LHOKSEUMAWE-  Sejumlah kepala sekolah (kepsek) tingkat dasar (SD sederajat) di Lhokseumawe merasa kesal dengan kebijakan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Kadis Dikpora) setempat yang memutasi mereka secara mendadak dan dinilai tanpa alasan jelas.

Informasi diterima portalsatu.com, kemarin (Jumat), sekitar 20 kepsek dimutasi secara mendadak di kompleks SMA N 1 Lhokseumawe sekitar pukul 16.00 sore.

“Mutasi itu sebenarnya wajar dilakukan jika itu untuk pengingkatan mutu pendidikan di sekolah. Namun kali ini saya melihat mutasi dadakan yang dilakukan oleh Rusli, Kadis Dikpora Lhokseumawe, ini tanpa melihat kinerja kepala sekolah itu sendiri,” kata Irwansyah, seorang kepsek yang ikut dimutasi kepada portalsatu.com, Sabtu, 30 Januari 2016.

Irwansyah menyebutkan, dirinya dari SDN 5 Muara Satu dimutasi ke SDN 10 Muara Dua tanpa alasan jelas. “Sedangkan kerja yang saya lakukan selama di sana adalah hal yang ditargetkan oleh wali kota agar capaian mutu pendidikan di Lhokseumawe meningkat,” ujarnya.

Menurut Irwansyah, kadis dikpora dan pejabat lainnya di Pemko Lhokseumawe pernah ke SDN 5 untuk melihat perkembangan sekolah itu.

“Saya difitnah bahwa saya menjual nama Pak Miswar selaku Asisten II Setdako Lhokseumawe. Saya berani bersumpah tidak pernah membawa nama orang lain,” tegas Irwansyah

Irwansyah menilai kadis dikpora tidak profesional. “Kita menerima dimutasi, tapi harus profesional,” katanya.

Irwansyah juga menuding kadis itu tidak menghargai kepsek sebagai mitranya. “Saat melakuakn rapat dengan seluruh kepsek di bawah naungannya, dia pernah menyebutkan kepsek 'meu ikue mandum, wate jak meukumat bak pageu',” ujar dia lagi.

“Kami disebutkan seperti itu, walaupun tidak secara langsung. Apakah wajar seorang kadis berkata demikian, maka kami pun malas berkomunikasi dengannya. Jika kepseknya wanita ada yang lebih aneh lagi, mengapa orang seperti itu bisa menjadi kepala dinas,”kata Irwansyah.

Hal sama disebutkan Dewi Agustina, kepsek yang ikut dimutasi dari SDN 14 ke SDN 15 Muara Dua. Menurutnya, kadis tidak profesional dalam memutasi kepsek.

“Mutasi silahkan, pada dasarnya harus profesional. Apa yang kami berikan kepada sekolah selama ini bagus, dan itu didukung oleh pihak pengawas dan komite,” kata Dewi.

Dewi menyebutkan, dirinya sempat menghubungi kadis dikpora, namun tidak menjelaskan kenapa dilakukan mutasi itu. Ia juga menanyakannya kepada sekretaris dinas dikpora dan kabid pendidikan dasar. “Namun juga tidak ada jawaban jelas atas mutasi tersebut,” ujar Dewi.[]