BANDA ACEH – Dua Guru Besar dari dua Universitas Islam Negeri (UIN), meminta agar dilakukan pengkajian ulang sejarah terkait ditetapkannya Barus, Sumatera Utara sebagai titik nol peradaban Islam di Nusantara.

Kedua Guru Besar tersebut adalah Prof. Dr. Azyumardi Azra dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Prof. Dr. Farid Wajdi Ibrahim dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Prof. Azyumardi dalam seminar sejarah yang digelar di Gedung Pascasarjana UIN Ar Raniry, Banda Aceh, Senin, 15 Mei 2017 mengatakan, penetapan titik awal peradaban Islam di Nusantara harus diluruskan berdasarkan bukti-bukti sejarah.

“Saya kira harus diluruskan berdasarkan bukti-bukti. Dan bukti-bukti yang ada sudah cukup memadai dan kuat, serta diakui para sejarawan dan para ilmuan,” kata Azyumardi.

Ia mengatakan, penulisan sejarah itu harus berdasarkan bukti dan bukan dengan sejarah yang dibuat-buat karena itu dapat menyesatkan. Oleh karena itu dia meminta Jamiyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) untuk melakukan kajian kembali sejarah peradaban Islam di Nusantara.

Baca: JBMI Harus Kembali Melihat Sejarah Peradaban Islam

Sementara Rektor UIN Ar Raniry Prof. Dr. Farid Wajdi Ibrahim berharap, semua pihak harus melakukan kajian kembali.

“Harapannya semua pihak sekarang buka mata kembali dan membuat kajian kembali. Walaupun ini sudah ada kesimpulan bahwa di Barus tidak punya dasar,” kata Farid.

Dia juga menjelaskan, jika penetapan Barus berdasarkan data-data yang lengkap dan sudah ditemukan, Guru Besar UIN Ar Raniry ini akan menerimanya.

“Secara akademik, mungkin saja besok ada data, itu bisa saja kita setuju ke sana kalau memang ada data-datanya,” kata Farid.

Baca: Teori Aceh Daerah Pertama Kali Menjadi Pusat Peradaban Islam

“Karena sejarah itu ada dokumen (data), dan no document no history. Kalau ada catatan, kita orang sejarah akan fair-fair saja,” katanya lagi.[]