa bahwa informasi adalah hal pokok, bagai nyawa. Informasi yang akurat dan tepat waktu dapat menyelamatkan nyawa, mempercepat evakuasi, dan memastikan bantuan mencapai mereka yang paling membutuhkan.
Namun, ketika sistem komunikasi lumpuh, kita menjadi buta dan tuli, tidak mampu merespons kebutuhan warga terdampak.Bahkan bermunculan berita saling menyudutkan dan saling menyalahkan.
Menyoal Kapasitas dan Kesiapan:
Banjir di Aceh juga memperlihatkan bahwa kita masih memiliki banyak kekurangan dalam menghadapi bencana. Infrastruktur yang tidak memadai, sistem peringatan dini yang lemah, dan kurangnya kapasitas tim penyelamat adalah beberapa contoh dari tantangan yang kita hadapi. Sehingga penyelesaian awal bencana ini terkesan lambat dan berat.
Walaupun demikian, di tengah kesulitan, kita juga melihat kekuatan dan ketabahan warga Aceh. Banyak grup informatif mandiri terbentuk untuk saling bertukar informasi.
Kekalutan jangan sampai menghilangkan harapan. Kita sangat berharap pada respon pemerintah setempat yang cepat dan empatik, serta berjangka panjang.
Kita yang terdampak atau tidak, tetap mesti menunjukkan ketabahan dan solidaritas dalam membantu satu sama lain dalam menghadapi kesulitan. Sehingga tidak memunculkan ceos dan sikap anarkis.
Sikap Abai terhadap Lingkungan:
Dalam menghadapi bencana, kita harus belajar dari kesalahan dan kekurangan kita: Terhadap sikap abai bagi lingkungan hutan dan sikap pemilik modal yang hanya mementingkan kapital.
Kita harus meningkatkan kapasitas tim penyelamat, memperkuat sistem peringatan dini, dan memastikan bahwa informasi akurat dan tepat waktu dapat diakses oleh semua pihak.
Untuk jangka panjang, kita juga harus memprioritaskan pembangunan infrastruktur yang tahan bencana dan memastikan bahwa warga terdampak mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan dengan segera. Tidak terkatung katung tanpa bantuan dan berita; ada yang mencapai 6 hari di lokasi terdampak. Belum lagi daerah daerah yang terisolasi. Bagaimana tentang puluhan desa yang hilang disapu banjir.
Tetap sebagai Peringatan:
Banjir di Aceh adalah peringatan bagi kita semua bahwa bencana dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Kita harus siap, kita harus waspada, bahwa “amrussa’ah” (perkara musibah atau kiamat itu) sangat cepat dalam kedipan mata.
Di samping itu, dalam menghadapi bencana, kita tidak hanya menyelamatkan nyawa, kita juga menyelamatkan masa depan kita, menjaga harapan tetang menyala dan semakin mendekatkan kita kepada Si Maha Pemilik.[]






