JAKARTA — Jumlah penderita HIV/AIDS dinilai semakin meningkat setiap tahunnya. Data Kementerian Kesehatan pada 2016, jumlah penderita HIV/AIDS di Jakarta sebanyak 45 ribu jiwa, dalam trimester tahun 2017, jumlah itu meningkat menjadi 48.502 jiwa.

Sebagian besar masih menutupi statusnya karena ketakutan mereka akan didiskriminasi dan dikucilkan dari lingkungan, termasuk anak-anak. Karena pemahaman tentang HIV/AIDS belum sampai ke element masyarat dan lingkungan pendidikan.

Merasa prihatin dengan kondisi tersebut, empat yayasan di Jakarta yaitu Yayasan Vina Smart Era yang berkonsenstrasi pada pendampingan Anak Dengan HIV/AIDS (ADHA), Yayasan Sahabat Putra Nusantara, Yayasan Harapan Permata Hati Kita, dan Yayasan Maslamah Kreatif mengadakan kegiatan edukasi dan konseling bersama ADHA di Pondok Wisata Hobi-hobi Bekasi, Sabtu, 24 Februari 2018. Keempat yayasan ini memiliki komitmen besar dalam menguatkan peran ibu, perempuan dan anak.

Aida, M. A dari Maslamah Kreatif mengatakan, anak-anak sebagai penerus bangsa perlu dilindungi, terutama anak-anak dengan HIV/AIDS. Penting membekali mereka agar memiliki kepercayaan diri yang tinggi, bertanggung jawab untuk diri sendiri, dan memiliki cita-cita tinggi selayaknya anak-anak Indonesia lainnya.

“Untuk itu perlu dilakukan kegiatan-kegiatan yang dapat menambah rasa percaya diri ADHA, menanamkan pada bagian bawah sadar mereka agar memiliki sikap dan pemahaman bertanggung jawab, sehingga virus tidak mudah ditularkan kepada lainnya,” kata Aida kepada portalsatu.com/, Senin, 26 Februari 2018.

Menurut Aida, usaha tersebut harus dimulai dari rumah, agar anak-anak lebih bersiap dan mampu mengatakan tidak pada narkoba, kekerasan fisik, paparan terhadap pornografi, dan pelecehan seksual yang ada di lingkungan rumah ataupun sekolah.

Kegiatan ini kata Aida melibatkan 100 anak dengan 100 caregivernya dengan sistem edutaiment bersama Kapten BENN (Benteng Nusantara melindungi anak-anak dari bahaya Narkoba, paparan pornografi, kekerasan bullying) di saat anak-anak belajar, di sisi lain para care giver akan mendapatkan edukasi dan konseling sebagai bekal pendampingan ADHA.

“Harapannya, setelah acara ini anak-anak dengan HIV/AIDS akan memahami bahwa mereka sama dengan anak-anak Indonesia lainnya, berhak memiliki cita-cita tinggi dan diperlakukan sama dengan anak-anak lainnya. Begitu pula bagi para caregiver, akan mendapatkan edukasi dan konseling, bagaimana seharusnya mendampingi ADHA dan dengan ilmu yang ia dapatkan, mampu memberikan pemahaman terhadap lingkungan rumah dan sekolah, sebagai upaya meminimalisir diskriminasi dan stigma terhadap anak-anak dengan HIV/AIDS,” kata Aida.[]