ACEH UTARA – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (PK) Aceh Utara melaksanakan kegiatan Program Organisasi Penggerak (POP) untuk melakukan pengidentifikasian pelatihan guru dan kepala sekolah yang terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. POP merupakan program nasional di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI.
Kepala Dinas PK Aceh Utara, Jamaluddin, S.Sos., M.Pd., Kamis, 23 Maret 2023, mengatakan POP itu merupakan program peningkatan mutu. Dinas PK Aceh Utara pada Juni 2022 mendapatkan award karena menjadi penghasil guru penggerak terbanyak di Aceh.
Pada angkatan pertama diluncurkan POP oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), di Dinas PK Aceh Utara sudah diwisuda sekitar 68 guru penggerak. Angkatan ke-2 ada 17 guru penggerak, angkatan ke-4 terdapat 98 guru penggerak, angkatan ke-7 ada 37 guru penggerak. Sehingga saat ini Dinas PK Aceh Utara sudah memiliki guru penggerak sekitar 220 orang yang siap mendampingi guru-guru lainnya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Aceh Utara.
“Selanjutnya, di angkatan ke-8 sudah lulus tahap pertama (seleksi administrasi) sekitar 543 orang calon guru penggerak yang sudah mengikuti ujian esai dan wawancara, tinggal menunggu pengumuman berapa orang akan lulus nantinya yang dibuka oleh Kemendikbud Ristek. Untuk angkatan ke-9 kita sudah lulus tahap pertama 196 guru penggerak yang akan siap mengikuti tahap berikutnya ujian esai dan wawancara. Tentunya kita berharap nanti bisa lulus sebanyaknya,” kata Jamaluddin kepada wartawan.
Jamaluddin menambahkan guru penggerak yang belum ada sertifikasi maka sudah diberikan kesempatan tanpa mengikuti tes akademik dan Uji Kompetensi Guru (UKG). Artinya, tahap pertama itu sudah diterima tanpa harus ikut seleksi untuk mendapatkan sertifikasi atau Pendidikan Profesi Guru (PPG). Untuk selanjutnya tes Ujian Tulis Negara (UTN) untuk Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Jika nanti UTN lulus maka para guru itu diberikan reward menjadi guru sertifikasi.
“Artinya, ini diberikan kesempatan kepada guru-guru penggerak kita yang belum ada sertifikasi, sehingga diberikan kemudahan tidak mengikuti seleksi lagi. Jadi, langsung bisa ikut UTN tersebut, itu salah satu reward bagi mereka. Kemudian, bagi guru yang sudah PNS atau sertifikasi itu ada peluang untuk menjadi kepala sekolah serta pengawas,” ujar Jamaluddin.
Menurut Jamaluddin, kegunaan guru penggerak tersebut untuk peningkatan mutu pendidikan dan lebih fokus kepada guru. Apabila guru tidak bermutu maka tidak akan menghasilkan proses belajar mengajar (PBM) berkualitas. Jika PBM tidak berkualitas tentunya tidak akan bisa menghasilkan murid bermutu. Maka fokus Dinas PK Aceh Utara lebih kepada mutu guru. Saat kualitas guru sudah matang maka para siswa pun akan mengikutinya.
“Terlebih di era kurikulum merdeka kita membutuhkan guru-guru penggerak, menginspirasi dan mencerahkan. Pada era ini tidak cukup hanya guru biasa saja, karena guru merupakan profesi di mana masa depan bangsa itu disematkan. Maka mutu pendidikan itu ditentukan berdasarkan sumber daya manusia yang ada, sehingga semua ini tanggung jawab seorang guru,” tutur Jamaluddin.[]




