BerandaInspirasiDarurat Militer dan Secangkir Kopi Ganja

Darurat Militer dan Secangkir Kopi Ganja

Populer

Penerapan status Darurat Militer di Aceh pada 2002-2003 merupakan salah satu momen manis bagi sebagian jurnalis. Pada masa itu, dari pengamatan dan pengalaman subyektif detikX, ganja bisa didapatkan secara bebas.

Bukan cuma dalam bentuk balot sibak (lintingan ganja), tapi juga yang sudah diolah menjadi campuran makanan, seperti dodol dan kopi. Khusus untuk kopi, karena bisa memabukkan si peminumnya, sebagian warga Aceh menyebut kopi bercampur ganja itu kopi mumang atau kopi mangat.

Pengunjung memang tidak bisa secara langsung memesan dan menyeruput secangkir kopi mumang di kedai kopi, yang berderet di Aceh. Ada faktor kepercayaan si penjual terhadap calon pembeli. Semakin kita dekat dan akrab dengan penjual, kopi atau dodol ganja ini malah tak perlu dibeli dengan uang. Cukup ditukar dengan kaus, baju, topi, atau sekadar notes buat kenang-kenangan, kita bisa mendapatkan satu gulung dodol ganja sebagai oleh-oleh.

Bila tiga jenis materi ganja itu dinikmati dalam waktu bersamaan, tentu efeknya bisa fatal. Seorang teman wartawan majalah berita mingguan pernah didamprat habis redakturnya dari Jakarta. Usut punya usut, si teman wartawan rupanya menulis laporan dalam kondisi mabuk. Akibatnya, bukan cuma struktur kata dan kalimat yang tak jelas, tapi deretan hurufnya pun kacau-balau.

“Waktu ngetik sih rasanya fine-fine saja, eh hasilnya ternyata ngaco banget,” ujar si teman wartawan yang kini sudah hijrah menjadi wartawan televisi itu.

Gencarnya pemusnahan ladang-ladang ganja di wilayah Aceh belakangan ini juga membuat para perajin makanan olahan di Kota Serambi Mekah tak lagi leluasa mencampurkan serbuk ganja ke menu mereka.

Dodol Ganja

Wandi, 32 tahun, warga Banda Aceh, yang biasa membuat dodol ganja, sudah lebih dari setahun menghentikan kreasinya. Ia biasa menjual paket 1 kilogram dodol ganja seharga Rp 2,5 juta. “Pemesan biasanya dari Jakarta, itu pun paling banyak cuma 3 kilogram,” kata Wandi saat ditemui detikX beberapa waktu lalu.

Pembuatan dodol ganja tentu saja tak dilakukan secara terbuka. Informasinya pun dari mulut ke mulut, dan dodol baru dibuat bila ada pemesannya. Itu pun si calon pembeli harus diyakini benar tidak akan mencelakakan si perajin. “Mana kita tahu kalau si pembeli adalah polisi,” ujar Wandi diiringi tawa.

***

Bagi masyarakat Aceh pada umumnya, penggunaan ganja dalam aneka menu masakan merupakan hal lumrah. Bagi masyarakat Aceh pada umumnya, penggunaan ganja dalam aneka menu masakan adalah hal lumrah.

Kolektor manuskrip kuno Aceh, Tarmizi A. Hamid alias Cek Midi juga menyebut ganja biasa digunakan sebagai obat. Ia merujuk kitab Tajul Muluk pada masa Kerajaan Aceh Darussalam.

Karena itu, pada masa lalu, keberadaan kebun atau ladang ganja tak dilarang. Hingga 1970-an saat ia masih anak-anak, biasa melihat para ibu atau juru masak yang menaburkan bubuk ganja ke berbagai menu masakan.

Ganja bisa berguna melembutkan daging, menjadi semacam penyedap rasa, dan memperlama daya tahan makanan. Tapi sekarang sudah beda tafsirnya karena ada yang menyalahgunakan khasiatnya, sehingga dilarang.

“Pada masa kerajaan dulu, kuliner ganja menjadi hidangan untuk para tamu. Tapi sekarang ganja ditanam oleh masyarakat yang ekonominya sudah terjepit,” kata Cek Midi.

Agar ganja tak disalahgunakan, Cek Midi berharap pihak berwenang tidak asal memusnahkan ladang-ladang ganja. Pemerintah perlu memberi pembinaan dan mengucurkan modal untuk beralih menanam komoditas non-ganja.

Lihat tampilan versi asli artikel ini: DM dan Kopi Ganja

[]Sumber: x.detik.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya