Derita Ruhamah, 60 tahun, warga Gampong Tanjong Geulumpang, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara seolah tiada akhir. Ia memiliki suami dan anak yang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Bahkan anaknya Fauzi Murtala, 27 tahun, terpaksa dirantai di kebun belakang rumah karena sering mengamuk dan memukul anggota keluarganya.
Selama ini, Ruhamah menjadi tulang punggung keluarganya dengan menjadi buruh tani. Uang yang didapat hanya cukup untuk makan, sehingga ia tidak mampu merehab rumahnya. Bagian dapur rumahnya kini sudah roboh, dengan kamar mandi yang hanya berbatas daun kelapa tua.
Baca: “Meunyoe Hana Tarante, Jipoh Teuh”
Pantauan portalsatu.com/, lantai rumah masih tanah pekat beralas terpal hitam. Tidak ada satu pun perangkat elektronik di dalam rumah, baik itu televisi, penanak nasi atau pun penggiling bumbu dapur (blender). Satu-satunya peralatan modern hanya kompor gas yang baru dibelinya beberapa waktu lalu.
“Biasa jih loen magun ngen kaye, tapi Nyoe musem uneun, kaye bulut. Na Peng ata loen peusapat bacut-bacut, loen bloe kompor gas, nyan pih gah meuhai (Biasanya saya memasak dengan kayu, tapi sekarang musim hujan, kayu basah. Ada uang yang saya kumpulkan sedikit demi sedikit, saya beli kompor gas, itu pun gas mahal),” kata Ruhamah, Minggu, 7 Januari 2018 sore. []


