Ankara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah menegaskan bahwa reformasi konstitusi Turki tidak menjadikannya seorang diktator.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan CNN, Erdogan mengatakan bahwa paket reformasi konstitusi yang didukung oleh mayoritas pemilih Turki dalam sebuah referendum pada hari Ahad bukan tentang dia.
Saya benar-benar manusia biasa, saya bisa mati kapan saja, katanya pada Becky Anderson di istana kepresidenan Ankara, Selasa, dalam wawancara pertamanya sejak pemungutan suara.
Pemilih Turki pada hari Ahad mengikuti referendum tentang sebuah paket reformasi konstitusi 18-pasal yang akan mengubah sistem parlementer negara itu menjadi sistem kepresidenan eksekutif. RUU yang diajukan oleh Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), akan memberi kekuasaan eksekutif kepada Presiden.
Erdogan menolak tuduhan bahwa dia mendukung sitem yang baru karena keinginan untuk menjaga kekuasaan dirinya sendiri daripada memperbaiki sistem politik Turki. Sistem ini merupakan perubahan, sebuah transformasi dalam sejarah demokrasi Turki, katanya.
Di bawah undang-undang yang telah direvisi, jabatan Perdana Menteri akan dihapus dan memiliki wewenang untuk mengeluarkan dekrit. UU baru memberi presiden wewenang untuk menunjuk kabinet dan beberapa hakim senior.
Reformasi bukan langkah menuju kediktatoran
Erdogan membantah klaim bahwa reformasi merupakan langkah menuju kediktatoran. Di mana ada kediktatoran, Anda tidak perlu memiliki sistem presidensiil, katanya.
Di sini kita memiliki kotak suara
demokrasi mendapat kekuasaan dari rakyat. Itulah yang kita sebut kemauan nasional.
Margin kemenangan untuk suara Ya sangat tipis. Kampanye YA untuk amandemen berhasil meyakinkan 51,4% pemilih untuk mendukung reformasi konstitusional.
Erdogan belum menunjukkan tanda-tanda konsiliasi, terlepas dari kemenangan tipis referendum. Dengan mengajukan analogi olahraga, Erdogan mengatakan kemenangan adalah sebuah kemenangan. latar belakang saya dari dunia sepakbola, katanya. Tidak masalah jika Anda menang 1-0 atau 5-0. Tujuan utamanya adalah memenangkan pertandingan.
Pemilih Ya percaya masa depan Turki akan lebih aman dan lebih makmur dengan dinahkodai oleh pemimpin yang kuat.
Pada hari Senin, pemantau pemilu internasional menyampaikan kritikan tentang pelaksanaan referendum. Perwakilan dari sebuah koalisi badan internasional mengklaim pemungutan suara berlangsung di sebuah lapangan bermain tanpa tingkat, dengan kampanye ya yang mendominasi liputan media.
Erdogan mengecam temuan awal pemantau internasional, mengatakan kepada mereka untuk mengetahui tempat mereka, lapor Reuters.
Erdogan juga mengecam Uni Eropa, yang menetang dukungan penuh atas hukuman mati di Turki dan menyatakan kekhawatiran tentang bagaimana referendum dilakukan.
Eropa harus menepati janjinya
Membahas tentang Turki yang prosesnya telah lama terhenti untuk bergabung dengan UE, Erdogan menyebut negara anggotanya gagal mempertahankan sisi tawar-menawar mereka. Uni Eropa telah membuat kami menunggu di pintunya selama 54 tahun, kata Erdogan kepada CNN.
Ini dari sudut pandang hubungan politik, tidak dapat ditolerir. Kami telah berusaha keras untuk menerima semua persyaratan UE
Uni Eropa belum menepati janjinya
Uni Eropa harus menepati janjinya.
Jika mereka menepati janjinya, kita bisa duduk bersama. Kita bisa melihat langkah mana yang harus diambil.[]Sumber;CNN/middleeastupdate.net





