Pang Nanggroe dijuluki oleh Belanda sebagai Napoleon Aceh. Siasat dan taktik perangnya banyak menewaskan pasukan Belanda. Ia sangat disegani kawan dan lawannya.
Pada 20 September 1910 Pang Nanggroe suami ketiga Cut Meutia syahid dalam perang. Pang Nanggroe merupakan panglima perang yang cerdik. Ia berhasil menjalankan taktik perang modern. Banyak pasukan Belanda yang tewas karenanya.
Karena kecerdikannya dalam berperang dengan siasat dan taktik yang tak diduga-duga, Pemerintah Kolonial Belanda menjuluki Pang Nanggroe sebagai Napoleon Aceh. Syahidnya Pang Nanggroe bermula ketika pasukan Belanda Van Slooten melakukan patroli ke kawasan Paya Cicem.
Baca Juga: Kisah Remaja Aceh Membunuh Controleur Belanda
Patroli pasukan Belanda yang sudah lama mengintai pergerakan pasukan Aceh itu, terlibat perang dengan pasukan Pang Nanggroe. Dalam perang sengit itu Pang Nanggroe tertembak dari jarak 200 meter, hingga ia syahid.
Sebelum meninggal ia menyampaikan wasiat kepada anak tirinya, Teuku Raja Sabi untuk melarikan diri. “Plueng laju…, jak seutot ma..lon ka mate, (lekas lari susul ibumu, saya akan meninggal)”. Cut Meutia dan anaknya Teuku Raja Sabi selamat dari pertempuran tersebut.
Raja Sabi merupakan anak Cut Meutia dari suami keduanya Teungku Chik Di Tunong. Sebelum Teungku Chik Di Tunong syahid dieksekusi tembak mati di Pantai Lhokseumawe oleh Belanda, ia berwasiat agar Cut Meutia menikah dengan Pang Nanggroe.
Meski Pang Nanggroe telah syahid, Cut Meutia tidak menyerah pada Belanda, ia terus menggelorakan perjuangan melawan Belanda. Ia dan pasukannya begerak ke daerah Gayo untuk bergabung dengan pasukan Aceh di sana yang masih terus berperang melawan Belanda.[]
Baca Juga: Kisah Tragis Letnan Kolonel Scheepens Dihamok Uleebalang Titue




