SUBULUSSALAM – Seratusan lebih masyarakat ekskorban konflik di Kecamatan Runding, Kota Subulussalam, Provinsi Aceh kembali ke permukiman setelah 16 tahun mereka tinggal di tempat penampungan di Kampung Pasar Runding sejak konflik Aceh meletus pada tahun 2000 silam.
“Hari ini masyarakat ekskorban konflik warga Kampung Tualang dan Mendilam telah kembali ke kampung halaman mereka,” kata Camat Runding Irwan Faisal kepada wartawan, Sabtu 12 November 2016.
Ia mengatakan perpindahan ini sudah direncanakan tahun lalu, namun masyarakat belum bersedia karena di sana belum ada jaringan listrik PLN. Setelah ditunggu sampai tahun 2016 jaringan listrik juga belum masuk, padahal pihak PLN pernah berjanji untuk mewujudkan hal tersebut.
“Sekitar 104 KK masyarakat Tualang dan 40 KK warga Mandilam, memilih pindah sekarang walaupun listrik belum ada. Mereka berharap pihak PLN Cabang Subulussalam bisa segera memasang jaringan listrik di kampung mereka,” katanya.
Faisal menyebutkan pemasangan tiang listrik saat ini sebatas Kampung Lae Mate dan belum sampai ke Tualang dan Mendilam. Karena itu ia berharap pemerintah Kota Subulussalam supaya mendorong pihak PLN untuk percepatan pemasangan instalasi jaringan listrik di wilayah pedalaman itu.
Pemerintah, kata Irwan Faisal juga telah membangun rumah layak huni sebanyak 97 di Kampung Tualang dan 40 unit di Kampung Mendilam dan masih ada beberapa warga belum mendapat rumah bantuan sehingga masih ada yang menetap di Kampung Pasar Runding.
Camat Runding Irwan Faisal mengatakan sebelumnya sejumlah warga ekskorban konflik sudah terlebih dahulu kembali ke permukiman seperti Kampung Lae Mate, Kuta Beringin, Geruguh dan Tanah Tumbuh. Mereka dulunya sempat mengungsi akibat konflik bersenjata di Aceh tahun 2000 lalu.
Irwan Faisal menambahkan ekskorban konflik menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Kampung Pasar Runding yang sudah menerima mereka selama berada di tempat penampungan.
Faisal menambahkan, Wali Kota Subulussalam, Merah Sakti bersama Wakil Wali Kota Salmaza turut mengantar langsung warga ekskorban konflik ke permukiman yang berada di bantaran sungai Souraya. Sejumlah perusahaan juga turut membantu proses mobilisasi masyarakat Tualang dan Mendilan.[]



