Jumat, Juli 19, 2024

Lebih 170 Bangunan Rusak...

ACEH UTARA - Sebanyak 173 bangunan dilaporkan rusak akibat diterjang badai (hujan deras...

Inilah Struktur Lengkap Kepengurusan...

BANDA ACEH - Ketua Umum Majelis Syuriah Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh...

Samsul Azhar Dilantik sebagai...

BANDA ACEH - Pj. Gubernur Aceh, Bustami Hamzah, melantik Samsul Azhar sebagai Pj....

Ini Kata Camat Tanah...

ACEH UTARA - Pemerintah sedang melakukan pendataan bangunan yang rusak akibat diterjang badai...
BerandaNewsCerita ‘Busung Lapar’...

Cerita ‘Busung Lapar’ Dalam ‘Gubuk Derita’ di Batee Leusong

RUMAH panggung itu terkurung dalam kebun pinang di Dusun Batee Leusong, Gampong Seumirah, Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara. Hanya ada jalan setapak akses menuju rumah yang terasing itu. Rumah berkonstruksi kayu sudah lapuk itu terlihat agak miring. “Inilah rumah warga miskin yang saya maksud tadi,” ujar Teungku Hasanuddin, Geuchik Seumirah kepada saya saat menginjakkan kaki di halaman sebelah barat rumah itu, Kamis, 4 Februari 2016.

Di halaman depan rumah itu ada sekitar 20 biji coklat (kakao) dijemur di atas sebuah karung bekas beras. Ada pula geuleupak u dan kayu yang sudah dibelah-belah. Beberapa potongan kayu ukuran kecil belum dibelah dan sebuah kapak tergeletak di kolong rumah itu.

Rumah itu ditopang dengan dua kayu penyangga pada dinding sebelah timur. Sebuah bantal kumal (lusuh) menyembul dari celah-celah terali jendela sebelah timur rumah. Tiba-tiba terdengar tangisan bayi dari dalam rumah. Tak lama kemudian muncul dua bocah di mulut pintu rumah itu.

Rumah itu, menurut Geuchik Hasanuddin, dihuni Abubakar M. Isin, 60 tahun, bersama istrinya, Ti Hawa, 32 tahun, dan enam anaknya. Sejatinya pasangan suami istri itu memiliki tujuh anak, namun seorang di antaranya sudah meninggal dunia. Dari enam anak pasutri itu, kini yang paling besar atau sisulung sedang sekolah tingkat SMP dan sibungsu usianya baru dua bulan lebih.

“Suami saya pergi jual pisang ke pasar,” ujar Ti Hawa dari dalam rumah ketika Geuchik Hasanuddin menanyakan suaminya. “Suami saya biasanya pulang agak sore. Kalau cepat terjual pisang tentu cepat pulang. Itu pekerjaan beliau, membeli pisang dari orang kampung untuk dijual lagi ke pedagang di pasar. Modal beli pisang uang orang,” kata Ti Hawa yang mengaku tadinya sedang memberi ASI (air susu ibu) kepada bayinya, dan kini ia keluar dari dalam rumah.

***

Saya bersama tiga jurnalis media televisi nasional datang ke rumah Abubakar/Ti Hawa setelah menerima informasi dari Geuchik Hasanuddin saat kami mengunjungi Gampong Seumirah itu. Kata Hasanuddin, ada seorang bocah dari keluarga miskin di Dusun Batee Lusong yang kondisinya memprihatinkan. “Sekitar lima hari lalu kita dapat info, salah satu anaknya (anak dari Abubakar-Ti Hawa) sakit. Butuh perhatian,” ujarnya.

Anak itu adalah Fakhrul Ula. Usianya, menurut Ti Hawa, dua tahun lebih. Perut bocah itu mengembung sejak dua bulan lalu. “Tepat dua bulan delapan hari setelah saya melahirkan bayi (adik dari Fakhrul Ula), tiba-tiba perut Fakhrul Ula mengembung dan membesar seperti ini. Kadang-kadang dia menangis saat merasa sakit.”

“Awalnya dia sakit perut, lalu mencret, habis itu perutnya sudah kek gini, sudah sekitar dua bulan. Sudah saya bawa ke puskesmas, katanya (tenaga medis) harus rujuk ke Lhokseumawe. Tapi uang tidak ada, tunggu kapan-kapan nanti kalau sudah ada (uang) baru bawa ke Lhokseumawe,” ujar Ti Hawa.

Ti Hawa melanjutkan, anaknya itu makan tak menentu. “Kadang banyak, kadang sikit,” katanya. “Tidak punya uang,” ujar perempuan kurus itu saat ditanya apakah ia ada memberi susu kepada anaknya.

Anak itu perutnya mengembung, menurut Geuchik Hasanuddin, diduga akibat busung lapar. Kata dia, “Itu dugaan kita sementara, karena keluarga miskin ini makanan sehari-harinya sangat kurang”.

Kekurangan makanan, benarkah?

Saya lantas masuk ke rumah Ti Hawa dan langsung menuju ke ruangan dapur. Mata saya menyapu setiap sudut ruangan itu yang lantai dan dindingnya bolong-bolong. Atapnya setali tiga uang. Ruangan dapur agak gelap, hanya ada cahaya matahari yang menerobos masuk dari celah-celah dinding berkonstruksi kayu sudah lapuk.

“Tidak ada listrik, ya,” tanya saya setelah melihat tidak ada bola lampu dan kabel listrik di ruangan itu.

Ti Hawa menjawab, “Tidak ada. Panyot yang na. Tapi cuma dinyalakan malam hari”.

Saya kemudian melihat tempat memasak di ruangan dapur itu. Ti Hawa menggunakan kayu bakar. “Tidak sanggup beli. Kebetulan ada kayu di sekitar rumah (untuk kayu bakar),” kata dia saat saya tanya mengapa tidak memakai gas elpiji 3 kilogram.

“Nasinya mana. Apakah anak-anak Kak Ti Hawa sudah makan siang,” saya bertanya lagi.

“Sudah, beberapa saat lalu,” ujar Ti Hawa. 

Saya kemudian membuka kanot bu (periuk nasi); kosong, tidak ada sisa nasi. Lalu, saya buka tutup wajan (tempat menggoreng ikan); juga kosong melompong. Mata saya kembali mencari-cari sesuatu, dan menemukan ikan dalam situek (pelepah pohon pinang) berisi ikan disangkut di bawah atap dapur terbuat dari daun rumbia yang sudah bocor.

Nyan eungkot masen (itu ikan asin),” ujar Ti Hawa ketika saya menanyakan jenis ikan dalam situek itu.

“Beras di mana,” tanya saya lagi setelah 'susah payah' mencari-cari dan gagal menemukan bahan kebutuhan pokok itu.

Na inan lam lungkiek nyan. Ka peuleumah siat, Nyak  (ada di situ di sudut dapur. Tolong tunjukkan sebentar, Nak),” Ti Hawa memerintahkah salah satu anaknya yang masih memakai seragam sekolah.

Bocah itu sekonyong-konyong mengambil sebuah karung beras dalam kondisi meupunjoet lam lungkiek dapu. Ia lantas menyerahkan karung beras itu kepada saya. Ketika saya buka karung itu, breuh tinggai bak punggong eumpang (berasnya tersisa di bagian dasar karung).

“Cuma ini berasnya,” saya bertanya dengan suara agak bergetar. Tangan saya yang menggenggam karung beras pun terasa bergetar tatkala saya melanjutkan pertanyaan, “(Beras) tersisa sekitar dua genggaman saja?”

“Ya, cuma itu saja,” ujar Ti Hawa yang kemudian memberi ASI untuk bayinya yang tiba-tiba menangis. “Itu sisa beras yang dibeli suami saya kemarin. Biasanya, kami beli beras sehari si are (satu bambu), sekitar 1,5 kilo,” katanya.

“Untuk makan (nasi) besok,” saya bertanya lagi.

“Mungkin kalau ada rezeki suami saya, nanti saat pulang beli (beras) satu bambu lagi,” ujar Ti Hawa yang masih memberi ASI untuk bayinya.

Dari ruangan dapur saya kemudian mengamati ruangan tamu rumah itu, walaupun tadinya sudah saya lihat sekilas saat menuju dapur. “Hanya ada satu kamar tidur, ya,” tanya saya, dan Ti Hawa mengangguk.

Kamar tidur Ti Hawa dan suaminya tampak seperti kapal pecah; berantakan! Sejumlah pakaian dijemur pada tali yang diikat antardinding kamar itu. Sementara sejumlah pakaian lainnya berserakan di lantai. Dalam kamar itu ada sebuah kasur sudah kempes dan kusam. “Anak-anak tidur di sini (ruangan tamu),” katanya.

Ruang tamu kondisinya sama persis seperti kamar tidur; berantakan dan agak gelap lantaran tidak ada listrik. Di ruangan tamu ada dua tikar anyaman yang sudah lusuh dan bagian sudutnya tidak utuh lagi. Tepat di sudut bagian timur ruangan itu ada pula sebuah lemari yang kondisinya tidak layak pakai lagi; salah satu daun pintunya sudah hancur. Saat saya minta bantuan salah seorang anak Ti Hawa untuk membuka lemari itu, isinya tumpukan pakaian dan beberapa Alquran.

Ti Hawa menyebut rumah yang ia tempati itu peninggalan orang tuanya. Ia dan suaminya tidak mampu merehabilitasi rumah yang nyaris roboh itu, apalagi membangun rumah baru. Maklum, kata dia, penghasilan suaminya pas-pasan hasil beli jual pisang.

“Saya juga berusaha kerja meski tak menentu. Kadang-kadang tueng upah pluek pineung gob (menjadi buruh mengupas pinang milik orang lain). Paling-paling dapat 30 ribu sehari, mana cukup (untuk kebutuhan sehari-hari), sebab tidak setiap hari, kerja musiman,” ujar Ti Hawa.

Geuchik Hasanuddin menyebut Abubakar/Ti Hawa salah satu keluarga sangat miskin yang membutuhkan perhatian pemerintah. “Kita terus upayakan agar keluarga ini dapat perhatian dari pemerintah,” katanya.

Disinggung tentang rumah kaum dhuafa atau rumah-rumah lainnya yang tidak layak huni, Hasanuddin mengatakan, “Di Seumirah sekitar 100-an rumah masih ada yang memang layak dibangun oleh pemerintah. Sudah kita usulkan minimal harus ada sekitar delapan rumah yang dibangun, karena di gampong ini ada delapan dusun. Jadi minimal per-dusun satu rumah, tapi satu pun tidak ada realisasi sampai sekarang”.

Geuchik Hasanuddin dan rakyatnya hanya sebatas mendengar selama ini Pemerintah Aceh memiliki uang berlimpah; belasan triliun tiap tahun. Begitu pula APBK Aceh Utara yang mencapai Rp2 triliun lebih. Akan tetapi, sebagaimana data dirilis BPS, angka kemiskinan di Aceh hingga kini melambung tinggi di atas rata-rata nasional. Salah satu keluarga miskin adalah Abubakar/Ti Hawa di Batee Leusong, Seumirah.

***

Sebagai pemimpin gampong, Hasanuddin menyatakan, ia akan berkoordinasi dengan tenaga medis yang ditugaskan pemerintah di gampong itu untuk menangani anak Ti Hawa yang diduga busung lapar.  

“Kita akan koordinasi dengan bides (bidan desa) agar informasi tentang kondisi salah satu anak Ti Hawa diteruskan ke puskesmas dan ditangani sebagaimana mestinya. Info awal sejenis penyakit busung lapar karena perutnya kembung,” ujar Hasanuddin.

Di sela-sela saya melanjutkan wawancara dengan Ti Hawa, Hasanuddin sempat menanyakan kepada perempuan itu; apakah ada diberikan obat untuk anaknya itu. Ti Hawa menjawab, “Hana lon teujeut bi ubat beurangkaho. Lon boh minyeuk kayee puteh (saya tidak berani memberikan obat sembarangan. Saya oleskan minyak kayu putih saja di perutnya).

Ketika saya dan jurnalis lainnya memotret (mengambil gambar) beberapa sudut ruangan rumah Ti Hawa—sebelum kami berpamitan, tiba-tiba salah seorang abang kandung dari Fakhrul Ula menangis. Walau Ti Hawa mencoba menenangkannya, namun anak itu terus menangis terisak.  Sambil menangis, anak itu kemudian berucap, “Bek foto, bek foto (jangan diambil foto)”.

Ti Hawa lantas menyatakan, “Dia itu takut dengan kilatan cahaya foto (kamera), karena dulu saat masih seusia adiknya ini, dia juga di-foto oleh orang lain setelah diduga busung lapar. Mungkin sekarang dia masih trauma, karena waktu itu pernah disebut oleh kawan-kawannya dia busung lapar”.[]

Baca juga: