Oleh: Andi Srak*
Pertama dengar lagu ‘Aisyah Istri Rasulullah’ di akun facebooknya Bang Hendra Budian, anggota DPR Aceh pada 4 April 2020. Beliau memetik gitar live bersama istri. Kemudian saya ke Youtube, wow, video cover-nya yang trending sampai 14 video.
Setelah mengamati lirik dan meresapi syahdunya ala ‘cover’ para Youtuber milineal Indonesia, saya berkeyakinan lagu ini perlahan akan mendapat cover dengan lirik tandingan dan komentar beragam.
Dikomentari pro-kontra, kan, biasa? Tidak.
Disengaja atau tidak oleh Youtuber Malaysia bernama Hasbi Haji Muh Ali alias Mr. Bie, penulis lirik pertama, dalam lagu ini terkandung pesan gerakan kesetaraan gender (feminisme posmodern). Bagi mereka, liyan (the other) merupakan kondisi yang lebih dari sekadar pada inferioritas dan ketertindasan, juga ada pada cara berada, berpikir, berbicara, keterbukaan, pluralitas, diversitas, dan perbedaan (Arivia, 153).
Narasi tentang kondisi dan perbedaan istimewa yang dimiliki perempuan adalah bagian gerakan feminisme untuk mengubah simbol bahasa yang bersifat maskulin. Dalam lagu-lagu religi jarang sekali didapati narasi-narasi tentang keistimewaan perempuan, karena itulah lagu “Aisyah istri Rasulullah” versi lirik Mr. Bie menjadi istimewa dan terkesan menantang ‘keadaan’.
Tak perlu lama, tantangan “feminisme posmodern” Mr. Bie ini dibalas oleh Yusuf Subhan. Di akun Youtubenya, beliau menulis di deskripsi, “Berawal dari Petunjuk Guru kami yang Mulia Buya Yahya agar sebagian Sya'ir ttg Ibunda Aisyah digubah beberapa Bait nya. Tanpa mengurangi rasa ta'dzim dan hormat kepada pembuat Syair sebelumnya.”
Akan tetapi, di akun Youtube Irma Nurfa, ia memberi judul lagu cover Yusuf Subhan ini, “VIRAL!! Lirik Lagu Sayyidah Aisyah istri Rasulullah lebih sopan! Arahan sang guru Buya Yahya.” Di deskripsi dia menulis, “Namun ternyata banyak syair yg harus dibenahi, berbicara siti Aisyah bukan hanya perihal ciri fisiknya. Tapi yg harus kita tauladani adalah sifat dan akhlaknya.”
Dan “lebih sopan” menjadi kalimat andalan netizen yang menunjukkan sikap kontranya atas lirik versi Mr. Bie.
Padahal kalau dibandingkan antarlirik justru Mr. Bie lebih jujur, ekspresif dan sesuai dengan hadis. Misal menarasikan panggilan Rasul kepada Aisyah ra., “humaira”:
“Mulia indah cantik berseri
Kulit putih bersih merahnya pipimu
Dia Aisyah putri Abu Bakar
Istri Rasulullah”.
Kalau bait ini yang dianggap kurang sopan, lantas, kurang sopankah Rasulullah? Tidak, kan!
Inilah yang disebut dengan maskulinitas sebagai sebuah kontruksi sosial ‘kelakian’ yang ingin diubah oleh kelompok feminisme. Maskulinitas (disebut juga kejantanan atau kedewasaan) adalah sejumlah atribut, perilaku, dan peran yang terkait dengan anak laki-laki dan pria dewasa. Ciri-ciri yang melekat pada istilah maskulin adalah keberanian, kemandirian dan ketegasan.
Begini lirik gubahan Yusuf Subhan:
“Mulia berani lembut hati
Amat cerdas ilmu seluas samudera
Ya sayyidah putri Abu Bakar
Istri Rasulullah”
Kita boleh saja tidak sepakat dengan feminisme posmodern, tapi jangan karena keawaman kita, kita menunjukkan maskulinitas kita tanpa arah. Pakai dalil, ‘Yang penting’. Bahkan menuding kurang sopan tanpa mendalami dan melakukan kajian.
Kita harus mengapresiasi Mr. Bie, dia menggubah lirik ‘Aisyah’ dari Projector Band menjadi informasi dakwah. Dia mengangkat kemuliaan, kegigihan, kesabaran dan kesetaraan perempuan dalam Islam. Lebih lagi dalam soal cinta dan mencintai.
“Sungguh sweet Nabi mencintamu
Hingga Nabi minum di bekas bibirmu
Bila marah, Nabi kan memanja
Aisyah..
Romantisnya cintamu dengan Nabi
Dengan Baginda kau pernah main lari-lari
Selalu bersama hingga ujung nyawa
Kau di samping Rasulullah”
Sayang kalau banyak perempuan yang tidak mampu menangkap pesan dalam lagu ini. Padahal lagu ini adalah inspirasi bagi kita semua dalam hal relasi dan membangun komunikasi dalam rumah tangga. Juga sangat baik untuk menekan angka KDRT oleh suami (ayah).[]
*Penulis adalah anggota Komunitas Demokrasi Aceh Utara.







