PEMANFAATAN Pemanfaatan teknologi media dalam pembelajaran sudah menjadi hal yang lumrah pada zaman sekarang. Mulai dari menggunakan internet untuk mencari bahan baca, mengetik laporan atau tugas pada microsoft word, mencatat materi pelajaran melalui smartphone atau laptop, sampai aplikasi bimbingan belajar online.

Pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi dianggap membantu memudahkan siswa dalam belajar, namun tanpa disadari pemanfaatan teknologi dalam belajar juga memiliki dampak negatif bagi si pembelajar. Ketika siswa belajar menggunakan smartphone atau laptop mungkin saja mereka terikat dengan aktivitas penggunaan gadget yang berlebihan tergantung niat dan aturan yang ada (Hembrooke & Gay, 2003).

Penelitian psikologi dan media komunikasi bertahun-tahun menunjukkan bahwa kemampuan kita untuk mengerahkan performa terbaik kita untuk melakukan suatu tugas sebenarnya memiliki keterbatasan (dalam Hembrooke & Gay, 2003).

Penggunaan smartphone atau laptop dapat mengganggu siswa dalam pembelajaran diakibatkan oleh perilaku yang multitasking. Multitasking adalah melakukan lebih dari satu tugas dalam waktu yang bersamaan (Wood, dkk., 2012).

Ketika siswa belajar mereka tidak hanya mengerjakan tugas yang diberikan guru/dosen namun mereka juga melakukan kegiatan lainnya seperti browsing, membuka pesan atau email, membuka media sosial dan lain sebagainya.

Menurut Pratiwi (2017) terdapat delapan dampak buruk yang terjadi akibat multitasking, yakni mengurangi produktivitas, kinerja melambat, kesalahan kerja, menyebabkan stress, kehilangan momen kehidupan, kehilangan detil penting dalam kehidupan, dan dapat merusak hubungan interpersonal dengan orang dekat. \

Situs bacaterus.com menambahkan saat melakukan multitasking, proses pemahaman akan menurun, mengganggu emosi, dan mengakibatkan stress. Melakukan multitasking juga menyebabkan perhatian kita akan tugas terbagi menjadi porsi-porsi yang lebih kecil. Kita tidak lagi fokus untuk menyelesaikan tugas namun kita fokus untuk “berganti tugas”.

Saat melakukan multitasking informasi yang kita dapatkan akan susah diteruskan pada penyimpanan memori jangka panjang, sehingga informasi tidak akan bertahan lama dalam ingatan.

Broadbent (dalam Hembrooke & Gay, 2003) mengajukan teori atensi selektif yang menjelaskan ketika kita mendapatkan informasi yang terlalu banyak maka informasi itu akan disaring dan informasi yang tidak diperlukan akan dibuang. Kappan (2012) dalam tulisannya menjelaskan bahwa jumlah area aktivitas otak ketika melakukan dua tugas terlihat lebih sekidit dibandingkan dengan jumlah aktivitas otak ketika menggerjakan satu tugas.

Pola dari gelombang otak juga terlihat sedikit berbeda, ketika individu diminta untuk menyelesaikan satu tugas pada satu waktu dengan ketika individu diminta untuk menyelesaikan dua tugas dalam satu waktu secara bergantian. Terjadi pengurangan aktivitas otak saat melakukan multitasking bersama terjadinya pengurangan kemampuan short term learning dan keakurasian tugas.

Terdapat dua cara yang dapat dilakukan untuk menghindari multitasking. Yang pertama adalah fokus. Usahakan untuk hanya mengerjakan satu tugas dalam satu waktu. Jauhkan smartphone dan semua hal yang dapat mengganggu fokus.

Yang kedua adalah membuat jadwal atau time table berdasarkan prioritas tugas. Buatlah jadwal jam berapa anda harus mengerjakan tugas 1, tugas 2, dan seterusnya, dan jangan lupa jadwalkan pula waktu untuk beristirahat dan bersantai.

Kemampuan multitasking sering dianggap sebagai sebuah kemampuan yang harus dimiliki dan multitasking adalah hal yang lumrah pada zaman teknologi saat ini. Multitasking ternyata memiliki dampak negatif bagi siswa, oleh karenanya sebaiknya siswa tidak melakukan multitasking dalam belajar.

Penulis: Yoselin Aulia, mahasiswa jurusan psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kkuala.