LHOKSUKON – Ada lima persoalan dihadapi petani di Aceh yaitu lahan, sistem pengairan, benih, industri pertanian, dan pasar. Kendala itu terjadi karena prioritas belum terstruktur dengan baik.

Hal itu disampaikan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Dr. Ir. Agus Sabti, M.Si., usai pertemuan penyuluh dan expo komoditi unggulan di Gedung Panglateh, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, Rabu, 14 Desember 2016.

“Kita tidak bisa bicara kemajuan petani, jika setiap petani hanya memiliki lahan 0,5 hektare. Untuk itu pemerintah harus bisa mencari cara, apakah itu sewa atau lainnya yang nantinya diarahkan ke petani,” ujar Agus.

Selain itu, kata Agus, pertanian tidak akan maju tanpa sistem pengairan yang baik. Dalam hal ini pemerintah harus punya target mana irigasi yang diprioritaskan tahun ini, tahun depan, dan seterusnya. Sehingga nantinya akan merata.

“Terkait benih, daerah lain sudah berbicara panen 15 ton, kita masih 6 ton. Pemerintah harus ada penangkar benih, supaya tidak beredar ke petani benih-benih yang tidak bagus,” ucap Agus.

Industri pertanian, Agus melanjutkan, tidak mungkin berjalan jika setiap rumah hanya menanam tiga batang pohon saja. Ia mencontohkan, kopi Gayo tidak ada masalah karena sudah menjadi produk unggulan daerah.

Terakhir pasar, sehingga orang akan tahu apa saja produk unggulan di Aceh Utara misalnya. “Selama ini Aceh punya komoditi unggulan nilam. Karena kita tidak menguasai sektor hilir, maka kita hanya menjadi sub-koordinat orang lain. Permasalahannya terletak pada pengetahuan dan pasar,” ujar Agus.

Menurut  Agus, visi inilah yang harus diperbaiki ke depan. Artinya, harus ada kerja sama pemerintah dengan perguruan tinggi. “Sekarang bagaimana caranya kita membangun pertanian itu dengan berbasis masyarakat, potensi lokal dan berbasis syariah,” pungkasnya.[]