Senin, Juli 22, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaNewsFoto Anak Presiden...

Foto Anak Presiden yang Tengah Menyusui Picu Debat tentang Seksualitas

SEBUAH foto anak perempuan termuda presiden Kyrgyzstan yang menggunakan pakaian dalam dan menyusui bayinya telah memicu debat mengenai masalah menyusui dan seksualitas.

Aliya Shagieva mengunggah foto di media sosial pada April lalu dengan tulisan di bawah foto :'Saya akan memberinya makan, kapanpun dan di manapun dia butuh makan.'

Dia kemudian mencabut unggahannya setelah dituding memiliki perilaku tidak bermoral, tetapi dalam wawancara eksklusif dengan BBC, dia mengatakan perdebatan itu menunjukkan adanya budaya hiperseksual terhadap tubuh perempuan.

“Saya diberi tubuh yang tidak vulgar. Ini fungsional, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan psikologi bayi saya, bukan untuk seksualitas,” kata dia kepada BBC Kyrgyzstan.

Bukan hanya pengguna media sosial yang tidak setuju. Orangtuanya, Presiden Almazbek Atambayev dan istrinya Raisa, juga tidak senang.

“Mereka benar-benar tidak menyukainya. Dan ini sangat dipahami karena generasi yang lebih muda tidak terlalu konservatif seperti orangtua mereka,” kata Shagiev, yang ditemui di kediamannya di pinggiran ibukota Kyrgyzstan, Bishkek.

Shagieva aktif di media sosial, termasuk mengunggah karya seni dan foto dirinya dan suami serta bayinya yang ditampilkan secara hati-hati, seringkali dengan latar belakang pemandangan.

Menyusui merupakan tema yang berulang.

“Ketika saya menyusui anak saya, saya merasa harus memberikan yang terbaik untuk dirinya sedapat mungkin. Merawat bayi dan memenuhi kebutuhannya lebih penting bagi saya dibandingkan apa yang orang katakan mengenai saya,” kata Shagieva.

Siapakah Aliya Shagieva?

Saya mewawancarai Aliya Shagieva di flatnya yang terletak di distrik bergengsi di Bishkek bersama dengan suami dan anaknya.

Gambar dan fotonya digantung di dinding dan pasangan itu menawarkan buah dan teh herbal. Tanaman herbal tumbuh di pot-pot di kusen jendela; pasangan ini merupakan vegetarian, yang jarang dilakukan penduduk di negara pemakan daging ini.

Dalam konteks masyarakat tradisional Muslim pascaSoviet, Aliya Shagieva sangat berani dan berbeda. Dia sangat terbuka, membagikan pengalamannya dimasa kecil yang kesepian karena orangtua yang sibuk.

Dia berbicara mengenai kesenjangan generasi dan upayanya untuk memahami dan berkompromi dengan orangtuanya, paling tidak mengenai aktivitasnya di media sosial. “Ibu saya menerima pesan dari 'teman-teman'nya mengenai saya,” kata dia. “Sekarang saya sendiri merupakan seorang ibu, saya mengetahui apa yang ibu saya alami dalam membesarkan saya.”

Aliya merupakan pendukung aktif anak-anak penyandang Downs syndromedan hak binatang, tetapi jelas tidak memiliki ambisi politik.

Orang-orang di Kyrgyzstan memiliki ingatan mengenai anak-anak dua presiden sebelumnya yang terlibat dalam politik dan bisnis – kedua pemimpin itu digulingkan. Tetapi pemimpin yang saat ini telah berjanji anak-anaknya tidak akan terjun ke politik.

 

Ketika BBC dalam berbagai bahasa menyiarkan wawancara dengan Aliya Shagieva, memicu perbincangan online. Hasilnya menunjukkan bahwa adanya perbedaan budaya dan praktik menyusui di negara-negara Muslim.

Perempuan dari Iran membagikan pengalaman mereka mengenai tekanan yang mereka rasakan ketika menyusui di ruang publik.

“Orang-orang menatap saya dari dekat, saya harus menutupi diri saya dan bayi atau membiarkannya lapar,” kata seorang ibu di Teheran.

Perempuan lainnya memuji dibangunnya ruang ibu dan anak di Stasiun MetroTeheran.

Seorang perempuan dari Kabul, Afghanistan, Zarifa Ghafari, membagikan kisah dari keluarga besarnya, yang mengatakan ibu-ibu harus pergi ke ruangan tersendiri untuk menyusui:

“Dia tidak dapat melakukannya di depan yang lain. Jika dia melakukannya dia akan menghadapi reaksi keras dari anggota keluarga yang lebih tua. Ini merupakan sebuah isu yang besar, tetapi secara perlahan ada perubahan budaya.”

Perempuan Afghan lain, Nageen bercerita tentang pengalamannya belanja bersama dengan ipar perempuannya.

“Kami terpaksa harus membeli sejumlah hadiah jadi dia dapat menyusui bayinya di sebuah toko. Dia duduk di sana dan menutupi dirinya dengan sebuah selendang yang besar.”

Seorang pengguna Facebook di Turki mengatakan, dia sendiri memilih untuk menutupi payudaranya ketika menyusui bayinya. “Saya tidak melakukannya di depan orang. Saya menggunakan penutup. Banyak orang yang masih terangsang dengan payudara.”

Victoria Tahmasebi, seorang perempuan dan ahli studi gender di Universitas Toronto menuliu cuitan: “Dari sudut pandang kapitalis payudara perempuan dapat menghasilkan keuntungan sepanjang mereka diseksualisasi. Menyusui di depan publik membuat payudara perempuan kurang seksi, karena itu tidak dapat diterima.”

Ketika foto Aliya Shagieva memicu debat – dia akhirnya mencabutnya karena orangtuanya khawatir terhadap sorotan “yang dapat membahayakan keluarga muda itu.” Tetapi itu tidak menghentikannya untuk berbicara, dan itu tidak menghentikan perdebatan.[]Sumber:BBC

Baca juga: