BANDA ACEH – Anggota DPD RI sekaligus musisi asal Aceh, Rafli Kande, angkat bicara terkait terkait Barus, Sumatera Utara yang dijadikan titik nol peradaban Islam di Nusantara, bukannya di Aceh.
Pendapat saya adalah, Barus menjadi titik peradaban nol Islam Nusantara, ini pandanglah sebuah hikmah, bagaimana Islam harus kita dakwahkan, kata Rafli saat menghadiri seminar sejarah di Pascasarjana UIN Ar Raniry, Senin, 15 Mei 2017.
Rafli sangat menyayangkan apa yang terjadi saat ini pada agama Islam di Barus yang sebelumnya begitu dikenal.
Saya melihat dengan sudut pandang yang sangat luas. Artinya bagaimana harus kita melihat Islam yang rahmatan lilalamin ini menyebar betul, kata musisi pelantun lagu Seulanga ini.
Baca: Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah: Aceh Titik Nol Peradaban Islam di Nusantara
Di Barus, dulu kita mengenal bagaimana romantisme keislaman itu hebat. Namun tiba-tiba di situ sudah terjadi pengikisan Islam yang sangat luar biasa sekali, katanya lagi.
Sehubungan dengan kejadian nyata agama Islam yang terjadi saat ini di Barus, anggota DPD RI ini mengajak alangkah lebih baiknya didorong agar agama Islam di sana bangkit kembali.
Nanti kita dorong Pemerintah Pusat di Barus itu harus didirikan masjid yang besar agar kembali hidup para mubaligh. Bagaimana saudara-saudara kita yang non-muslim yang ada di sekitarnya itu dapat hidayah sehingga mereka itu merasakan kembali roh keislaman, kata Rafli.
Baca: ''Barus Sudah Terkenal Sebelum Masuknya Islam ke Nusantara''
Saya yakin dulu di sana itu lebih banyak Islamnya. Mungkin zaman kolonial terjadi Kristenisasi dan segala macam. Saya melihat, titik nol Islam Nusantara di Barus kita pandang sebagai hikmah, kata Rafly.
Adapun dalam seminar tersebut, Rafli diberikan kesempatan untuk melantunkan 2 syair lagu. Lagu yang pertama menceritakan tentang kehidupan dan dekatnya kematian, di mana syairnya sendiri diambil dari nisan Malik Al Shaleh. Sedangkan lagu kedua yang dinyanyikan Rafli menceritakan tentang Hamzah Fansuri.[]


