Minggu, Juli 21, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaGempa Sulteng: Ini...

Gempa Sulteng: Ini Kata BNPB Soal Korban Jiwa, Pengungsi dan Bantuan Asing

SULAWESI – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI terus melakukan upaya pencarian korban yang tertimpa reruntuhan bangunan akibat gempa dan tsunami di Kota Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.

Data diterima portalsatu.com, Rabu, 3 Oktober 2018, sekitar pukul 19.03 WIB dari BNPB RI, korban meninggal dunia yang ditemukan sudah mencapai 1.407 orang.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, korban meninggal dunia per 3 Oktober 2018, sekitar pukul 13.00 WIB bertambah menjadi 1.407 orang, terdiri dari wilayah Kota Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong. Dari jumlah itu, sudah dimakamkan 519 jenazah. Korban meninggal dunia dilakukan identifikasi melalui DVI, face recognition dan sidik jari.

Sutopo melanjutkan, korban luka berat 2.549 orang dirawat di rumah sakit, korban hilang 113 orang (Pantoloan Induk 29 orang, Donggala 31 orang, Palu 4 orang, Ps. Wani 7 orang, Jl. Kijang 11 orang, Jl. Roja Moici 4 orang, Jl. Muh. Hatta 25 orang, Patung Kuda 1 orang, Kp. Nelayan 1 orang), dan korban tertimbun 152 orang.

“Pengungsi juga bertambah menjadi 70.821 jiwa yang tersebar di 141 titik. Rumah rusak 65.733 unit (belum diklasifikasikan rusak berat, sedang dan ringan atau RB/RS/RR),” ujar Sutopo.

Menurut dia, korban yang tertimbun di Petobo (Kabupaten Sigi) dan Balaroa (Kota Palu) belum dapat diperkirakan jumlahnya.

Soal koordinasi penerimaan bantuan asing, Sutopo menyebutkan, sampai Rabu terdapat 29 negara dan empat oraganisasi internasional yang menawarkan bantuan. Pertemuan menyortir beberapa bantuan dari 17 negara yang telah menyampaikan secara konkret bantuannya dengan menyesuaikan kebutuhan pemerintah yang sudah ditetapkan.

“Masukan Kemenkes RI kebutuhan field hospital, tenaga medis, obat-obatan, dan fogging tidak lagi menjadi prioritas kebutuhan internasional. Fokusnya saat ini air transportation, water treatment, generator, dan tent. Beberapa negara yang menawarkan tim SAR dan tenaga medis telah diputuskan untuk tidak difasilitasi,” ujar Sutopo.

Ia menjelaskan, pertemuan juga sepakat bahwa kebutuhan avtur bagi pesawat dukungan asing dapat ditanggung oleh negara pengirim selama digunakan di Indonesia. Menurut Sutopo, Balikpapan akan dijadikan entry point atau titik masuk bagi pesawat yang membawa bantuan internasional. 

Untuk dukungan keimigrasian di Balikpapan, Kalimantan Timur, juga telah disiapkan. Selain itu, kata Sutopo, juga disepakati menempatkan LO/posko di Balikpapan untuk menfasilitasi bantuan internasional. Posko secara berkala memberikan laporan kepada Menkopolhukam.

“Semua tawaran bantuan internasional dan jawaban resmi hasil assessment disampaikan secara tertulis melalui Kementerian Luar Negeri RI. Untuk jumlah pesawat C130 yang ditawarkan sampai hari Selasa, 2 Oktober 2018 yakni Negara Singapura 2 pesawat C130, Korea Selatan 2 pesawat C130, Inggris 1 pesawat C130, Jepang 2 pesawat C130 dan helikopter MI-17 (kapasitas maksimal Bandara Balikpapan hanya dapat menampung 7 pesawat),” kata Sutopo.

Sutopo menambahkan, juga disepakati bahwa bantuan dalam bentuk uang bisa diserahkan langsung kepada pemerintah melalui BNPB disesuaikan dengan peraturan berlaku.[](rel)

Baca juga: