Oleh Taufik Sentana
(“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu ialah yang paling bertakwa”) Alquran.
Di antara cara yang paling baik mengenal Aceh adalah lewat sejarahnya. Hampir setiap periode sejarah tentang Aceh akan selalu ada goresan tinta emas di nuansanya. Pada era sebelum Islam, disebutkan bahwa Aceh terikat dengan keyakinan Hindu-Budha, Islampun datang sekitar awal abad ketujuh atau kesebelas Masehi dan mewarnai kebudayaan Islam nusantara. Bahkan Aceh sempat bergabung dalam sistem khilafah Utsmani Turki, di mana sumber daya Aceh saat itu termasuk yang terkuat di Asia dan sangat diperhitungkan oleh Eropa.
Sejarah Watak Orang Aceh
Dari masa pergulatan kemerdekaan, sejak ancaman Portugis hingga Belanda dan Jepang, selalu meninggalkan kesan heroik, intelek dan beradab serta daya tawar yang kuat. Demikian juga hal-ihwal jasanya untuk Indonesia, tidak hanya jasa materiil tapi juga moril. Moril dalam arti bahwa banyak sekali rujukan yang diambil dari Aceh, dari terjemahan awal Quran ke bahasa Melayu, pola penerapan syariat Islam, pemerintahan sendiri, konversi bank Aceh ke syariah, hingga kisah damai RI-GAM pun menjadi rujukan peneliti.
Potongan latar belakang sejarah di atas bisa disebut juga sebagai latar dari sejarah watak orang Aceh. Tentu ini tidak mewakili Aceh secara umum, tetapi menjadi bagian dari warna yang tampak untuk dijadikan perspektif dalam tulisan kecil ini.
Nalar Politik yang Paling Murni
Hampir kesemua peran penting Aceh yang dipandang dunia, dipengaruhi oleh sistem sosial yang terintegrasi dalam keputusan politik. Keputusan yang melibatkan semangat, tokoh berpengaruh, kepentingan umum atau kebaikan ummat, musyawarah dan solidaritas. Inilah gaya nalar politik orang Aceh yang murni.
Artinya watak awal sikap politis orang Aceh adalah mengambil makna kepengurusan ummat, siyasatul-ummah. Kini dijabarkan dalam qanun Aceh sebagai politik yang mengadopsi nama Siyasah Syari'iyah.
Orang Aceh sangat terdorong dalam konsep perbaikan sosial, yang merupakan bagian dari cita agama Islam. Intensnya sikap berpolitik orang Aceh, dari bentuk yang sederhana seperti daya tutur yang tinggi, suka mengobrol hingga banyaknya rumpun suku di Aceh menandakan berkembangnya nalar politik orang Aceh. Dimana rumpun suku tersebut memiliki hirarki dan pola interaksi tersendiri yang tak lepas dari unsur politis.
Dalam pandangan Ibnu Khaldun, keterikatan rasa dalam sistem sosial masyarakat tertentu akan mewarnai sikap hidup mereka. Keterikatan itu, bisa muncul dari kelompok-kelompok kecil atau berdasarkan kesepakatan dan pengaruh pemerintahan yang diakui bersama. Upaya memberikan pengaruh untuk mencapai tujuan tertentu ini dapat dikatakan sebagai bagian dari berpolitik. Sehingga kentalnya interaksi politis yang dialami orang Aceh membentuk wataknya yang berani, lugas, berargumen dan ego ingin menang (baca:daya tawar) hatta ingin mendirikan negara sendiri.
Realitasnya Sekarang?
Pada era dimana pusat informasi (pengaruh) ada dalam sosok tokoh yang diakui secara kolektif, (ulama, raja, tokoh adat dan semacamnya) serta minimnya akses ke dunia luar, maka sangat mudah mengonsolidasikan segala kepentingan yang dianggap layak diperjuangkan secara bersama. Realitas positif tersebut tampak dalam rentang peran Aceh yang telah kita ketahui bersama.
Masalahnya, bagaimana memadukan kondisi zaman yang berbeda tadi dengan zaman yang kita jalani sekarang ini, guna mengembalikan citra politik orang Aceh yang murni, beradab dan memberikan dampak bagi perbaikan sosial?[]
Taufik Sentana
Peminat kajian sosial-budaya.
Bergiat di MTs Harapan Bangsa, SMP Islam Terpadu Teuku Umar dan Ikatan Da'i Indonesia. Menetap di Meulaboh.





