BANDA ACEH – Pelukis Aceh, Nourman Hidayat, angkat bicara tentang gambar Cut Meutia yang tengah diributkan.
Nourman mengatakan, pejuang-Peking di Aceh menjadi terhormat karena mereka menerapkan syariat. Perintahnya dipatuhi, bicaranya didengar, perkataannya dipercaya, sikapnya diikuti. Jika mereka lalukan hal-hal yang melanggar, maka itu menjadi aib yang akan tertolak di masyarakat.
“Sejak dulu Aceh sensitif terhadap hal-hal berbau syariat. Masalah aurat misalnya, jika seorang pejuang mengumbar aurat, maka dia tidak mendapatkan kehormatan dalam sejarah. Ini berlaku sampai sekarang. Seorang pemimpin yang abai pada standar terendah syariah, maka mereka keluar dari kepercayaan masyarakat,” kata Nourman dalam siaran persnya, Kamis, 22 Desember 2016.
Jikapun namanya disebut dalam sejarah, katanya, tokoh pejuang yang abai terhadap perintah agama seperti tidak berhijab, maka dia dikenal sebagai tokoh bermasalah. Dikenang bukan untuk diteladani.
“Lazimnya lukisan sejarah yang dikenal sekarang dan tersimpan di benak kita sejak kecil dulu, Cut Nyak Dhien digambarkan menggunakan konde, dan tanpa hijab sama sekali,” katanya.
Menurutnya, kita akan menemukan minimal dua versi wajah Cut Nyak Dhien dalam lukisan sejarah, keduanya tidak identik dan membingungkan karena dua-duanya tidak ada dalam foto sejarah.
“Anda percaya yang mana di antara keduanya? Faktanya, dua-duanya adalah ilustrasi yang tidak ada dasarnya. Masyarakat Aceh menolaknya,” kata Nourman yang juga advokat dan kini tengah melakukan observasi terhadap Cut Nyak Dhien. .
Ia mengatakan, sejak lama bangsa Indonesia diributkan oleh manipulasi sejarah. Banyak ahli sejarah jujur yang akan bersaksi tentang kepahlawanan Aceh dalam versi berbeda daripada gambar pada pecahan lembaran uang baru versi rezim Jokowi.
“Saya membayangkan, pelukis sejarah pahlawan Aceh selama ini 'ngarang imajinatif', dan untuk gambar pada lembaran uang baru ini hanya imajinatif saja. Sebuah penghinaan serius oleh pemerintah. Wajar rakyat Aceh bereaksi. Apa dikira Aceh tak menghormati pemimpinnya?”
Proses penerbitan uang baru ini juga menunjukkan kontroversi, baik proses cetak maupun penentuan pahlawan nasional yang tampil dalam mata uang baru.
Dalam sejarah Indonesia yang diduga sering manipulatif, kata Nourman, rezim Jokowi diduga melakukan manipulasi yang paling vulgar dan mengganggu kebhinekaan.
Sebagaimana dikabarkan sebelumnya, Nuorman Hidayat adalah pelukis sejarah Aceh, advokat Aceh, juga Ketua Humas DPW PKS Aceh. Beberapa waktu lalu ikut dalam pameran dan kritik karya rupa (PAKRIKARU) di Museum Aceh. Nama Nourman sebagai pelukis mulai dikenal publik saat menampilkan lukisan Hasan Tiro dan Abdullah Syafii pada pameran itu yang dinilai lukisan termahal di Aceh.
Nourman juga ikut melelang lukisan ulama kharismatik Aceh Abu Tumin untuk membantu pengungsi korban gempa Pidie Jaya.
Saat ini Nourman sudah enam bulan melakukan observasi terhadap sejarah Cut Nyak Dhien untuk meluruskan sejarahnya melalui sebuah lukisan.[] (*sar)





