Oleh: Almuniza Kamal
KEMARIN genap tiga minggu saya ditugaskan di UPTD Museum Aceh. Sebagai PNS, tentu sumpah setia sebagai Aparatur Sipil Negara saya jadikan pedoman dalam bertugas dengan semboyan “siap ditempatkan di mana saja”.
Latar belakang pendidikan saya adalah Pemerintahan Daerah. Hampir semua lulusan Sekolah Tinggi Pendidikan Dalam Negeri atau STPDN dengan keilmuan Pemerintahan. Jika menyimak latar belakang Ilmu Pemerintahan tentunya sudah mencakup dengan ilmu politik, hukum, sosial, SDM Aparatur dan hal-hal terkait dengan pemerintahan lainnya atau sering disebut Generalis Keilmuan Pemerintahan.
Dengan latar belakang itu saya pernah ditempatkan di beberapa instansi seperti di Sekretariat Dewan pada 2003, Tata Usaha Pimpinan Gubernur 2003-2004 di masa Gubernur Abdullah Puteh, kemudian di Biro Administrasi Pemerintahan, Biro Perlengkapan dan Biro Pembangunan pada 2008. Selanjutnya di Biro Hukum dan Humas pada 2009-2013, Biro Humas 2013-2014, Biro Umum Bagian Protokol tepatnya di Kepala Subbag Tamu terhitung sejak 2014-2016. Kini saya ditugaskan di UPTD Museum Aceh.
Saya mulai bertugas di sini setelah diberi 'mandat' oleh Gubernur pada Selasa, 22 Maret 2016 lalu. Banyak rekan sesama PNS dan kalangan di luar PNS yang bertanya-tanya mengapa saya bisa 'sampai' ke Museum Aceh. Banyak pula yang memberi kata-kata penyemangat agar saya bersabar. Ada yang berusaha membesarkan hati saya dengan mengatakan 'setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya'. Ada juga yang menyindir dengan mengatakan 'nyan keuh akibat melawan pimpinan dan bersahabat dengan musuh pimpinan'.
Semua ucapan dari rekan, sahabat dan handai taulan saya anggap sebagai sebuah semangat baru bagi saya yang akan hijrah ke tempat baru. Ke dunia yang bertolak belakang dengan apa yang saya pelajari selama ini. Di luar keilmuan saya. Saya tidak paham apa itu 'kurator', saya bingung saat rekan-rekan yang baru menyebutkan kata-kata seperti 'preparasi', 'konservasi', dan istilah-istilah lainnya yang menyangkut aktivitas permuseuman.
Namun bagi saya, tekad kuat memberikan yang terbaik untuk Aceh menjadi tenaga dan pikiran di mana pun saya bertugas. Ini adalah cita-cita saya sedari kecil.
Hijrah adalah sebuah kata dan pemaknaannya sangat saya pahami. Kebulatan tekad itu ada di kata hijrah. Keluar dari ranah bidang Ilmu Pemerintahan dan Administrasi Negara yang sedikit banyak saya kuasai dan saya pahami.
Sekarang mari kita bicarakan tentang kantor baru saya di UPTD Museum Aceh. Semua orang tahu kalau Museum Aceh berada satu kompleks dengan Rumoh Aceh. Di sini, terdapat lonceng Cakradonya yang menjadi simbol kejayaan Aceh masa lalu, ada meriam kuno, di sebelahnya ada Gedung Juang, ada juga gedung pameran. Sebelum saya dipindahtugaskan ke sini, saya baru sekali menginjakkan kaki di kompleks ini. Dan itu 30 tahun silam, saat saya masih menjadi siswa TK di Gampong Merduati, Banda Aceh. Setelah 30 tahun siapa sangka saya akhirnya 'kembali' ke sini dan akan menghabiskan sebagian waktu saya di sini.
Berselang satu minggu ditugaskan di Museum Aceh, saya bertemu dengan seorang ibu yang sangat menginspirasi saya untuk mengenal Aceh lebih dalam. Banyak hal yang ia ceritakan pada saya tentang Aceh dan kisah heroisme para pejuang dan pemimpin Aceh di masa lalu. Seorang ibu yang telah berbakti untuk Aceh hampir 40 tahun. Ia mengabdikan dirinya untuk mengumpulkan tulisan-tulisan tentang Aceh. Namanya Zunaimar. Terimakasih saya untuknya yang telah secara cuma-cuma mengisahkan tentang Aceh pada saya.
Beliau menceritakan bagaimana para pemimpin Aceh masa silam dan itu sangat menginspirasi saya. Bahwa ini adalah langkah maju bagi saya membesarkan Aceh dengan cara dan kemampuan dan dengan sebatas ilmu yang saya miliki. Mengembalikan sejarah Aceh dan kegemilangan Aceh berada pada posisi selayaknya. Dan Museum Aceh adalah tempat yang akan saya jadikan kegemilangan itu.
Di sini ada 2000 naskah kuno Aceh dan saya yakin sangat jarang dimanfaatkan atau dipelajari oleh orang-orang Aceh. Terdapat benda-benda sejarah masa perang dan kejayaan Aceh yang kini tidak layak dan perlu peremajaan kembali. Jika ini tidak dilakukan maka kebanggaan kita sebagai orang Aceh dan bukti kejayaan kita di masa lalu akan menjadi cerita dongen bagi anak cucu kita ke depan.
Melihat benda-benda sejarah dan naskah-naskah kuno yang banyak dipelajari oleh orang-orang luar seperti Malaysia, Singapura, Belanda bahkan Jerman dan Rusia menjadi miris hati saya sebagai putra Aceh. Kenapa saya dahulu tidak sering berkunjung ke museum ini. Padahal banyak hal bisa kita pelajari di sini. Jika kita orang Aceh maka lihatlah sejarah kegemilangan Aceh di masa lalu. Semua itu ada di Museum Aceh.
Tata kota dan tata Pemerintahan Aceh yang layak sudah tertulis di naskah-naskah kuno yang kini semua disimpan di gudang storage/di ruang penyimpanan. Dan alangkah mirisnya saya meliat gudang storage yang juga sudah tidak layak lagi. Debu dan kotoran gedung yang mulai tua membuat ruang penyimpanan naskah ini bukanlah ruang yang layak untuk menyimpan naskah-naskah bukti kejayaan Aceh tempo dulu.
Naskah kuno, benda-benda sejarah dan koleksi lainya Museum Aceh, siapa yang menikmati dan merasakan kehadirannya? Rupanya banyak ahli sejarah, bergelar doktor dari luar negeri yang berkunjung dan melihat naskah ini. Mereka semua melakukan penelitian akan Aceh dan keberadaban Aceh tempo dulu. Melihat bagaimana kejayaan Islam tempo dulu dan bagaimana perkembangan budaya adat istiadat, perkembangan Asia Tenggara yang semua hasil penelitan mengarah bahwa Aceh adalah daerah yang mengawali peradaban dan penyebaran Islam di Asia Tenggara.
Peradaban dan pengetahuan yang disebarkan oleh pendahulu Aceh bukan hanya di Pulau Jawa, penyebaran Islam bukan hanya wilayah Jawa dan Nusantara. Hampir seluruh kawasan Asia Tenggara yang membangun peradaban adalah orang Aceh.
Kebanggaan saya sebagai putra Aceh semakin membangkitkan semangat saya menjadikan Museum Aceh sebagai rumah peradaban Islam pertama di wilayah Asia Tenggara. Rumoh Aceh adalah rumah pertama umat Islam diwilayah Asia Tenggara. Dan ini tidak bisa dipungkiri, banyak manuskrip dan naskah-naskah kuno menjelaskan demikian.
30 Juli 2015 lalu Museum Aceh berumur 100 tahun. Begitu tua umurmu, satu abad sudah. Di hari itu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh menyelenggarakan hajatan untuk peringatan satu abad Museum Aceh. Banyak pengunjung yang datang dan penuh sesak layaknya pasar malam, begitu cerita salah satu teman.
Kini menapak 101 tahun, apa yang hendak kita perbuat untukmu museum? Insya Allah tindakan dalam bentuk hasil nyata silahkan dilihat museum dahulu dan kini.[]
*Penulis adalah Staf di Museum Aceh





