Bagi masyarakat sekitar, Pelabuhan Malahayati adalah tempat wisata. Mereka terhibur atau kadang terganggu oleh peluit kapal-kapal yang berlabuh atau menjelang berangkat. 

Perairan selepas dermaganya yang dalam disukai ikan aneka ragam yang oleh para nelayan dan pemancing dijadikan tangkapan seru dan makanan enak. Mereka memancing kala sore dan malam. 

Pemandangan indah dan udara sejuk di sana mengundang orang di sekitar, termasuk dari Kota Banda Aceh ke sana untuk sekedar berangin-angin dan berfoto waktu sore.

Namun, menurut laman pelindo1.co.id, tempat ini bernama Pelabuhan Malahayati, terletak di teluk Krueng Raya pantai utara Aceh, secara administratif pelabuhan ini berada di Kabupaten Aceh Besar berjarak 32.5 km dari Banda Aceh ibu kota propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Status Pelabuhan yaitu Pelabuhan Umum yang diusahakan, Terbuka untuk perdagangan luar negeri, Status Wajib pandu, Kelas Pelabuhan adalah Pelabuhan Kelas III di lingkungan PT Pelabuhan Indonesia I (Persero).

Selain itu, para sejarawan mengatakan, Pelabuhan Malahayati ini telah hidup sejak masa silam. Diyakini, di masa Kesultanan Aceh Darusslam, Pelabuhan Malahayati paling sibuk di Asia Tenggara. Di masa itu, ada ratusan kapal dari berbagai wilayah dan negara berlabuh dan melepas sauh di sini.[]