Di tengah sorotan dunia mengenai perlindungan data penggunanya, Facebook Inc. mengumumkan data sebagian besar dari 2 miliar penggunanya kemungkinan diakses secara tidak patut.
Perusahaan yang berbasis di California, AS itu menyampaikan telah menghapus fitur yang memungkinkan pencarian akun seseorang menggunakan alamat surat elektronik dan nomor telepon. Bloomberg melansir Kamis (5/4/2018), fitur itu disebut digunakan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang mengumpulkan data pribadi pengguna.
“Melihat skala dan kecanggihan aktivitas yang kami lihat, kami meyakini banyak pengguna Facebook yang datanya dikumpulkan secara tidak patut. Jadi, sekarang kami telah menghapus fitur ini,” demikian disampaikan Facebook dalam pernyataan resmi.
Perusahaan yang dipimpin oleh Mark Zuckerberg ini juga mengungkapkan data sebanyak 87 juta penggunanya, yang sebagian besar berada di AS, kemungkinan telah dibagikan secara tidak patut kepada Cambridge Analytica.
“Kami tidak melihat secara lebih luas apa yang menjadi tanggung jawab kami dan itu adalah kesalahan besar. Ini adalah kesalahan saya,” papar Zuckerberg kepada awak media.
Dia melanjutkan pihaknya tengah mengkaji ulang mengenai apa saja yang menjadi tanggung jawab Facebook secara lebih luas.
Permintaan maaf ini sekaligus menjadi pernyataan resmi Facebook mengenai skala penyalahgunaan data oleh Cambridge Analytica. Skandal tersebut awalnya diperkirakan berdampak terhadap 50 juta akun pengguna.
Namun, Zuckerberg membela model bisnis iklan yang dijalankan Facebook. Menurutnya, pemantauan atas minat orang tetap diperlukan agar iklan yang ditujukan ke masing-masing pengguna menjadi tepat.
Zuckerberg menegaskan akan tetap memimpin platform media sosial ini dan mengklaim tidak ada dampak berarti dari beberapa kampanye yang mendorong publik untuk menghapus akun mereka.
Mulai 9 April 2018, Facebook akan menginformasikan para pengguna mengenai apakah data akun mereka termasuk yang diserahkan ke Cambridge Analytica. Informasi ini akan disampaikan melalui news feed.
Dia juga belum mengonfirmasi apakah Cambridge Analytica masih memiliki data para pengguna Facebook.
“Kami tidak akan bisa menemukan semua data yang disalahgunakan, tapi kami bisa membuat penyalahgunaan data menjadi lebih sulit dilakukan. Saya rasa saya akan bisa mengungkap sebagian besar data yang digunakan dengan tidak patut,” jelas Zuckerberg.
Setelah pernyataan ini disampaikan, saham Facebook naik hampir 3% dalam sesi perpanjangan perdagangan setelah ditutup di level US$155,1 di bursa New York.
Cambridge Analytica adalah lembaga konsultan publik yang bekerja dengan tim kampanye Donald Trump pada Pilpres AS 2016. Perusahaan itu terungkap menggunakan data privat puluhan juta pengguna Facebook tanpa izin dan tanpa sepengetahuan para pemilik akun untuk kampanyenya.
Peristiwa itu membuat Facebook menjadi sorotan dunia, termasuk para pembuat kebijakan. Pekan depan, dia akan memberikan keterangan di depan Kongres AS mengenai hal ini.[] Sumber: bisnis.com


