Karya: Taufik Sentana*

Fatanik yang berdasar atas keyakinan benar takkan menyasar ke fanatisme.
Fanatisme dalam apapun hanya berbuah
keangkuhan.

Fanatik adalah gairah yang terukur
cinta yang ditakar dan pandangan yang telah ditimbang dengan pengalaman.

Orang orang  menolak radikal, misalnya,
padahal, kampus kampus mengajarkan filsafat. Padahal, filsafat itu pintu berfikir ke akar, ke radikal. Tapi bukan radikalisme, ini bentuk yang lain. Demikian juga fanatisme.

Pada kondisi tertentu, fanatik diperlukan.
Fanatik untuk kemerdekaan bangsa, fanatik untuk urusan maslahah atau bahkan fanatik atas ajaran agama. walau mungkin, seseorang akan sulit sampai pada tipe ideal. Sikap ideal dan fanatik bisa bersebelahan.

Gigitlah ajaran ini dengan gerahammu, kata Baginda. Itu bukan kalimat kosong. Itu mengandung makna yang dalam dan menghunjam, kokoh. Fanatik hanyalah refleksi dari sikap yakin tertentu yang ditakar tanpa kebencian dan keangkuhan.[]

*Pegiat literasi sosial dan budaya.