ACEH BARAT – Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR) Aceh Barat, mendirikan posko di Dusun Gelanggang Meurak, Gampong Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya.
Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) SMUR, Mustafik, posko diberi nama “Rumah Perjuangan” yang didirikan sejak Senin, 20 Agustus 2018, sebagai basis pendampingan masyarakat korban pencemaran lingkungan limbah dan debu batu yang diduga berasal dari aktivitas PTLU Nagan Raya, dan stockpile (lokasi penumpukan batubara) PT Mifa Bersaudara.
"Selain itu, posko ini jadi tempat diskusi dengan warga. Mendengarkan aspirasi warga terkait pencemaran batubara di pemukiman mereka," ujar Mustafik kepada portalsatu.com/ ditemui di posko setempat, Jum'at, 24 Agustus 2018, sore.
Mustafik menambahkan, pendirian posko merupakan inisiatif warga dan organisasinya. Pendirian posko di lantai dua rumah milik salah seorang warga itu sebagai wujud keseriusan masyarakat dalam yang menuntut diselesaikannya polemik pencemaran lingkungan di desa mereka.
“Ini untuk menampik isu, kalau kondisi di sini, di Dusun Gelanggang Meurak, adem ayem. Bahwa di sini rupanya ada masalah yang mesti diselesaikan. Kalau ada yang merasa di dusun ini tidak tercemar, saya berani tantang, silahkan tinggal di sini, sehari saja. Biar bisa lihat sendiri, tercemar tidak, nampak tidak debu batubaranya,” tegasnya.
Dia menjelaskan, debu batubara merupakan polutan yang menimbulkan penyakit. “Batubara dan produk buangannya, berupa abu ringan, abu berat, dan kerak sisa pembakaran, mengandung berbagai logam berat : seperti arsenik, timbal, merkuri, nikel, vanadium, berilium, kadmium, barium, cromium, tembaga, molibdenum, seng, selenium, dan radium, yang sangat berbahaya jika dibuang di lingkungan,” jelasnya.
Saat ini, imbuh Mustafik, warga berharap pemerintah daerah, baik tingkat I dan tingkat II, turun tangan menyelesaikan masalah yang dialami warga. “Pemda harus dengar apa tuntutan warga. Masalah ini, sesungguhnya bukan masalah baru, hanya saja, pemerintah acuh. Itu masalah utamanya. Pemerintah kurang peka atas apa yang menimpa orang-orang yang dipimpinnya. Sibuk sama, ya begitulah,” kata dia.[]



