BANDA ACEH – Direktur Eksekutif The Aceh Institute, Saiful Akmal, menilai Debat Calon Presiden (Capres) II masih belum konkret pada pokok persoalan bangsa ini.
“Merespons debat pilpres kedua tentang energi, pangan dan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup, Aceh Institute melihat bahwa kandidat petahana belum menunjukkan sikap yang konkret terhadap persoalan pencemaran lingkungan,” ungkap Saiful Akmal kepada portalsatu.com, Senin, 18 Februari 2019, pagi.
Sementara kandidat oposisi, kata Saiful Akmal, meski berjanji mengejar perusahaan asing yang berpuluh tahun mencemari lingkungan tapi alpa dan tidak fasih berbicara ekonomi milenial.
Sedangkan dalam aspek sumber daya maritim yang dibanggakan pihak petahana, meski program penjagaan kedaulatan dengan menenggelamkan kapal asing pencuri ikan. “Namun aspek ini terlupa dan dikelola dengan baik oleh pihak kandidat oposisi bahwa program populis tidak bisa menyelesaikan persoalan mendasar seperti keberpihakan terhadap nelayan yang minim akses terhadap pengetahuan, teknologi, modal dan pemasaran,” kritik Saiful Akmal yang juga dosen UIN Ar-Raniry.
Doktor bidang Bahasa, Media dan Politik lulusan University of Frankfurt ini melihat kedua kandidat khususnya petahana fokus kepada program infrastruktur terutama jalan. Namun alpa bahwa alih fungsi lahan untuk pembangunan jalan yang tidak terukur bisa memunculkan masalah lebih besar terkait daya dukung lingkungan.
“Sementara kandidat pesaing juga tidak menyinggung persoalan bagaimana merespons mafia migas dan lahan, dan cenderung normatif dalam beberapa aspek khususnya ekonomi milenial,” ungkap Saiful Akmal.
Saiful Akmal berharap pada debat berikutnya kedua capres berbicara lebih konkret dan solutif. “Indonesia kaya SDA dan SDM, tapi kemiskinan dan keadilan masih timpang. Dibutuhkan terobosan jitu agar masalah ini terselesaikan,” tandas anak muda yang menggawangi The Aceh Institute sejak 2017 lalu.
The Aceh Institute adalah sebuah lembaga think thank tempat berkumpul para intelektual Aceh. Lembaga ini melahirkan pemikiran-pemikiran kritis tentang banyak hal menyangkut Aceh dan nasional.[]



