Suatu ketika sepasang bawahan menghadap saya di kantor. Mereka memohon saya mau menandatangani pinjaman bank. Jumlahnya melebihi yang saya izinkan.
“Pak, bantulah kami, kalaupun gaji suami tinggal sedikit kan gaji saya masih utuh buat hidup kami,” kata si istri memelas sambil memandangi saya dan suaminya silih berganti.
“Buat apa uang sebanyak itu?” tanya saya
“Kami mau beli mobil, pak,” timpal si suami.
“Masya Allah, kalian ini bisa berhitung enggak, sih? Kredit 200 juta. Terus beli mobil cash (dengan uang tunai), dengan masa pinjaman 10 tahun, setelah lunas kredit itu jadi berapa. Terus harga jual mobil itu 10 tahun kemudian berapa?” tanya saya dengan sedikit marah.
Mereka diam sambil cengar cengir. Sepertinya mereka bersiteguh.
“Kalian lunasi 10 tahun jumlah jadi 420 juta. Paling harga mobil bekas itu 10 tahun kemudian 50 juta, coba rasionallah kalian,” tegas saya. Dan tetap tidak saya setujui.
Sahabat!!!
Kita terkadang kehilangan rasional. Sebabnya ingin memiliki kemewahan. Yang secara kebutuhan real tidak kita perlukan. Terkadang kita lebih memilih rugi besar demi sebuah prestise.
Merasa berada di kelas tertentu, dan kemudian menciptakan ilusi standar. Kita sendiri kemudian menaikkan standar hidup. Menambah kepemilikan kebendaan. Bahkan menguras keuangan kita.
Bahkan, terkadang ingin menjadi manusia baru. Mencerabut diri dari mana kita berasal. Membenci, menjauhi hingga menghilangkan jejak siapa kita di masa lalu.
Saat begitu, kita pasti tidak rasional. Logika-logika kita menjadi tumpul. Ditutup oleh keinginan naik kelas. Hanya ingin menunjukkan eksistensi. Ingin terlihat tampil mewah. Sebagai identitas kita telah sukses.
Padahal, sesungguhnya kita sedang menyiksa diri. Kini dan seterusnya. Hidup dengan pola itu hanya melahirkan fatamorgana. Kita seperti sedang mengejar kaki langit.[]





