BANDA ACEH – Front Revolusioner Muda Aceh turut menyikapi pernyataan Menteri Dalam Negeri Tjahyo Kumolo soal ancaman pemangkasan perda yang dinilai bertentangan dengan UU dan dinilai berpotensi melanggar HAM. (Baca: Mendagri Kembalikan 139 Perda Bermasalah ke Pemda)

Mendagri mencontohkan, ada perda yang mengatur kalau ada seorang perempuan sendirian di luar rumah di atas jam 10 malam maka akan ditangkap. Lalu ada juga perda yang mewajibkan semua perempuan memakai jilbab. Padahal tidak semua warganya beragama Islam.

“Mendagri sudah gila membatasi soal aturan jilbab karena pada dasarnya kita sebagai umat Islam tidak boleh ikut aturan Tjahyo Kumolo, kita sudah ada dasar Alquran dan Hadist , saya merasa aturan yang dibuatpun sudah sesuai dengan syari’at. Jadi jangan sekali-kali menghancurkan dan mengkotak-kotakan rakyat, kita sudah lama ditindas jangan sampai pusat sewenang-wenang dengan kita,” kata Koordinator Front Revolusioner Muda Aceh Iqbal Faraby melalui siaran pers yang diterima portalsatu.com pada Rabu malam, 24 Februari 2016.

Iqbal juga menantang DPR Aceh untuk mengambil sikap terkait hal itu.

“Saya menantang DPRA untuk melawan kebijakan Mendagri jika aturan ini benar-benar dipangkas, Aceh tidak boleh dibatasi soal penegakan Syari’at islam, tidak ada kata yang melanggar Hak Asasi Manusia karena HAM juga ada batasan aturan, dan Syariat Islam harus dijalankan secara kaffah di Aceh jangan cilet-cilet,” ujar mantan Ketua BEM Unmuha periode 2014-2015 itu.

Tanggapan serupa juga disampaikan Koordinator Aliansi Mahasiswa Aceh, Zulfikar. Ia mengatakan, jilbab merupakan identitas wanita muslim di seluruh dunia.

“Mendagri  jangan semena-mena terhadap hukum syari’at di Aceh, jika ia berani memangkas aturan jilbab bearti sama halnya mengajak perang dengan masyarakat Aceh,” kata Zulfikar.

Mengamini pernyataan Iqbal, Zulfikar juga meminta DPR Aceh bersikap tegas atas pernyataan mendagri, karena hal ini menyangkut masalah syariat, kekhususan dan harga diri masyarakat aceh.

“Mendagri bek gadoh peugah haba lam teuget Sabe,” kata mahasiswa Fakultas Ekonomi Serambi Mekkah ini.[](ihn)