Minggu, Juli 21, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaFiqh Kuburan: Azan...

Fiqh Kuburan: Azan Disunnahkan di Kuburan? (II)

SAAT jenazah ingin dikuburkan, ada sebagian masyarakat yang melakukan azan dan sebagian lagi menyebutkan itu perkara yang tidak disyariatkan. Problematika dan polemik semacam ini sering terjadi dalam masyarakat. Namun kita harus menyikapi dengan arif dan bijaksana dengan kapasitas ilmu terhadap persolaan semacam ini. Azan di kuburan dapat diklasifikasikan kepada tiga pendapat ulama.

Pertama, mereka yang menyebutkan sunan azan ketika dimasukkan dalam kubur, dengan alasan diqiyaskan saat seorang bayi lahir diazankan, maka disunnahkan azan ketika mereka masukkan dalam kubur.”… dengan orang yang menishbatkan azan karena meng-qiyas-kan meninggal dunia dengan lahir ke dunia.” (kitab Ianah at-Thalibin:I:230). Kedua, tidak disunnahkan azan ketika jenazah dimasukkan dalam kubur, bahkan Ibnu Hajar menolak pendapat yang menyebutkan disunnahkan azan,  ?”Ketahuilah bahwasanya tidak disunnahkan azan ketika masuk kubur, berbeda dengan orang yang menishbatkan azan karena meng-qiyas-kan meninggal dunia dengan lahir ke dunia. Ibnu Hajar berpendapat: “Saya menolak pendapat ini dalam kitab Syarah al'Ubab. Tetapi ketika jenazah diturunkan ke dalam kubur bersamaan dengan dikumandangkannya adzan maka jenazah tersebut diringankan dari pertanyaan kubur”. (kitab Ianah at-Thalibin:I:230).

Memperkuat argumen di atas telah disebutkan juga demikian dalam kitab Al-Bajuri hal 161, jilid 1 dan kitab Iqna: 2 halaman 284.

Ketiga, pendapat ini melihat kepada kearifan lokal, tidak melarang dan tidak menganjurkan, apabila masyarakat di suatu daerah telah membudaya demikian, sebagian ulama tidak melarangnya, begitu juga sebaliknya saat masyarakat ketika jenazah dikuburkan tidak mengazankannya, ada ulama  tidak menyuruhnya.

Merujuk kepada pendapat yang kuat, azan tidak disunnahkan ketika jenazah diturunkan ke kuburan dengan melihat ibarat dalam kitab Tuhfatul Muhtaj, bahwa  telah ditolak (di radd) pendapat yang menyebutkan disunnahkan azan ketika di kuburkan:  ”Dan sesungguhnya adzan dan iqamah ada digunakan untukk shalat….. Memang betul demikian, tetapi kadang bisa digunakan untuk selain shalat, seperti untuk mengadzani anak yang baru lahir, orang yang bingung, pingsan, sedang marah, jelek kelakuannya baik dari manusia atau dari hewan, juga biasa dilakukan ketika berkecamuk perang, ketika kebakaran, dan menurut sebagian ulama demikian juga ketika menurunkan mayat ke lubang lahat disamakan kepada waktu dilahirkan biasa diadzani, tapi qiyas ini di dalam kitab Al 'ubad diralat kembali, dan disunahkan kembali ketika mengamuknya jin, karena ada hadits shaheh yang menerangkan” (Kitab Tuhfatul Muhtaz:1:461 )

Memperkuat argumen di atas Syekh Ibnu Hajar Al-Haitamy (wafat tahun 974 H) dalam ibarat kitab lainnya juga mematahkan analogi yang menyebutkan sunnah azan ketika dikuburkan. Dengan alasan beliau kemukakan bahwa mengqiaskan akhir hidup (dimasukkan jenazah dalam kubur)  dengan awalnya hidup (azan saat dilahirkan manusia) merupakan dua perkara yang tidak dapat disamakan  (Syekh Ibnu Hajar, Kitab Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra :2:24)

Walaupun demikian hemat al-faqir (penulis) untuk lebih menjaga kearifan lokal pendapat yang ketiga lebih diprioritaskan untuk menghindari mafsadah (kerugian) yang berefek negatif dan terjadinya pertikaian dalam masyarakat.

Namun pencerahan tentang masalah ini dengan pendapat yang kuat dalam halaqah ilmupun harus terus ditingkatkan. Termasuk problema dan fenomena hukum Islam lainnya yang aktual dalam masyarakat walaupun “hukum kebijakan” tidak harus ditinggalkan selama dalam batas syariat dengan berbagai pertimbangan.[] Wallahu ‘alam Bishawab

Baca juga: