__sebab dunia hanya panggung uji, baik dan buruknya  diukur dengan syukur atau kufur__

Oleh Taufik sentana*

Benarlah kalimat ” dunia sebagaimana seorang tua yang terus bersolek”. Ia semakin cantik, bersinar dan cerlang.

 Padahal dunia ini telah sedemikian tua renta dan rapuh. Dunia telah di paruh kehancurannya bahkan sejak Nabi Mulia Muhammad SAW diutus, itu pula yang menjadi bagian misinya “rahmat bagi semesta” dan khususnya dunia.

Dunia hanyalah selayaknya warisan untuk orang orang salih. Ketidaksalihan dan keingkaran adalah keniscayaan lain atas “kehendak bebas” manusia. Sebab Nabi nabi telah diutus guna menjadi poros penyeimbang kebaikan dunia.

Tapi misi mereka telah selesai, beberapa kaum telah hancur, beberapa pemimpin zalim telah binasa. Beberapa kisah sejarah umat masih sampai pada kita.

Dan kita semakin sulit belajar, apatah lagi dengan capaian perdabaan saat ini, seakan dunia bekerja sendiri dan kita saling berbangga dengan teknologi, Akal, kekuasaan dan pasukan pasukan tempur.

Nabi Mulia  kita telah mensiyalir, bahwa setelah kepergiannya, kita akan melihat pertikaian yang banyak, perselisihan, persekongkolan dan ragam keegoisan atau kediktatoran.

Hanya dengan menempuh jalan kenabianya yang  akan menjadi penyeimbang poros kebaikan dunia, sambil menggigit tali ajarannya dengan gigi geraham: Sebab dunia hanya panggung uji, baik dan buruknya  diukur dengan syukur atau kufur.[]

*Peminat prosa sufistik.
Menyusun Antologi Password Kebahagiaan.