BANDA ACEH – Ketua DPRK Arief Fadillah mempertanyakan penghargaan yang diraih Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal itu, sementara di lapangan masih amburadul.
Saya bingung bagaimana cara pengkajian dan standar penilaiannya di mana sehingga jadi yang terbaik, kata Arief Fadillah, saat Jep Kupi Ngon Awak Media di Ruang banleg DPRK setempat, Jum'at 15 April 2016 kemarin.
Penyediaan air bersih yang di sana sini masih macet. Wali Kota Banda Aceh belum mampu mengatasi krisis air bersih di kota madani ini. Masalah lain yaitu tata cara pengelolaan pasar, perparkiran yang amburadul, kata Arief.
Ketua DPRK Mempertanyakan pembangunan sarana yang memakan anggaran tidak sedikit itu, seperti terminal labi-labi cuma jadi tempat tidur gelandangan dan penjual sepatu di depan Pasar Aceh yang dikejar Satpol PP.
Itu pun dimanfaatkan setelah pihak DPRK bermusyawah supaya penjual sepatu itu diberi lokasi untuk berjualan sepatu di malam hari di terminal labi-labi itu, katanya.
Begitu juga Pasar Batoh, kata Arief, pasar yang sudah dibuat itu tidak berjalan, dan sekarang menjadi tempat pemabayaran PDAM.
Ini menjadi dilema sendiri karna itu bantuan dari APBN, itukan sangat mubazir. DPRK tetap mengawasi kebijakan Pemerintah Kota dan ini kita dediasikan ke seluruh warga di Banda Aceh supaya Kinerja Wali Kota berjalan sebagaimana mestinya. Jangan cuma terima penghargaan tapi pengelolaan kota masih amburadul,” kata Arief Fadillah.[](tyb)
Laporan Ramadhan



