SIGLI – Sebanyak 157 jiwa dari 44 kepala keluarga (KK) penghuni Kompleks Perumahan Tsunami Gampong Dayah Tutoeng, Kecamatan Pidie, Pidie, kini mengungsi akibat rumah mereka terendam banjir dengan ketinggian 50 centimeter, Senin, 14 Desember 2020.  

Sementara 25 KK warga Gampong Lhok Keutapang dan 15 KK warga Gampong Seukuembroek Kecamatan Pidie rumahnya terendam tapi tidak mengungsi lantaran ketinggian air hanya selutut anak – anak dan cepat surut. Sedang untuk Gampong Gajah Aye sekitar 40 unit rumah  yang sempat terendam banjir. Namun laporan 1 rumah nyaris amblas ke sungai akibat banjir.

Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pidie, Junidar, kepada portalsatu.com, Senin, 14 Desember 2020, mengatakan, banjir tersebut akibat luapan sungai Baro Raya. Tidak ada korban jiwa dalam musibah itu, namun sejumlah rumah warga dan fasilitas umum rusak dihantam banjir.

(Mobil damkar menyedot air yang merendam rumah warga untuk dibuang ke saluran. Foto istimewa)

Kondisi terparah menurutnya terjadi Gampong Dayah Tutoeng, ketinggian air hampir 50 cm hingga merendam komplek perumahan Tsunami. Kondisi itu membuat penghuni komplek yang jumlahnya 44 KK dengan total 157 jiwa terpaksa mengungsi di Komplek Meunasah setempat.

“Karena tidak ada saluran pembuang, genangan air sulit untuk surut. Kita harus melakukan penyedotan menggunakan armada pemadam,” ungkap Junidar.

Sedangkan di sejumlah gampong lain menurutnya, air sudah surut sehingga warga tidak mengungsi. Meski demikian warga masih tetap was – was jika hujan turun lagi karena cuaca masih mendung.

Selain terendam Junidar juga menjelaskan ada beberapa rumah warga rusak dan nyaris amblas dimakan abrasi, seperti 2 unit rumah warga Gampong Paloh, 1 unit rumah warga Gajah Aye dan 12 rumah warga Gampong Lhok Keutapang terkikis abrasi.

“Semua rumah yang abrasi itu berada di tebing sungai DAS Baro Raya,” jelasnya yang menerangkan juga ada ruas jalan di Gampong Tumpoek Lawueung dan Jembatan Gantung Gampong Pukat rusak.[]