BANDA ACEH – Geliat pengusaha asal Aceh di negeri jiran semakin menggurita beberapa tahun terakhir. Warga asal Serambi Makkah memusatkan aktivitas perniagaan di Chowkit, salah satu kawasan perdagangan di Kuala Lumpur, Malaysia.

Mereka merambah dunia usaha mulai dari gerai, penjualan obat herbal, bengkel, dan lainnya. Berjejaring, kolektif, dan saling membahu baik dari sisi dana dan lainnya membuat para peniaga asal Aceh berjaya.

Seorang warga Aceh bernama Asnawi Ali, yang menyebut Malaysia sebagai kampung kedua, mengatakan kedatangan warga Aceh ke negeri itu telah dimulai sejak 80an. Kegigihan telah membuahkan hasil.

Sejak saat itu, warga Aceh semakin banyak yang berkiprah di sektor perdagangan. Selain di Chowkit, peniaga asal Aceh dapat dengan mudah ditemukan di kawasan Kepong, Selayang, Gombak, Ampang, dan Sungai Buloh.

“Makin lama makin ramai dan berkembang. Sehingga ada rencana membuat koperasi yang bekerja sama dengan pemerintah Malaysia. Koperasi itu bernama Malaysia-Aceh Solidaritas Agama,” ujar Asnawi kepada portalsatu.com/, via pesan WhatsApp, Minggu, 7 Juli 2019.

Koperasi tersebut diresmikan pada 30 Juni lalu. Pemerintah setempat diwakili kemerian terkait hadir dalam peresmian yang melegitimasi kerja sama antara peniaga asal Aceh dengan Pemerintah Malaysia.

Sempat Dikritik

Bagai cendawan tumbuh selepas hujan,” begitulah sebuah media daring dari negeri jiran mengumpamakan betapa banyaknya peniaga asal Aceh di negeri itu. Hal ini tentu saja satire.

Peniaga asal Aceh disebut-sebut telah memonopoli sektor perdagangan atau di negeri itu disebut 'aktiviti peruncitan'. Kondisi ini dinilai menyebabkan para pedagang bumiputra tergeser.

Namun, bagi Asnawi, fenomena ini tak ubah hukum alam. Dengan perkataan lain, hukum 'survival of the fittest' berlaku dalam hal ini.

“Kalau merantau ke negeri orang, otomatis menjadi rajin. Sebab kalau kita tidak aktif, maka kita akan tampak papa. Tidak ada makanan. Ini sama seperti kejadian warga Malaysia yang cari kerja di Australia dan Singapura. Kalau di kampung sendiri terlihat pasif. Itu sudah menjadi sifat kita orang Asia,” ujar lelaki yang secara administrasi bertempat tinggal di Swedia itu.[]