Oleh: Mursalin*
MUNCULNYA wacana baru dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Muhajir Effendi mengundang respons yang sangat cepat dari berbagai kalangan, mulai dari pakar pendidikan, anggota DPR, pejabat daerah, kepala sekolah, guru, orang tua hingga siswa sendiri. Ada yang pro terhadap wacana tersebut, dan ada juga yang kontra dengan berbagai argumen masing-masing.
Wacana memberlakukan sekolah seharian mulai pukul 07.00 pagi hingga pukul 17.00 sore untuk jenjang SD dan SMP dengan dalih agar para siswa dapat terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif dan kegiatan kontraproduktif, seperti penyalahgunaan narkoba, tawuran, dan sebagainya. Selain itu, alasan Pak Menteri juga mengatakan dengan penerapan full day school dapat membantu orang tua dalam membimbing anak tanpa mengurangi hak anak. Setelah bekerja, para orang tua dapat menjemput buah hati mereka di sekolah. Dengan sistem ini juga, orang tua tidak khawatir atas keamanan anak-anaknya karena mereka tetap berada di bawah bimbingan guru selama orangtuanya berada di tempat kerja.
Berangkat dari respons berbagai kalangan, dan kajian penulis terhadap komentar-komentar, di sini penulis menyikapi wacana full day school atau sekolah seharian dari berbagai sisi. Mudah-mudahan dapat menjadi masukan bagi kita bersama sebelum wacana ini dilaksanakan.
Dari Berbagai Sisi
Mengubah tradisi yang sudah berjalan selama berpuluhan tahun, di mana sekolah pergi pagi dan pulang siang menjadi sekolah seharian adalah hal yang paling sulit. Pada prinsipnya ide wacana penerapan full day school untuk jenjang SD dan SMP menurut hemat penulis perlu dikaji kembali dari berbagai sisi, baik kelebihan, kekurangan, dan dampak sosial yang diakibatkan oleh perubahan sistem tersebut.
Pertama, ditinjau dari sisi geografis daerah. Seperti tradisi kesibukan daerah perkotaan berbeda jauh dengan tradisi daerah perdesaan. Kesibukan orang tua di daerah perkotaan adalah para orang tua sibuk bekerja, sehingga waktu untuk bersama anak sulit dirasakan. Belum lagi, ibu sebagai wanita karir, anak anak hanya bertemu dengan ibunya di waktu pagi bersama-sama berangkat ke tempat masing-masing. Ibu berangkat kerja, anak berangkat sekolah, anak pulang siang, ibu pulang mendekati malam. Sehingga anak-anak hanya sendirian di rumah tanpa kontrol orang tua. Berangkat dari kondisi yang seperti ini, maka wacana full day school cocok diterapkan.
Namun, bagaimana untuk daerah perdesaan, daerah terpencil, daerah terluar dan perbatasan (daerah 3T). Untuk daerah 3T para orang tua biasanya bertani, nelayan, ataupun berwirausaha. Seringkali anak-anak jam selesai pulang sekolah, mereka diajak membantu orang tua, baik di sawah, kebun, atau tempat ayahnya berwirausaha, dan adapula yang melakukan aktivitas lain, seperti pergi mengaji di mesjid atau balai pengajian sebagaimana lazim terjadi di Aceh.
Kedua, elemen paling penting dalam dunia pendidikan adalah sarana dan prasarana sekolah. Diakui memang, upaya pemenuhan sarana prasarana untuk sekolah-sekolah daerah 3T sampai saat ini masih belum maksimal, karena ini berkaitan dengan ketersediaan dana yang besar untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Masalah ini belum selesai, sudah muncul ide lain, wacana full day school yang otomatis memerlukan suasana sekolah yang menyenangkan agar anak-anak betah di sekolah. Jika sekolah belum bisa hadir sebagai tempat yang menyenangkan bagi anak, maka wacana ini tidak layak. Toh, kalaupun dipaksakan, maka dapat dipastikan akan membuat siswa terkungkung dalam kondisi stres, dan depresi.
Ketiga, ketersediaan, ketercukupan tenaga pengajar menjadi hal yang tidak luput dari kajian full day school. Mengapa demikian? Karena guru menjadi faktor penting dalam belajar, suasana belajar adalah perannya guru, bagaimana menghidupkan suasana dalam kelas yang nyaman dan kondusif. Guru juga sebagai seorang manusia yang tentu perlu menyiapkan energi, stamina untuk setiap harinya dalam rangka memenuhi tugas rutin harian sebagai seorang pengajar, dan ini berimplikasi pada banyaknya jam mengajar yang dapat diampu guru jika full day diterapkan. Beban tugas seharian akan membebani guru, begitu pula staf administrasi, dan karyawan sekolah.
Keempat, faktor yang tidak kalah penting adalah anak-anak. Dengan bersekolah sepanjang hari anak-anak akan terkungkung, tidak ada lagi rasa keceriaan di sana, yang timbul rasa jenuh, muak dan mereka pun tidak bisa lagi menjalani kehidupan riil di masyarakat. Jika anak-anak dipaksakan dengan materi pelajaran dalam seharian, itu artinya membuat anak-anak boring (membosankan) dan justru jadi kontra produktif terhadap dunia pendidikan. Anak-anak perlu waktu bermain, bersosialisasi tanpa harus dijejali dengan pola-pola pembelajaran yang selalu serius. Mereka perlu waktu santai untuk menyegarkan pikiran, agar dapat mengikuti pendidikan pada hari-hari berikutnya.
Full Day School Ala Pesantren
Jika pun Pak Menteri bersikukuh ingin menerapkan sistem baru full day school, penulis menawarkan solusi, seyogyanya sekolah di-setting dengan satu atap, yang di dalamnya terdapat asrama penginapan, atau fasilitas lain dengan setting kurikulum yang mendukung atau bisa mencontoh full day school ala pesantren.
Dalam kompleks sekolah terdapat fasilitas-fasilitas yang mendukung, seperti kelengkapan gedung, ruang belajar, perpustakaan, asrama, taman yang asri hingga kantin siswa dan kantin guru. Jika ini terpenuhi semua, maka sekolah full day ala pesantren sangat cocok diterapkan di negeri ini.
Sekolah terpadu ala pesantren sudah lama diterapkan dan terbukti masih ampuh mengimplementasikan full day school, bahkan long life education. Output dari sekolah ala pesantren pun teruji karakternya di tengah-tengah masyarakat. Jika tidak ingin dikatakan berlebihan, saya merasa paradigma masyarakat Indonesia, Aceh khususnya, lebih cenderung menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah terpadu, yang di dalamnya terdapat pesantren daripada sekolah-sekolah yang tidak ada pesantren. Dalam kurikulum sekolah terpadu ala pesantren, pagi anak-anak sekolah sampai siang, dan mulai pukul 14.00 siang anak-anak mengikuti pendidikan agama.
Sesuai ungkapan orang Aceh, jak sikula tuntut dunia, jak beut tuntut akhirat, jak sikula dan jak beut, dua-dua jih na (pergi sekolah menuntut dunia, pergi mengaji menunut akhirat, , pergi sekolah dan mengaji, dua-duanya ada). Artinya, pendidikan bagi orang Aceh tidak dapat dikotomikan antara pendidikan dunia (sekolah) dan pendidikan akhirat (agama) adalah dua hal yang saling berjalan bergandengan tangan.
Maka wajar, kalau orang tua zaman dulu mengatakan, bek kajak sikula jeut keu kafee (jangan pergi sekolah, jadi kafir). Itulah kenapa, ungkapan ini muncul karena saat zaman Belanda, pendidikan akhirat dipisahkan dari pendidkan dunia. Relevansi full day school ala pesantren sesuai dengan konteks Aceh dewasa ini. Di mana pendidikan sekolah ala pesantren lahir di berbagai daerah di Aceh. Sebut saja, seperti pondok pesantren Dayah Jamiah di Batee Ileik, di dayah tersebut menerapkan full day school ala pesantren. Pagi anak-anak mengaji di balai, siangnya mereka masuk sekolah.
Jika full day school ala pesantren ini diterapkan, maka para orang tua tidak lagi memikirkan antar jemput, karena mereka sudah dipondokkan di asrama. Model sekolah seperti ini menjadi langkah alternatif untuk meminimalisir kenakalan remaja, tawuran, dan lain sebagainya. Pembentukan karakter di sekolah ala pesantren akan maksimal sebagaimana yang diharapkan oleh Bapak Presiden dalam visi dan misi Nawacitanya. Karena pendidikan ala pesantren dapat menjadi model pendidikan kekinian. Semoga!
*Mursalin, S.Pd., M.Pd, Dosen Tetap Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Malikussaleh (UNIMAL), dan Pengurus pada Organisasi Gerakan Pendidikan Paya Bakong Peujaroe, Aceh Utara.







