Karya Taufik sentana*
1//
Sadar
gemetar
takjub
dan ubun ubun
menjadi mekar.
2//
Perjumpaan
tanpa kehampaan waktu
Jantung telah terbius
oleh amuk rindu yang dekil
3//
Suara batin yang nakal
mengintai ke tepian jalan
dekat pohonan kecil
ada keasyikan yang bibirnya merah.
4//
Mata dan tubuh kita
tidak saling sedekap
tapi shaf shaf kita
yang rapat
mengikat hati kita
hingga di luar shalat.
5//
Lalu kita
berpencar
dan (untuk) selalu
menuju yang Akbar.
6//
Doa yang tadi
dipanjatkan
menjelma awan
dan menggumpal
bakal hujan.
7//
Tiba tiba kita terlupa
saat di toko, pasar dan kantor
kita mulai saling hajar,
shaf shaf kita makin lebar
dan takut dililit lapar,
Tuhan yang Akbar
jadi perbincangan
untuk pertemuan selanjutnya.[]
*Penyuka prosa dan sastra sufistik
Kumpulan Indie terbaru berupa
“Password Kebahagiaan”
dan ” Kamus Hujan”.



