Oleh: Dr. dr. Budi Yanti, Sp.P*

Wabah flu pernapasan ini mirip penyakit Severe Acute Respiratory Infection (SARS) dan berpotensi menular dari orang ke orang. Penyakit SARS adalah penyakit flu berat yang pertama kali muncul pada bulan November 2002 di Provinsi Guangdong, di negeri  Tiongkok  juga. Sekitar 10% dari penderita SARS meninggal dunia.

Setelah Tiongkok membungkam berita wabah SARS baik internal maupun internasional, SARS menyebar sangat cepat, mencapai negeri tetangga Hong Kong dan Vietnam pada akhir Februari 2003, kemudian ke negara lain dengan perantaraan wisatawan internasional. Kasus terakhir dari wabah SARS ini terjadi pada Juni 2003. Dalam wabah itu, 8.069 kasus muncul yang menewaskan 775 orang. Di penghujung tahun 2019, di negara yang sama yaitu di Cina, virus SARS ini kembali berubah menyerang ke manusia dikenal dengan flu Huwan.

Komisi Kesehatan Nasional Cina mengatakan, awalnya terdapat 27 kasus flu Huwan ini, kemudian meningkat menjadi 59 kasus dengan usia rata-rata 12-59 tahun. Mengutip data resmi Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, jumlah tersebut semakin meningkat hingga Sabtu (25/1), dilaporkan terdapat sekitar 1.297 orang yang positif terinfeksi virus flu Huwan yang dtemukan di 13 provinsi di Cina. Di mana 41 orang telah dinyatakan meninggal dunia.

Hasil investigasi menunjukkan kemungkinan penyebab kasus-kasus ini terkait dengan SARS yang disebabkan oleh Coronavirus dan pernah menimbulkan wabah di tahun 2002. Sehingga dari data diatas Badan Kesehatan Dunia yaitu WHO secara tegas mengatakan bahwa virus corona ini terbukti berbahaya karena penularannya sangat cepat dari manusia ke manusia lainnya.

Beberapa peneliti menilai, jumlah kasus diatas adalah perkiraan yang terlalu rendah. Dengan menjalankan analisis statistik dan ekstrapolasi dari keberadaan kasus di luar negeri, berdasarkan data yang diterbitkan oleh Imperial College London, sebuah pusat penelitian penyakit menular memperkirakan bahwa jumlah infeksi flu Wuhan bisa saja mencapai kisaran sekitar 3000 kasus, atau lebih dari delapan kali lipat dari saat ini.

Virus flu di Wuhan, Cina ini sebagian besar ditemukan berasal dari kelelawar dan ular yang sangat cepat beradaptasi dengan sel tubuh manusia. Analisis berdasarkan kekerabatan genetik, virus ini hanya 80% mirip dengan nenek moyangnya yaitu virus SARS. Sedangkan 20% sisanya adalah gen yang mengalami mutasi dan menghasilkan rangkaian genetik DNA yang baru berbeda dari sebelumnya. Sehingga tampak jelas bahwa ini adalah virus baru yang disebut sebagai Novel virus, terlihat dari kode yang disematkan oleh WHO untuk jenis virus ini yaitu virus n-CoV-2019. Virus yang muncul di akhir tahun 2019 ini adalah corona virus generasi terbaru sebagai hadiah untuk manusia dalam perayaan tahun baru Cina di bulan januari tahun ini.

Karena sejatinya, virus hanya dapat berreproduksi di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup lain dan juga karena virus tidak memiliki perangkat sel yang lengkap untuk bisa menggandakan diri sendiri sehingga virus butuh tempat untuk berreplikasi, apatah lagi alam tidak memberikan kesempatan dan tempat yang nyaman untuk corona virus ini melakukan pembelahan diri dan replikasi, sehingga dengan terpaksa ia harus mencari sel hewan atau sel manusia yang dipilih dan dianggap layak sebagai tempat untuk melakukan replikasi rangkaian DNA genetik yang ia miliki.

Problemnya adalah supaya bisa masuk dan ikut bersama pembelahan sel manusia, virus ini harus bisa berada di dalam sel manusia yang telah dipilihnya. Ini bukan kerja mudah. Virus ini harus pintar dan lihai dengan berusaha semaksimal mungkin menyamakan reseptor dirinya dengan reseptor yang ada pada sel manusia sehingga dua reseptor ini terpaut satu sama lain bagaikan kunci dengan lobang sehingga pintu bisa terbuka. Dan bila usaha ini gagal.

Virus flu Wuhan tidak kehabisan akal, dia akan memutar otaknya untuk mengubah reseptor yang dia punya agar sesuai dengan reseptor sel manusia. Dasar virus pintar, dengan kedipan mata, dia bisa melakukan mutasi genetik secepatnya dan alhasil terbukti dia mampu melakukan penularan langsung dari manusia ke manusia. Ini menandakan bahwa hasil mutasi genetik reseptornya benar-benar telah sesuai dan “klik” dengan reseptor sel manusia.

Selain di Wuhan Tiongkok, beberapa negara telah melaporkan kasus-kasus curiga terkena virus flu ini seperti Singapura, Seoul, Thailand dan Hongkong. Di Singapura dan Bangkok terdapat penerbangan langsung dari Huwan. Berdasarkan Press Release yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia bahwa WHO telah mengkonfirmasi ada satu kasus di Thailand, terdeteksi virus baru yang berasal dari infeksi pernapasan di Tiongkok.

Kasus ini terjadi karena pasien tersebut baru melakukan perjalanan dari Wuhan Tiongkok. Berdasarkan data dari United Nations maret 2018, terdapat banyak negara atau tempat yang menjadi tujuan pengunjung dari Wuhan diantaranya Bangkok, Hongkong, Tokyo, Singapura, Denpasar Bali Indonesia, Macau, Dubay, Sydney dan masih banyak negara lainnya. Namun WHO belum merekomendasikan secara spesifik untuk pembatasan perjalanan keluar negeri atau pembatasan perdagangan dengan Tiongkok. Saat ini WHO masih terus melakukan pengamatan.

Sebagai masyarakat Aceh, meskipun kita berada jauh dari Cina, tetap saja kita harus waspada dan mawas diri untuk melakukan berbagai usaha mengantisipasi agar tidak tertular virus pintar ini. Tahap awal, kenali dulu gejala infeksi virus ini. Gejala yang muncul diantaranya adalah demam, lemas, batuk kering dan sesak napas atau sulit bernapas.

Bisa juga ditemukan kondisi yang lebih berat. Pada orang tua yang lanjut usia atau punya penyakit penyerta seperti kencing manis, nyeri sendi, darah tinggi dan lainnya memiliki risiko lebih tinggi untuk memperberat infeksi virus ini. Belum dipahami sepenuhnya cara penularan dan lama masa inkubasi virus ini. Beberapa temuan dari hasil survei di kota Wuhan Tiongkok, sebagian kasus terjadi pada virus corona diduga berasal dari pasar makanan laut di kota Wuhan, Cina tengah dan ditularkan dari hewan ke manusia.

Ada juga yang terinfeksi dalam beberapa hari terakhir, meskipun tinggal ratusan mil dari Wuhan. Beberapa pasien mengatakan mereka tidak mengunjungi pasar dan hanya melakukan kontak dengan orang-orang di Wuhan. Pasar Wuhan dekat dengan stasiun  kereta api utama, pusat perjalanan penting di ibukota negara.

Terkait pencegahan infeksi Corona virus ini dengan tegas Perhimpunan Dokter Paru Indonesia menyarankan beberapa hal yaitu: (1) Masyarakat jangan panik. (2) masyarakat tetap waspada terutama bila mengalami gejala demam, batuk, disertai kesulitan bernapas, segera cari pertolongan ke Rumah sakit terdekat. (3) Cuci tangan rutin, terutama setelah memegang hidung, mulut dan mata, serta setelah memegang alat-alat yang ada di tempat fasilitas umum. Cuci tangan dengan sabun cair bilas setidaknya 20 detik. Cuci dengan air dan keringkan dengan handuk atau kertas sekali pakai. Jika tidak ada fasilitas cuci tangan, dapat menggunakan alkohol 70-80% handrub. (4) Menutup mulut dan hidung dengan tissue ketika bersin atau batuk. Ketika memiliki gejala saluran napas, gunakan masker dan berobat ke puskesmas terdekat. (5) Hindari berdekatan dengan hewan seperti kucing atau burung. (6) Hindari mengunjungi pasar basah, tempat peternakan hewan atau pasar hewan hidup. (7) Hindari berdekatan dengan pasien yang memiliki sakit saluran pernafasan. (8) Setelah kembali dari Tiongkok, sebaiknya segera konsultasikan diri anda ke dokter jika terdapat gejala demam atau gejala lain dan beritahu dokter tentang riwayat perjalanan anda serta gunakan masker untuk mencegah penularan penyakit. Dan yang terakhir (9) Untuk saat ini, sebaiknya jangan kemana-mana, terutama jangan pergi ke Tiongkok. Semoga kita semua terhindar dari virus pintar ini.[**]

*Dosen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, FK Unsyiah/ RSUZA, Banda Aceh, Anggota Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Aceh