Oleh: Taufik sentana*
Sebuah negeri tumbuh dan besar
dari kepingan zamrud. Ia menjadi buaian tempat setiap hati terpaut. Dari Timur dan Barat, si hitam dan si putih, ingin berjalan bersisian.
Negeri itu terus tumbuh dan membesar
menjadi bagian kepingan hasrat dan hegemoni, dari yang liberasi, sekular dan anti tuhan. Para bijak banyak yang takut dengan kalimat: membusuk perlahan. Atau terbelah seperti awal mula menjadi bagian kecil yang mudah direbutkan.
Anak anak negeri tumbuh membesar dan belajar mengerti. Bahwa hari hari, hakikatnya tidak semakin mudah. Kehidupan semakin sempit dan asing dalam laju teknologi, hiburan dan hiasan kota. Keterasingan antarkita adalah tragedi, keterikatan dalam strategi pembenaran dan penyimpangan menjadi alur logika yang terbalik.
Benar-salah menjadi batas abu-abu sesuai kepentingan. Ini akan terus menjadi tragedi bila batas batasnya tak semakin jelas: Benar FirmanNya,
Suatu kaum mencukupi syarat kehancuran bila para pembesarnya melakukan kerusakan: moga doa doa si yang lemah menjadi tirai dari takdir buruk. Wal'iyadz billah.[]
*Peminat studi sosial.



