Oleh: *Taufik Sentana.
Peminat studi sosial budaya. konsultan pendidikan Islam di Nuruttaufiq Islamic Education Consulting Aceh.
Sempat menjadi analis esai politik di portalsatu hingga pilpres 2024.
Kuntowijoyo dalam Buku Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi, mengetengahkan “Pengilmuan Islam,” sebagai pendekatan yang mengintegrasikan ilmu-ilmu sosial dan teologi dengan Alquran sebagai basis pemikiran.
Dalam pendekatan ini Kuntowijoyo tidak hanya melihat Alquran sebagai teks suci, tetapi juga sebagai sumber metodologi dan epistemologi untuk memahami dan menanggulangi masalah sosial, dengan fokus pada keadilan dan kesejahteraan sosial.
Ini kemudian menjadi Paradigma untuk aksi yang menekankan pentingnya menggunakan ilmu pengetahuan agar memihak kaum lemah dan terpinggirkan.
Dalam laman online “raden fatah” disebutkan bahwa Kuntowijoyo terinspirasi dari pemikiran Muhammad Iqbal, strukturalisme transendental, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Selain itu, ia juga terinspirasi oleh para penulis sastra Indonesia seperti Hamka, HB Jassin, dan Pramoedya Ananta Toer. Kuntowijoyo juga dibimbing oleh tokoh sastra M. Saribi Arifin dan Yusmanan.
Sehingga latar belakang ini benar benar memengaruhi kosmopolitan pemikirannya dalam membangun teori sosial.
Ekstaksi pengilmuan Islam:
Kuntowijoyo menawarkan pendekatan alternatif dari “Islamisasi Pengetahuan” (yang ia anggap sebagai proyek intelektual dari luar) dengan “Pengilmuan Islam” (proyek intelektual dari dalam Islam).
Proyek intelektual dari luar” maksudnya, kerja intelektual yang meninjau keilmuan Barat dan menggalinya (islamisasi) kemudian dalam paradigma Islam. Adapun pengilmuwan Islam adalah kebalikan dari itu tanpa mengesampingkan pengetahuan Barat.
“Pengilmuan Islam”, misalnya menekankan ekstraksi ilmu-ilmu sosial dan teologi yang bersumber dari Alquran untuk orientasi yang sama, yaitu (petunjuk) guna mencapai kesejahteraan/keselamatan umat manusia.
Al-Qur’an sebagai Akar Paradigma:
Kuntowijoyo memandang Alquran bukan hanya sebagai teks suci, tetapi juga sebagai sumber metodologi, epistemologi, dan etika dalam memahami dan membangun ilmu-ilmu sosial.
Ekstraksi pengilmuan Islam, sebagaimana disebut di atas, dalam konteks Kuntowijoyo, adalah proses yang mengubah konsep-konsep normatif-subjektif Islam menjadi formulasi empiris- objektif, dan inklusif. Sehingga Islam relevan dalam memecahkan masalah kemanusiaan dengan menggunakan “bahasa” dan metode yang diterima secara luas.
Dalam kaitan ini Alquran dipandang sebagai kerangka pemikiran yang memberikan perspektif baru untuk melihat dan menanggulangi masalah sosial.
Metodologi Profetik:
Kuntowijoyo mengembangkan konsep “Ilmu Sosial Profetik” yang berakar pada Alquran dan nilai-nilai nabi. Ilmu ini memiliki etika keberpihakan kepada kaum lemah dan berjuang untuk keadilan.
Kuntowijoyo menyebut ini dengan metode “strukturalisme transendental” untuk memahami Alquran secara kontekstual dan mengungkap nilai-nilai yang relevan dengan masalah sosial kontemporer.
Dengan langkah ini memungkinkan kita (yang mampu) untuk menginterpretasi Alquran secara dinamis dan relevan dengan perkembangan zaman tanpa merusak makna asli Alquran sebagai teks ilahi.
Simpulan:
Pemikiran Metodologi Kuntowijoyo memiliki sisi integrasi-transendensi, yaitu menekankan pentingnya mencari solusi yang tidak hanya bersifat material, tetapi juga spiritual dan berakar pada nilai-nilai agama Islam.
Dengan metodologinya seakan Kuntowijoyo ingin memadukan keilmuawan barat dan Islam, atau ianya ingin (berhasrat) agar masyarakat ilmiah muslm membangun epistimologi tersendiri dalam menyelesaikan problem sosial.[]





