AZAN menggema mengalun indah, para ibu rumah tangga terus pulang pergi silih berganti. Ikan-ikan segar berjejer di atas meja, kendaraan-kendaraan yang melaju dihenti di gerbang kemudian sebentar pun pergi.
Masjid itu dinamakan Al-Muttaqin yang berfungsi sebagai naungan bagi yang bersujud ketika waktu shalat tiba. Warna hijau menyejukkan mata bagi siapa yang pergi ke Pasar Peunayong. Gedung hijau yang berbentuk campuran timur tengah dan Aceh itu, ashar, Rabu, 9 Mei 2018 ini semakin terlihat anggun di tengah Pasar Rakyat Peunayong, Banda Aceh.
Bulan suci Ramadan lima hari lagi, petang ini Pasar Rakyat Peunayong masih terlihat sepi, pengunjung melintas sebentar dan terus berganti.
Di gerbang sebelah selatan seorang petugas selalu siap menertibkan kendaraan para pengunjung yang datang. Seribu Rupiah pun harus dikeluarkan ketika melintasi gerbang pasar itu.
Di gerbang sebelah utara, di beton bangunan itu tercatat nama pembangunnya, oleh Pemerintah Kota Banda Aceh, Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi. Gerbang sempit itu dengan sendirinya menjadi penting bagi siapa saja yang ke sana. Di sana juga seorang pemuda dengan setia bertugas menertipkan kendaraan para pembeli.
Di dekat sebuah jembatan Peunayong, berdirilah dua baris gedung berlantai dua membentang di antara segaris sisi kiri-kanan jalannya yang sederhana. Dari jembatan itu jika kita melihat ke arah Selatan maka terlihatlah menara Masjid Baiturrahman yang indah di segaris lurus ke depan lewat riak arus sungai Krueng Aceh yang mengalir tenang.
Pasar ini berada di arus lalu lintas yang padat. Di empat arah mata angin ia dilingkup oleh kepadatan perputaran laju arus manusia yang pulang pergi dari berbagai aktifitas. Jika dari sana kita pergi ke utara maka kita akan sampai ke Lampulo, di sungai, menepi puluhan boat-boat nelayan atau penumpang yang ingin ke Pulo Breueh pada pagi dan siang.
Di barisan sebelah kanan dari selatan, sebarisan gedung ruko bewarna biru dua lantai terlihat mungil dan kokoh. Di pasar Peunayong petang ini, hanya terlihat hanya beberapa orang saja yang terlihat berjalan di antara pedagang-pedagang kaki lima.
Di sana para pedagang buah salak terlihat selang-seling di antara para penjual perkakas peralatan dapur dan alat-alat pertanian.
Pedagang ikan ramai terlihat sibuk melayani masyarakat yang mencari ikan untuk persiapan makan malam keluarganya. Di sana mereka dinaung oleh atap lantai dua yang sepi ditinggalkan dari fungsi.
“Di lantai dua hanya dipakai sebagai gudang tempat menyimpan sayur-sayuran atau barang dagangan lainnya,” kata salah seorang lelaki penjual tape, kepada portalsatu.com/, di dekat gerbang selatan.
Suasana di lantai II pasar tersebut terlihat sepi dan kurang perawatan oleh petugas kebersihan. Satu atau dua orang di sana sedang terlihat merebahkan diri melepas lelah.
Di dekat tangga, seorang wanita sedang duduk di belakang barang dagangannya. Di atas meja itu terlihat puluhan beulangong tanoh (kuali), capah atau cuprek, ulok-ulok (golek-golek), dan lainnya terlihat sangat menarik dan indah. Barang-barang itu adalah peralatan dapur klasik yang terbuat dari jenis kayu-kayu dan tanah liat yang dibakar atau tembikar, semuanya barang dagangan tersebut didominasi warna cokelat.
Di sisi sudut pasar lainnya, seorang pedagang kaki lima wanita yang berketurunan Tiongkok separuh baya berada di balik barang-barang dagangannya, rempah-rempah dan alat masak terletak di atas mejanya dalam bungkusan kecil-kecil.
Lelaki- lelaki berwajah Aceh dengan sayur-sayuran dagangannya juga terlihat sibuk melayani pembeli yang datang. Di ruang pasar ikan, ikan-ikan besar dan segar telah disediakan para penjual dengan berbagai jenis untuk memenuhi kebutuhan pembeli.
Pasar Peunayong, pasar rakyat, yang di sana bisa didapatkan ikan-ikan segar, sayuran, sebagai pelengkap menu kebutuhan keluarga.[]
Penulis: Jamaluddin



