BANDA ACEH – Arkeolog asal Aceh, Dr Husaini Ibrahim, MA, menyambut positif penetapan Barus sebagai Titik Nol Peradaban Islam di Nusantara. Hal tersebut dikarenakan Jamiyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) melihat kondisi daerah tersebut.
Artinya mereka melihat kondisi rill di lapangan, khususnya di Barus sekarang, masalah-masalah Islam ini sangat terbelakang. Sehingga mereka tertarik untuk membangkitkan kembali kejayaan Islam yang lalu, kata Husaini dalam seminar sejarah yang berlangsung di Pascasarjana UIN Ar Raniry, Senin, 15 Mei 2017.
Seperti diketahui, JBMI merupakan elemen masyarakat yang mengusulkan agar Barus ditetapkan sebagai Titik Nol Peradaban Islam di Nusantara. Usulan ini kemudian disambut Pemerintah Indonesia pada 24 Maret 2017 lalu.
Husaini Ibrahim memandang positif alasan yang dikemukakan JBMI. Namun dia menyayangkan apabila penetapan tersebut tidak berdasarkan nilai-nilai historis sebagai bukti pendukung. Hal tersebut menurutnya akan membuat masyarakat salah dalam beranggapan mengenai peradaban Islam di Nusantara.
Namun dari sudut penetapan nama, sehingga itu bisa menimbulkan perbedaan, Aceh atau mana yang sebenarnya. Sehingga orang beranggapan ada kebenaran tentang penetapan Barus sebagai Titik Nol Peradaban Islam di Nusantara. Padahal dari sudut historis, peninggalan-peninggalan yang ada, ya kurang mendukung, kata dosen sejarah di Unsyiah ini.[]


