ACEH UTARA – Warga Gampong Alue Bili Geulumpang, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara, mengeluhkan tidak adanya suplai air bersih dari Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Pase sejak dua bulan terakhir pascabanjir.

Hingga saat ini masyarakat setempat mengaku belum menikmati air bersih dari Tirta Pase. Bahkan pada 23 Januari 2026, ada warga terpaksa mencuci pakaian menggunakan air keruh di parit.

Keluhan itu awalnya disampaikan salah seorang warga, Ahad, 25 Januari 2026, malam. Saat itu, portalsatu.com/ mengkonfirmasi Direktur Teknik Perumda Tirta Pase, Ferry Syahputra, S.T., menyatakan bahwa pada Senin (26/1) petugas akan ke lokasi lagi untuk mengecek kondisi di lapangan.

Pengakuan warga hingga Rabu, 28 Januari 2026, tim teknis Perumda Tirta Pase belum turun ke lokasi untuk mengecek apa yang menjadi kendala di gampong tersebut.

“Masyarakat di sini sudah dua bulan belum menerima air bersih sumber PDAM (Perumda) pascabanjir bandang. Selama ini kami memanfaatkan air sumur gali dengan kondisi air sudah berbau dan keruh disebabkan banjir. Padahal, kebutuhan air layak pakai sangat mendesak untuk sehari-hari,” kata Zulfikar, warga Gampong Alue Bili Geulumpang, Kecamatan Baktiya, Rabu (28/1).

Bahkan, menurut Zulfikar, beberapa hari lalu sebagian masyarakat harus mencuci pakaian menggunakan air parit di depan rumah mereka. Sementara kondisi hari ini, kata dia, sudah tidak ada lagi air parit itu, sehingga warga memanfaatkan air sumur tanah (sumur gali) yang kurang layak pakai karena sangat keruh.

[Warga Gampong Alue Bili Geulumpang mencuci pakaian menggunakan air parit, Jumat, 23 Januari 2026. Foto: Istimewa]

Keuchik Gampong Alue Bili Geulumpang, Mukhtaruddin, juga mengaku hal yang sama bahwa pascabanjir bandang Aceh Utara hingga kini belum normal suplai air dari Tirta Pase.

“Sebagian besar masyarakat kami bergantung pada air bersih dari Tirta Pase. Saat ini banyak warga yang mengeluhkan kepada saya. Kalau sebelumnya ada bantuan air bersih yang dibawa dengan mobil tangki, tapi sekarang tidak ada lagi karena masa tanggap darurat bancana sudah selesai,” ujar Mukhtar.

Menurut Mukhtar, karena sudah lama tidak ada suplai air bersih dari Tirta Pase, masyarakat beralih ke sumur gali meskipun kondisi airnya tidak bagus.

“Untuk itu, kami mengharapkan kepada Perumda Tirta Pase segera memperbaiki di mana ada kerusakan jaringan pipa distribusi air untuk wilayah Kecamatan Baktiya. Air bersih kebutuhan utama bagi masyarakat,” ucap Mukhtar.

Direktur Teknik Perumda Tirta Pase, Ferry Syahputra, dikonfirmasi portalsatu.com/, Rabu (28/1), mengatakan pada Selasa (27/1) kemarin suplai air ke wilayah Kecamatan Baktiya hasil monitoring di lapangan belum maksimal. “Besok (Kamis) baru dicek lagi ke arah Baktiya, karena jadwal (distribusi) air besok,” ujarnya.

Ditanya apa kendala utama sehingga suplai air ke wilayah kecamatan itu belum normal, Ferry menyebut kondisi air baku atau level air sungai di intake (penangkapan air baku) dalam pekan lalu sangat minim.

“Informasi baru tadi malam ada peningkatan level di sungai, dan untuk besok (Kamis) baru kami akan ke lokasi Kecamatan Baktiya sesuai pengaturan jadwal suplai air distribusi. Untuk wilayah Baktiya sumber Instalasi Pengolahan Air (IPA) Lhoksukon 3 yang berada di Gampong Meunasah Reudeup,” kata Ferry.

Ferry melanjutkan, “Untuk operasional pascabanjir kita belum optimal. Masih ada yang beroperasi darurat, seperti pipa perlintasan di jembatan Sampoiniet (Kecamatan Baktiya Barat) yang kami perbaiki darurat”.

Saat ini, lanjut Ferry, level air permukaan sungai atau Krueng Keureuto Aceh Utara sangat rendah dan menurun drastis. Sehingga pihaknya hanya bisa memproduksi sekitar 45 persen dari kapasitas produksi dan suplai air menjadi terputus-putus.

Direktur Utama Perumda Tirta Pase, Imran, dikonfirmasi pada Ahad (25/1) malam lalu, menjelaskan kondisi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Lhoksukon 3 saat ini masih beroperasi terbatas. Sebab, masih ada jaringan pipa Jaringan Distribusi Utama (JDU) yang beroperasi darurat, seperti jembatan perlintasan pipa JDU di Sampoiniet, Baktiya Barat, serta Gampong Matang Kumbang dan Alue Ie Puteh, Kecamatan Baktiya.

“Saat ini masih dilakukan pembagian jadwal pendistribusian air untuk wilayah Kecamatan Seunuddon, Baktiya dan Baktiya Barat, dikarenakan air yang tersuplai masih terbatas. Perumda Tirta Pase masih melakukan pembenahan jaringan pipa distribusi pada wilayah-wilayah yang belum mendapatkan suplai air pascabanjir,” kata Imran.

Imran juga menyampaikan dalam empat hari terakhir terjadinya penurunan level permukaan air Sungai Keureuto yang sangat signifikan di intake Lhoksukon. Sehingga IPA Lhoksukon 3 hanya dapat beroperasi sekitar 45 persen dari kapasitas produksinya.

“Hal ini juga mengganggu sistem pembagian suplai air yang telah kami jadwalkan, sehingga menyebabkan di beberapa daerah yang dilayani menjadi berkurang suplai air,” ujarnya.

Menurut Imran, untuk wilayah Gampong Alue Bili Geulumpang masih belum tersuplai seluruhnya. Hanya beberapa rumah yang dekat dengan jalur induk baru tersuplai.

“Kami tetap fokus memperbaiki, hanya saja kondisi pascabanjir memang infrastruktur rusak parah. Dan kami hanya mampu memperbaiki bertahap demi tahap. Belum lagi kondisi sungai yang di luar kebiasaan sering terjadi perubahan kualitas atau bahkan terjadi kekurangan debit air sungai, khususnya di Krueng Keureuto yang sumber air suplai ke Lhoksukon sampai Baktiya. Mohon bersabar, karena kami terus memperbaiki jaringan ke setiap wilayah suplai yang ada,” ucap Imran.[]