Menjadi terpelajar tidak cukup hanya dengan selembar ijazah dan sertifikat. Sebab dalam praktik keseharian, ijazah itu akan disimpan di laci atau lemari, dan yang diharapkan kemudian adalah performa pribadi, kinerja diri dan implikasi sosial yang relevan.

Mereka yang dianggap terpelajar mestilah melampaui semua tahapan pengembangan diri yang utuh, bilapun ia disebut sebagai kaum intelek, ia tidak bertumpu pada akal semata, tapi merangkum semua komponen kemanusiaannya: akal, hati, jiwa dan fisiknya.

Eksistensi kaum terpelajar tidak terhenti pada pencapaian profesi belaka, atau puas dengan jadwal kerja dan seremoni mekanis yang padat dengan gaji maksimal. Bila hanya berhenti pada level ini, sesungguhnya kampus dan sekolah hanya menjadi corong industri dan kapitalisme global: kaum yang terpelajar itu hanya sekadar menjadi “manusia- mekanik”, atau kelas pekerja yang ambisinya hanya pemenuhan perut dan kesenangan nisbi semata, seperti gengsi atau gaya hidup.

Meskipun kita tidak mengabaikan faktor profesi dalam level keterpelajaran, namun tuntutan menjadi terpelajar lebih tinggi dari itu. Kaum terpelajar mesti terhubung dengan perbaikan realitas sosial, terlibat dalam rangkaian kerja non linear dan terus mengeksplorasi kemampuan diri beserta jagat rahasia semesta.

Eksistensi kaum terpelajar melekat dalam seluruh aktivitasnya. Baik saat berdiri aktif, duduk rehat dan bahkan berbaring. Keseluruhan waktunya dituntaskan untuk mendalami hakikat kehambaannya dan bertafakkur guna mencapai pengertian dan penemuan baru yang berdampak pada skala diri dan universalitas. Hingga ia mengaku akan keaslian penciptaan dan senantiasa takut akan azabNya yang pedih.[]

Taufik Sentana
Praktisi Pendidikan Islam