Sabtu, Juli 20, 2024

Peringati Haul Abati Banda...

LHOKSEUMAWE - Ratusan jamaah Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi'i Aceh menggelar pawai akbar dalam...

Pj. Bupati Aceh Utara...

ACEH UTARA - Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menyerahkan bantuan masa panik secara simbolis...

Sekum PB PON Wilayah...

BANDA ACEH – Progres pembangunan beberapa venue untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI...

PT PIM Bantu Korban...

ACEH UTARA - PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) menyerahkan bantuan kepada korban badai...
BerandaNewsGafatar Diikuti Karena...

Gafatar Diikuti Karena Pengaruh Teori Relativisme Kebenaran

Oleh Teuku Zulkhairi, MA

Terkait ormas Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) membawa misi kesesatan karena dalam ajarannya menggabungkan berbagai ajaran agama di dunia. Kita berharap peran ekstra lembaga pendidikandi Aceh untuk melakukan  penguatan akidah kepada para peserta didik. Baik di sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi umum dan Islam. Jika penguatan akidah berlangsung secara baik di lembaga pendidikan, insya Allah tidak ada peserta didik atau alumnusnya yang terpengaruh paham Gafatar.

Sejauh analisa kami, keyakinan pengikut Gafatar tentang kebenaran semua agama ini lahir dari teori relativitas kebenaran yang dikembangkan salah satunya oleh kaum pluralis dengan Jaringan Islam Liberalnya, serta gerakan Freemason lainnya yang ingin merusak semua agama-agama dunia. Teori relativitas ini mengajarkan bahwa semua agama adalah benar, Islam benar, Yahudi benar, Kristen benar, semua benar, tidak ada yang salah.

Dan teori relativitas kebenaran ini kalau kita mau jujur hanyalah teori yang ujung-ujungnya adalah untuk persiapan menyambut keluarnya Dajjal di akhir zaman, seperti yang dijelaskan dalam banyak hadis kuat.

Ujung dari teori relativitas kebenaran adalah munculnya keragu-raguan  terhadap kebenaran ajaran Islam hingga pada deklarasi keluar (murtad) dari Islam, yang salah satu bukti terbaru yang kita lihat adalah keberanian pengikut Gafatar untuk berterus terang bahwa mereka telah keluar dari ajaran Islam. Pengakuan ini tentu saja lahir dari keragu-raguan panjang yang sistematis di bawah pengaruh teori relativitas kebenaran yang dalam konteks lain oleh kaum pluralis dan jaringan Islam liberal disebut dengan istilah “pluralisme agama”.

Bedanya, Gafatar telah langsung action di lapangan membangun gerakan besar serta memutuskan telah keluar dari Islam, sedangkan Jaringan Islam Liberal (JIL) hanya “dapur” ideologi tersebut dimana para pengusung paham Islam Liberal ini tetap mau disebut sebagai Islam. Bukti terhadap hal ini misalnya kita bisa lihat dari ideologi para penyokong JIL ini di website mereka (yang sudah disamarkan beberapa waktu lalu) serta sejumlah buku-buku mereka yang bisa kita baca.

 Jadi, Gafatar sudah melangkah ke tujuan dengan menjadi pelaku di lapangan, sementara JIL hanya provokator pemikiran yang mempengaruhi orang lain untuk meyakini semua agama benar.

Bahkan, lebih lanjut, sebenarnya paham “kebenaran semua agama” seperti ini penuh dengan propaganda Dajjal yang dalam banyak hadis Nabi Muhammad Saw disebut bahwa keluarnya dajjal akan menjadi fitnah (tantangan/cobaan) paling besar bagi umat Islam di akhir zaman. Penggabungan semua agama ini adalah upaya sistematis untuk pada akhirnya mengakui dajjal sebagai tuhan, meskipun para pengikutnya tidak atau belum paham. Diceritakan dalam banyak hadis, bahwa Dajjal di akhir zaman pasca kemunculannya akan menasbihkan dirinya sebagai “tuhan”. 

Diceritakan juga dalam hadis bahwa dajjal juga memiliki kekuatan yang super seperti bisa menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman, menghidupkan orang yang mati sehingga hatta di Madinah sekalipun akan ada kaum munafik yang akan ikut Dajjal. Maka kemudian Rasulullah saw misalnya mengajarkan kita salah satunya untuk hafal dan terus mengulang-ulang 10 ayat pertama dari Surat Al-Kahfi agar terhindar dari fitnah dajjal.  

Dengan begitu kuatnya serangan pemikiran dari teori relativitas kebenaran ini, maka bagi mahasiswa atau dosen yang tidak memiliki dasar pengetahuan Islam yang memadai, teori ini akan mudah sekali mempengaruhi mereka di tengah kondisi dunia yang penuh dengan persoalan kemanusiaan. Di hadapan realitas problem dunia ini, mereka ingin menjadi pahlawan kesiangan yang ingin berperan sebagai juru damai antar agama. Padahal, menjadi juru damai antar agama dengan meyakini kebenaran semua agama adalah cara yang salah.

Sebab, ajaran Islam, disamping mengajarkan bahwa hanya Islam agama yang benar, Seperti yang tertulis dalam Alquran Surat Ali Imran ayat 85 yang berbunyi: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” Selain itu, pada saat yang sama juga mengajarkan toleransi dalam beragama yang bisa kita baca dalam kitab-kitab fiqh yang ditulis para ulama. Hal-hal seperti ini yang seharusnya sejak dini dibekali kepada peserta didik sehingga kelak mereka akan memiliki bekal yang cukup dalam menghadapi berbagai serbuan pemikiran yang menggoncangkan keimanan.

Oleh sebab itu, maka kita membutuhkan peran lembaga pendidikan yang seharusnya bisa masuk secara sempurna dalam penguatan akidah. Peserta didik harus diajarkan rukun iman dan rukun Islam secara sempurna, baik syarat sahnya maupun hal-hal yang membatalkan iman dan Islam.

Misalnya, rukun Islam yang pertama adalahmengucap dua kalimah syahadat, bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Swt, dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad Saw adalah Rasul Allah. Dari sini, seharusnya bisa memperjelas bahwa siapa saja yang jika tidak meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, maka telah keluar dari rukun Islam.  Jadi garis demarkasi antara Islam dan atau di lluar Islam itu sangat jelas, tinggal kembali ke rukun Iman dan rukun Islam. Wallahu a’lam bishshawab.

Teuku Zulkhairi, MA, Sekretaris Pengurus Besar Persatuan Dayah (PB) Inshafuddin dan juga Sekjend Badan Koordinasi Mubaligh Indonesia (BAKOMUBIN) Provinsi Aceh.

Baca juga: