BLANGKEJEREN – Dua santri Pesantren Raudatul Jihad Cinta Maju jatuh ke jurang Jalan Porang-Anak Reje yang amblas, Rabu, 6 April 2022, malam. Akibat kejadian itu, korban mengalami luka dan patah tulang tangan hingga dilarikan ke Rumah Sakit Muhammad Ali Kasim (RSUMAK).

Santri yang menjadi korban itu Mulia Jaya, 17 tahun, warga Desa Gumpang Pekan, Kecamatan Putri Betung, dan Ramadan,17 tahun, warga Desa Tetinggi, Kecamatan Blangpegayon. Keduanya merupakan santri yang duduk di bangku kelas dua SMA Raudatul Jihad Cinta Maju

Johari, salah satu keluarga korban, Kamis, 7 April 2022, mengatakan kejadian itu bermula saat kedua santri melaksanakan shalat Tarawih di Masjid Jami’ Desa Porang sembari memberikan ceramah. Setelah melaksanakan Tarawih, keduanya pulang melalui Jalan Porang-Anak Reje dengan mengendarai kendaraan roda dua jenis RX-King.

“Saat sampai di Jalan Porang-Anak Reje yang amblas itu, keduanya jatuh ke jurang, dan kondisinya sudah sekarat. Sementara kondisi dalam keadaan gelap dan tidak ada orang yang lewat. Kemudian salah satu santri itu sadar dan berusaha merayap ke badan jalan, sehingga saat ada warga melintas langsung mengetahui mereka dan langsung dibawa warga ke RSUMAK,” katanya saat menghubungi portalsatu.com/.

Hingga saat ini, kata Johari, kedua santri masih dalam perawatan medis dan dukun patah. Pihak keluarga mempertanyakan bagaimana pertangungjawaban Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) terhadap korban tersebut.

Mansuruddin, S.T., Kepala Dinas PUPR Gayo Lues, mengatakan mengenai Jalan Porang-Anak Reje itu sudah pernah dikoordinasikannya dengan Sekretaris Daerah (Sekda) tentang anggaran perbaikan jalan yang amblas tersebut.

“‘Kalau anggarannya dari PUPR, itu harus diprogramkan dulu, anggaran yang ada tidak cukup. Sehingga waktu itu Pak Sekda memerintahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) meninjau kondisi jalan Porang-Anak Reje,” katanya melalui telepon WhatsApp.

Sementara mengenai tanggung jawab Dinas PUPR terhadap korban yang jatuh di jalan berlubang atau jalan amblas, Mansuruddin mengatakan tidak ada kompensasi dari PUPR terhadap korban. Pihaknya hanya bisa mengimbau agar pengendara berhati-hati saat melintasi jalan berlubang, jalan amblas atau jalan rusak lainnya, karena keterbatasan anggaran di tengah pandemi ini, tidak semua jalan bisa diperbaiki.

Suhadi, Kepala BPBD Gayo Lues melalui Mustafa, S.T., Kabid Rehabilitasi dan Rekontruksi BPBD, mengatakan pihaknya sudah pernah meninjau lokasi setelah mendapat perintah dari Sekda, tetapi belum dikerjakan perbaikan lantaran anggaran yang dibutuhkan sangat besar.

“Intinya kami siap melakukan perbaikan Jalan Porang-Anak Reje kalau diperintahkan pimpinan. Dan mengenai kepastiannya, kami akan berkoordinasi dulu dengan pimpinan, karena anggarannya besar, jalan yang akan diperbaiki pendek tetapi dalam,” katanya.

Menanggapi Jalan Porang amblas memakan korban, salah satu pimpinan DPRK Gayo Lues H. Ibnu Hasim ikut memberikan tanggapan. Menurutnya, dana pemeliharaan jalan dan jembatan Rp3 miliar sudah termasuk besar, asalkan dana pemeliharaan ini tidak dimaknai sebagai proyek.

“Dana pemeliharaan rutin jalan dan jembatan, bukanlah sedianya seperti pengelolaan kegiatan proyek yang dikerjakan seperti pembangunan dan peningkatan. Tetapi pemeliharaan rutin tidak lebih dari pembersihan dari semak jalan, pembersihan parit, atau penempelan badan jalan yang berlobang,” kata Wakil Ketua DPRK Gayo Lues itu melalui pesan WhatsApp.

Ibnu Hasim mengaku, selama lima tahun terakhir, pemeliharaan rutin dimaknai seperti peningkatan jalan, sehingga di mana-mana banyak jalan yang tidak bersahabat hingga ada yang menimbulkan korban.

“Untuk mewujudkan pengelolaan pemeliharaan rutin, diperlukan regulasi sehingga penanganannya tidak liar dan tidak ada peluang menguntungkan pihak tertentu,” ucapnya.[]