Oleh: Yopi Ilhamsyah
Dosen Universitas Syiah Kuala

Bermula dari pameran literasi sejarah dan budaya Aceh di Museum Aceh, lalu berlanjut dengan saya yang mengunjungi Perpustakaan dan Museum Profesor Ali Hasjmy (PMPAH).

Lokasinya berada di jalan Jenderal Sudirman No. 28, Gampong (Desa) Lamteumen Timur, sekira 150 meter dari simpang empat di ujung barat daya Jalan Teuku Umar, Seutui, Banda Aceh.

Pekarangan depan tampak indah dengan warna-warni bunga Bugenvil. Suasana teduh juga terasa dengan naungan pepohonan rimbun.

Menuju pintu masuk, kita dapat melihat prasasti peresmian berdirinya PMPAH oleh para menteri era Presiden Soeharto di tahun 90-an.
Jadwal Berkunjung

Di samping pintu masuk tersedia informasi jadwal berkunjung. Untuk museum hanya dibuka pada hari Rabu sementara perpustakaan buka setiap hari dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIB kecuali Sabtu-Minggu.

Di pintu masuk, saya disambut oleh Pak Azhari. Beliau telah lama bertugas di PMPAH, sempat pula ia mengelolanya bersama Prof. Ali sejak berdiri tahun 1991.

Buku sejarah Aceh berada dalam lemari kaca sementara buku sejarah dunia berada di rak terbuka.

Banyak sekali buku dengan berbagai topik untuk dibaca, antara lain: pendidikan, filsafat, novel, sastra, biografi, kedokteran dan lainnya. Saya menaksir ada ribuan koleksi buku di PMPAH.

Buku-buku ini awalnya milik Prof. Ali. Dari jumlah koleksi bukunya, kita bisa menebak jika beliau adalah pencinta literasi.

Prof. Ali Hasjmy adalah seorang cendekia Aceh. Beliau lahir di Montasik pada tahun 1914. Masa kecil beliau lalui di Montasik hingga menamatkan pendidikan dasar. Dalam usia belia, beliau lalu merantau ke Sumatera Barat dan melajutkan pendidikan menengah agama Islam di Padang Panjang.

Beranjak remaja, beliau memasuki jenjang pendidikan tinggi dengan mengambil jurusan Sastra dan Kebudayaan Islam di Padang.

Semasa di perantauan ini beliau mulai bersentuhan dengan dunia literasi.

Karya Ali Hasjmy

Karya sastra beliau berupa sajak, novel, esai dan cerita pendek dimuat oleh berbagai penerbit, di antaranya: kumpulan sajak dalam “Kisah Seorang Pengembara” yang diterbitkan Pustaka Islam Medan tahun 1936. Dua novel bergenre roman perjuangan tahun 1938. Namun, dua karya tersebut tidak terbit karena Balai Pustaka kehilangan naskah keduanya di tengah situasi panik Hindia-Belanda akibat invasi Jepang kala itu.

Lalu ada novel “Bermandi Cahaya Bulan” dan “Melalui Jalan Raya Dunia” yang terbit di Indiche Drukrij Medan tahun 1939. Roman keagamaan “Suara Azan dan Lonceng Gereja” yang diterbitkan Syarikat Tapanuli tahun 1940.

Selepas kemerdekaan, beliau tetap aktif menulis. Karya-karya sastra beliau banyak tersebar di penerbit nasional dan internasional, antara lain: Bulan Bintang, Beuna, Balai Pustaka, penerbit asal Malaysia dan Singapura. Total Prof. Ali telah menerbitkan lebih dari 40 karya sastra.

Jabatan Ali Hasjmy

Di masa pendudukan Jepang, Ali Hasjmy sempat berkarier sebagai jurnalis di Aceh Shimbun.

Selepas kemerdekaan, beliau mengabdi sebagai pegawai negeri. Jabatan yang pernah diemban antara lain: Kepala Jawatan Sosial Daerah Aceh tahun 1946-1947. Kepala Bagian di Departemen Sosial Jakarta tahun 1957. Gubernur Aceh periode 1957-1964.

Sempat menjadi anggota MPRS di tahun 1967, beliau selanjutnya berkarir sebagai akademisi dan meraih Profesor dalam ilmu dakwah di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Pada tahun 1982, beliau dipercaya sebagai Rektor IAIN. Beliau juga dikenal sebagai Ketua MUI-Aceh di masanya.

Diceritakan Pak Azhari, di sela-sela kesibukannya, Prof. Ali selalu menyempatkan waktu untuk membaca. Setiap berpergian, beliau selalu membawa buku sebagai bekal bacaan di perjalanan.

Di setiap daerah yang dikunjungi, beliau kerap berbelanja buku untuk dibawa pulang. Lambat laun, koleksi buku-buku beliau semakin bertambah dan terpikir untuk membuka perpustakaan umum.

Hal ini juga didasari oleh kegelisahan beliau akan nasib buku-bukunya kelak. Perasaan gundah Prof. Ali diabadikan lewat tulisan pada sebuah pamflet yang terpajang di depan rak buku.

Prof. Ali selanjutnya mewakafkan rumah dan tanah di mana PMPAH berdiri ke Pemerintah Aceh. Sebagai gantinya, Pemerintah Aceh membangun sebuah rumah untuk kediaman Prof. Ali di halaman belakang PMPAH.

Namun sayangnya, PMPAH ini seperti terbengkalai. Sewaktu saya tiba, hujan baru saja reda.

Ruang utama tempat ribuan buku dipajang tergenang air akibat atap bocor serta rembesan air hujan melalui dinding.

Buku-buku yang berada di rak bawah terendam air.

Menurut Pak Azhari, meski sempat dikelola oleh anak-anak beliau setelah Prof. Ali wafat, PMPAH ini sejatinya aset Pemeritah Aceh. Dana rutin pernah diberikan semasa Gubernur Irwandi. Namun, setelah itu tidak ada lagi bantuan hingga PMPAH rusak dimakan zaman.

Pak Azhari lalu mengajak saya berkeliling PMPAH.

Koleksi Ali Hasjmy

Kami memasuki ruang demi ruang dimulai dari ruang “Khutubkhanah Teungku Chik Kutakarang”, ini adalah ruang kerja Prof. Ali, buku-buku karangan beliau tersimpan rapi. Demikian juga koleksi pakaian dalam lemari.

Terdapat koleksi manuskrip lawas berbahasa Melayu Aceh yang ditulis menggunakan aksara Arab dan Jawi. Di sini, kita jumpai pula mushaf Alquran tulisan tangan yang telah berusia 400 tahun.

Ruang kerja beliau tertata rapi. Namun sayangnya, air setinggi mata kaki menggenangi seluruh ruang kerja beliau. Tampak air layaknya pancuran turun dari plafon rumah.

Ruang berikutnya adalah ruang warisan Nenek Puteh yang berada di seberang ruang kerja Prof. Ali. Di atas pintu terpampang foto seorang nenek dengan dua orang cucu yang salah seorangnya adalah Prof. Ali.

Nenek Puteh, demikian Prof. Ali Hasjmy memanggil beliau, selalu mendorong cucunya untuk bersekolah tinggi.

Di ruang ini terdapat berbagai koleksi pakaian tradisional Aceh yang tergantung di dalam lemari kaca. Di sini dipamerkan pula beragam senjata pejuang Aceh berupa rencong, klewang, pistol dan meriam.

Benda-benda yang dipamerkan sejatinya sarat akan nilai sejarah. Andaikan Prof. Ali Hasjmy masih hidup tentu beliau akan banyak bercerita.

Di ruang ini ditemukan pula kebocoran yang berimbas lantai tergenang air.

Ruang berikutnya di belakang adalah Khazanah A. Hasjmy. Di ruang ini terdapat album foto-foto kegiatan Prof. Ali dan keluarga, kunjungan semasa gubernur Aceh. Foto-foto lawas kala bersekolah dan menjadi aktivis di Sumatera Barat. Radio lawas yang digunakan menyiarkan kemerdekaan Indonesia, mesin ketik di masa pergolakan Aceh, ragam perangko dan berbagai cenderamata.

PMPAH Butuh Perhatian

Di halaman belakang terdapat rumah Aceh berukuran sedang, di bawah rumah Aceh dipamerkan jingki dan alat tenun tradisional Aceh. Di depan rumah Aceh, dibangun meunasah tradisional Aceh.

Setali tiga uang dengan nasib PMPAH, pustaka ini juga sepi pembaca. Ini tampak dari daftar pengunjung yang tertera di buku tamu, hanya ada 2 orang yang berkunjung dalam rentang waktu 2 pekan (minggu)!

PMPAH wajib menjadi atensi kita semua. Sudah saatnya generasi muda, kita galakkan minat berliterasi, kita semarakkan kembali PMPAH.[]