Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim*
Suatu ketika Aisyah bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, kalimat apa yang pantas saya ucapkan jika bertemu dengan malam qadar (lailatul qadar)…?” Rasulullah menjawab, katakan, “Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Memaafkan, suka memaafkan, maka maafkanlah saya”. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmizi, Imam Nasai, Imam Ibnu Majah, Imam Hakim dan lain-lain. Kalimat yang diajarkan Rasulullah tersebut kemudian dikenal dengan doa malam qadar. Sangat ringkas, namun membawa makna sangat dalam dan prinsip bagi yang mau memahaminya. Inilah yang dikenal dengan jawami’ al-kalim, salah satu kelebihan nabi Muhammad saw atas nabi-nabi lainnya sebagaimana disabdakan oleh beliau sendiri dalam beberapa riwayat hadis. Jawami’ al-kalim adalah kata-kata yang singkat tapi sarat dan padat dengan makna.
Sebelum membicarakan lebih detail konten doa, ada hal penting yang perlu diperhatikan dalan hadis di atas, di mana asbab wurud-nya adalah pertanyaan Aisyah Ummul Mukminin ra. Hadis tersebut secara tidak langsung memaksa kita mengenal sosok hebat seorang Aisyah, karena dari situ ternyata muncul pelajaran pertama tentang doa malam qadar. Pertama-tama Aisyah merupakan seorang sahabat nabi dari golongan perempuan. Secara umum sahabat nabi memiliki kedudukan tersendiri di mata Allah dan rasul-Nya. Mereka merupakan orang-orang pilihan dari umat ini, baik laki-laki maupun perempuan. Nabi dalam sebuah hadisnya pernah menuturkan keistimewaan para sahabatnya, “bahwa jika salah seorang dari umat ini bersedekah emas sebesar gunung, maka nilainya tak akan pernah menyamai segenggam pemberian para sahabat atau bahkan separuhnya”, (HR: Ibnu Majah).
Selain sebagai seorang sahabat, Aisyah merupakan seorang istri Rasulullah saw. Di sini kedudukannya bertambah, melebihi sahabat-sahabat lainnya. Jika sahabat adalah orang yang istimewa terhadap sahabatnya, maka istri lebih istimewa bagi suaminya. Jika para sahabat sering bertatap wajah dan bersalaman atau barangkali berpelukan dengan Rasulullah saw, Aisyah tidur dan berhubungan badan dengan Rasulullah saw. Allah tak akan memilih manusia sembarang untuk bisa seranjang dengan rasul-Nya. Lebih dari itu kamar tidur Aisyah dikenal sebagai tempat turunnya wahyu, dan nabi pernah menegaskan bahwa wahyu tidak pernah turun kepadanya saat ia satu selimut dengan para istrinya selain Aisyah (HR: Bukhari). Ulama menjelaskan bahwa ini jelas bentuk pemuliaan Allah kepada Aisyah. Ketika ditanya tentang siapa yang paling dicintai oleh Rasulullah saw dari umat ini, beliau menjawab, “Aisyah, dan dari kaum laki-laki ayahnya, Abu Bakar”, (HR: Bukhari).
Petikan kecil di atas jelas menggambarkan tentang betapa mulia dan agungnya seorang perempuan bernama Aisyah. Memang dia bukan manusia suci layaknya para nabi, tetapi keberadaannya sebagai istri nabi sejak sebelum berusia balig, membuat Aisyah tetap suci sampai ia (mungkin) berdosa saat sudah berada di pangkuan Rasulullah saw. Lalu jika ada, dosa apa gerangan yang pernah dikerjakannya sepanjang ia hidup mendampingi Rasulullah saw. Suatu masa ketika itu ia dituduh berselingkuh dengan Safwan bin Mu’attal, Rasulullah tak bisa berkata apa-apa, hingga Allah menurunkan ayat di surah An-Nuur membebaskan Aisyah dari tuduhan hina tersebut. Singkat kata, Aisyah adalah orang yang besar di pangkuan nabi dan nabi wafat di pangkuannya. Dalam hidupnya ia dikenal dengan shawwamah qawwamah, yaitu orang yang tak henti-hentinya berpuasa dan shalat malam.
Muhasabah: Napak Tilas Taubatnya Adam
Lalu muncul pertanyaan, kira-kira apa maksudnya nabi mengajarkan doa ampunan kepada orang yang nyaris tak berdosa ini, dan jikapun ada, kebaikannya “pasti” membuat Allah telah rida kepadanya. Jamak diketahui bahwa Aisyah termasuk golongan muhajirin yang keistimewaannya disebutkan dalam banyak ayat Alquran.
Salah apa kira-kira yang dikerjakan oleh Aisyah sehingga pada malam yang sangat istimewa itu ia diminta untuk memohon maaf dan ampunan dari Allah Swt. Ulama memberi jawaban, bahwa seseorang ketika semakin dekat dengan Allah ia akan merasa jauh dari-Nya, atau semakin ia taat, semakin terlihat kekurangan dan cela pada dirinya. Begitulah sikap seorang mukmin dalam beragama, ibarat padi semakin berisi semakin merunduk. Sikap rendah hati dan merasa bukan apa-apa semakin bersemai dalam jiwanya. Itulah yang menyebabkannya sibuk dengan kesalahan dan kekurangan dirinya. Dalam banyak riwayat disebutkan, nabi menyeru kepada semua umatnya untuk selalu bertaubat. Beliau menegaskan “sesungguhnya aku setiap hari seratus kali bertaubat kepada Allah”, (HR: Muslim).
Orang-orang suci selalu melihat dirinya tercela. Inilah yang terjadi pada diri nabi Adam as saat tergamak memakan buah terlarang. Ia tidak pernah cari-cari alasan, lari dari kenyataan, apalagi menyalahkan pihak lain. Padahal jika Adam mau, ada banyak celah yang bisa ia masuk untuk membela diri dan tidak disalahkan. Allah pernah mengatakan kalau Adam lupa, “Kami telah ingatkan Adam sebelumnya, tetapi ia lupa, dan Kami tidak mendapati padanya kemauan yang kuat”, (Taha: 115). Tapi Adam tak pernah berkata kepada Allah, “saya lupa wahai Allah”. Lupa adalah salah satu ruang untuk mendapatkan kemaafan dari Allah. Lupa adalah kondisi di mana seseorang tak punya kemampuan menguasai dirinya sendiri. Dalam sebuah hadis disebutkan, “sesungguhnya Allah memaafkan umat ini dari kesilapan, lupa dan dalam keadaan terpaksa”, (HR: Ibnu Majah). Adam juga tak nunjuk-nunjuk menyalahkan iblis karena telah menggodanya. Sejatinya, jika mau ia bisa mengatakan, “saya tergoda karena iblis bersumpah padaku dan istriku, dst”. Dari itu semua Adam lebih memilih mengaku salah dan menjadikan dirinya sebagai sumber kesalahan, bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa di luar dirinya.
Merendah diri dengan mengaku salah, dan menjadikan diri sebagai faktor kesalahan menjadikan Adam begitu dicintai oleh Allah Swt serta mengilhamkan kepadanya kalimat taubat yang luar biasa, “wahai Tuhan kami, kami telah melakukan perbuatan aniaya, sekiranya Engkau tidak mengampuni kami dan merahmati kami, sungguh kami akan menjadi bagian dari orang-orang yang merugi”, (Al-A’raf: 23). Dalam Islam ada namanya saidul istigfar (doa ampunan yang paling utama), yaitu untaian doa ampunan berisikan pengakuan atas dosa yang dikerjakan. Allah mencintai orang-orang yang mengaku salah dan tidak mencari-cari kesalahan di luar dirinya (kambing hitam).
Bandingkan dengan iblis, ketika tidak ikut sujud ia tidak mau disalahkan atas pembangkangannya itu. Iblis cari alasan, buat-buat alasan. Ia tidak sujud karena merasa tidak pantas melakukan hal tersebut untuk makhluk seperti Adam. Menurutnya Adam tidak lebih mulia dari dirinya. Bahkan dirinya ia tegaskan lebih mulia dari Adam, karena ia diciptakan dari api, manakala Adam terbuat dari tanah. Namun Allah tidak menerima argumentasi iblis yang sesungguhnya lebih kepada pembelaan diri dan pembenaran. Ketika diusir karena tidak mau taubat dan enggan mengaku salah, ia justru memutar balikkan fakta dan mulai mencari kambing hitam. Setelah gagal dengan argumen pertama, kini ia menyalahkan Allah. Ia tetap bersikeras bahwa ia tidak berbuat salah, bahkan yang salah itu adalah Allah, karena telah meyesatkannya. Ia samasekali tdak mau mengaku kalau kesesatan itu berawal dari dirinya yang melenceng dari jalan Allah.
Begitulah tipikal manusia berjiwa iblis, ketika berbuat salah, ia akan mencari pembenaran atas kesalahannya, lebih dari itu ia akan menyalahkan orang lain atau apa saja demi membenarkan kesalahannya. Berbeda jika ia berhati Adam, meskipun tidak berbuat salah, ia selalu merasa bersalah, sehingga bibirnya tak pernah kering dari meminta maaf dan ampunan Allah Swt. Inilah agaknya pelajaran penting pertama dari hadis di atas. Menjadikan para pengintai dan pendoa malam qadar berhati Adam, membuat mereka seperti Aisyah, meneladani Rasulullah saw, selalu merasa diri kotor meskipun bersih, menyalahkan diri sendiri bukan orang lain.
Memaafkan Orang Lain
Doa ampunan malam qadar diawali dengan pujian kepada Allah sebagai Maha Pemaaf (‘afuwwun) yaitu yang menghapus dan menghilangkan dosa dari hamba-hamba-Nya. Maksud menghilangkan adalah dosa itu tak lagi disebut-disebut dan dihilangkan samasekali dari catatan amal seseorang. Berbeda dengan ghufran (ampunan) yang bermakna menutup, meski dosanya diampuni tetapi hakikatnya tidak hilang, karena hanya ditutup. Perbedaan ghufran dan afwun bisa diilustrasikan dengan sebuah doa yang dibaca pada awal shalat, “wahai Allah jauhkanlah antara diriku dan dosaku sebagaimana Engkau jauhkan Timur dan Barat”. Dosanya tidak hilang, hanya saja dijauhkan dari sipelaku sehingga tak lagi terlihat. Itu namanya ghufran. Adapun contoh ‘afwun ada pada doa lanjutannya, “dan bersihkan dosaku sebagaimana engkau bersihkan kain putih dari kotoran”. Yang tinggal hanya kain putin bersih tanpa noda atau kotoran. Maksud doa ini adalah agar Allah benar-benar menghapus dan menghilangkan dosa kita, bukan hanya sekadar mengampuni dengan menutupinya tapi hakikatnya masih ada.
Namun jangan lupa, di tengah-tengah untaian doa ini ada sambungan yang juga sanjungan untuk Allah, yaitu “Engkau suka memaafkan”. Kalimat ini dipahami oleh sebagian ulama, bahwa Allah mencintai perbuatannya sendiri yaitu suka memaafkan, dan mencintai perbuatan hamba-Nya yang juga suka memaafkan. Memaafkan dengan menghapus dan menghilangkan semua memori kesalahan orang lain dalam dirinya, sebelum yang bersalah meminta maaf. Inilah di antara makna lain dari ‘afwun. Dalam Alquran Allah berfirman, “mereka bertanya kepadamu apa yang harus mereka berikan, “katakan, sesuatu yang berlebih (‘afwun)”, (al-Baqarah: 219). Al-‘Afwu adalah pemberian yang baik dan tulus, diberi tanpa harus diminta. Al-‘Afwu adalah pemberian seorang ibu kepada anaknya, begitulah hendaknya seorang anak memberi kepada orang tuanya. Begitu pula kemaafan yang harusnya diberikan seseorang kepada orang lain, kemaafan yang tulus, tak perlu diminta, dan memaafkan dengan menghapus samasekali dari ingatannya kesalahan yang pernah diperbuat atasnya. Inilah bentuk maaf nabi atas orang-orang yang pernah menyakitinya saat mereka kafir.
Inilah barangkali rahasianya mengapa dalam doa itu kita tidak hanya mendoakan maaf untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Dalam Al-Da’wat Al-Kabir karangan Imam Baihaqqi hadis no. 533 redaksi doa di atas bukan hanya bersifat individual (maka maafkanlah saya) tapi diakhiri dengan doa kemaafan untuk semua (maka maafkanlah kami). Artinya seorang mukmin tidak hanya fokus pada dirinya sendiri, tetapi juga mementingkan mukmin lainnya. Seseorang yang mendoakan maaf untuk saudaranya sesungguhnya ia telah rida atas kesalahan yang pernah diperbuat oleh saudaranya itu. Karena sangat tidak mungkin seseorang yang membenci orang lain dan menaruh demdam kepadanya tiba-tiba bangun di malam hari, di malam qadar lalu memohon kepada Allah agar mengampuni dosa-dosanya, melainkan ia telah memaafkannya terlebih dahulu.
Perbuatan memaafkan terlebih dahulu tanpa harus diketahui dan tanpa permintaan dari yang bersalah adalah bukti cinta seseorang kepada saudaranya. Begitulah yang kita inginkan dari Allah, memaafkan tanpa harus meminta maaf, dan Allah telah melakukan itu semua semata-mata karena kecintaan kepada hamba-Nya. Bukankah setiap kebaikan yang dikerjakan seseorang, seperti shalat, sedekah, serta hal-hal lainnya secara otomatis menjadi pengampun atas dosa-dosanya. Begitu juga musibah yang menimpanya, semua jadi pengampun.
Di samping dorongan cinta, perasaan kotor yang selalu membayanginya membuat seorang mukmin dengan sangat mudah memaafkan orang lain. Karena baginya, semua ketidaknyamanan yang menimpanya tidak lain adalah balasan atas dosa yang pernah ia kerjakan. Balasan itu hadir sebagai bentuk kecintaan Allah kepadanya agar ia tetap bersih dari kesalahan yang pernah dibuatnya. Bersih saat lahir ke dunia, bersih saat kembali dan keluar dari dunia. Lagi-lagi yang tampak padanya adalah kesalahan dia sendiri, karena itu ia mudah memaafkan orang lain dan selalu berbaik sangka kepada Allah Swt. Baginya, keberadaan orang yang berbuat salah sehingga mengusik kenyamanannya tak lain adalah perantara pembersih atas dosa yang telah lama ia lupakan. Inilah barangkali rahasia firman Allah, “dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada, apakah kalian tidak mau Allah mengampuni kalian semua”, (An-Nur: 22). Ayat ini turun berkaitan dengan salah seorang keluarga Abu Bakar yang menyakiti Aisyah dengan ikut menuduhnya berzina. Allah perintahkan Abu Bakar untuk memaafkan orang tersebut (Misthah bin Atsatsah). Setelah ayat ini turun Abu Bakar mengatakan, “kami sangat ingin Engkau ampuni kami wahai Tuhan kami”, setelah itu iapun memperlakukan Mistah seperti tidak pernah bersikap buruk apapun kepada Aisyah. Wallahu’alam, semoga Allah menerima doa kita di malam qadar.
* Penulis adalah Dekan Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe, dan salah seorang Pimpinan Dayah Ma’had Ta’limul Qur’an (Mataqu) Ustman Bin Affan Lhokseumawe. Ia juga dikenal sebagai Teungku Balee, dan dai ternama di Lhokseumawe.








