Setelah kemeja kotak kotak

kini saatnya kemeja putih naik pentas

menjadi simbol baru politik, walau ramai yang menyoal politik identitas,

tapi identitas diperlukan dalam tindakan.

Jadi jangan pisahkan lagi identitas dan politik.

 

Dalam mazhab yang percaya pada pencitraan, kemeja putih hanya konsep citra, yang mungkin akan menguap di belakang istana. 

Dalam makna aslinya, kemeja putih mengisyaratkan niat baik dan kemurnian, tapi siapa yang akan kuat mempertahankan keputihannya dalam kerja kerja yang kotor?

Pada dimensi kreatif, kemeja putih sebagai lambang statis, stagnan dan miskin kreativitas. Ia mudah didominasi oleh unsur di luar dirinya. 

Namun, baiknya, setitik saja ada kotor dan cela akan segera tampak di permukaan.

Filosofi kemeja putih bisa dibawa kemana saja dan dimaknai dengan ragam perspektif. 

Tapi dalam praktik umum dan bahasa komunal, simbol putih telah menjadi khas pada nilai Islam, sebagaimana hijau yang juga menjadi warna kesukaan Nabi.

Kita anggap saja dalam wacana niat baik guna memurnikan niat terhadap mayoritas umat di Indonesia. 

Agar tampak bersahabat dan bersaudara, 

dengan catatan kecil: 

asal jangan hanya menjadi kamuflase dalam kerja yang berbeda.[]

Penulis: Taufik Sentana

Peminat sastra sufistik